Abah H. Dulhani, Penjaga Adat Cibarani Merawat Tradisi di Tengah Arus Zaman

Avatar photo

- Penulis

Minggu, 4 Januari 2026 - 19:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Abah H. Dulhani, Ketua Adat Cibarani Kabupaten Lebak, Banten, Minggu (4/1).

i

Foto: Abah H. Dulhani, Ketua Adat Cibarani Kabupaten Lebak, Banten, Minggu (4/1).

Ikuti kami di Google News

Terasmedia.co Lebak – Abah H. Dulhani (S.Sos) dikenal sebagai sosok sentral dalam menjaga keberlangsungan Kasepuhan Adat Cibarani, Kabupaten Lebak, Banten. Sebagai Ketua Adat, ia tidak hanya berperan sebagai pemimpin simbolik, tetapi juga sebagai penggerak nilai, penjaga hukum adat, serta penghubung harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Kasepuhan Adat Cibarani merupakan bagian dari Kasepuhan Banten Kidul yang hingga kini masih mempertahankan tata kehidupan adat secara turun-temurun. Wilayah adat ini mencakup hampir seluruh Desa Cibarani dengan luas kurang lebih 900 hektare, yang terdiri dari sepuluh kampung adat. Di wilayah inilah nilai-nilai kearifan lokal terus dijaga melalui pengelolaan alam, pertanian tradisional, serta pelaksanaan ritual adat.

“Adat itu bukan sekadar peninggalan masa lalu. Adat adalah jalan hidup yang diwariskan oleh karuhun untuk menjaga keseimbangan alam dan manusia,” ujar Abah H. Dulhani, Minggu (4/1/2026)

Dalam struktur adat Kasepuhan Cibarani, Ketua Adat memegang peranan penting dalam mengambil keputusan melalui mekanisme musyawarah mufakat. Setiap persoalan adat, mulai dari pengelolaan tanah, penyelesaian sengketa, hingga penetapan waktu ritual adat seperti Seren Taun, selalu diputuskan secara bersama-sama dengan para sesepuh dan pemangku adat.

“Kami tidak mengenal keputusan sepihak. Semua harus dimusyawarahkan, karena adat itu milik bersama, bukan milik satu orang,” katanya.

Abah H. Dulhani juga menegaskan bahwa adat Cibarani sangat menekankan hubungan spiritual dengan alam. Hutan adat dibagi dalam beberapa kategori, seperti leuweung kolot, leuweung titipan, dan leuweung tutupan, yang masing-masing memiliki aturan ketat dan tidak boleh dikelola secara sembarangan.

“Kalau hutan dirusak, sawah akan kering, sungai akan mati. Maka adat melarang keras merusak leuweung, karena di situlah sumber kehidupan,” tegasnya.

Dalam tradisi pertanian, masyarakat Kasepuhan Cibarani masih mempertahankan berbagai varietas padi lokal dan menjalankan ritual Melak Jampe sebelum menanam padi. Ritual tersebut diyakini sebagai bentuk permohonan keselamatan dan keberkahan hasil panen.

“Menanam padi itu bukan hanya soal hasil, tapi soal etika. Ada doa, ada tata cara, ada tanggung jawab kepada alam,” tutur Abah.

Selain sebagai pemimpin adat, Abah H. Dulhani juga aktif dalam bidang keagamaan dan sosial. Ia terlibat dalam berbagai organisasi keumatan dan kebudayaan, serta sering menjadi rujukan masyarakat dalam persoalan sosial, keagamaan, dan adat.

“Adat dan agama tidak boleh dipertentangkan. Keduanya harus saling menguatkan agar masyarakat hidup rukun dan berakhlak,” ujarnya.

Di tengah arus modernisasi, Abah H. Dulhani mengakui tantangan besar yang dihadapi masyarakat adat, khususnya dalam menjaga minat generasi muda terhadap tradisi leluhur. Namun demikian, ia tetap optimistis bahwa adat akan terus hidup selama diwariskan dengan keteladanan.

“Generasi muda harus dikenalkan adat bukan dengan paksaan, tapi dengan pemahaman. Kalau mereka tahu maknanya, mereka akan menjaga dengan kesadaran,” katanya.

Ia juga mengingatkan pentingnya pengakuan dan perlindungan terhadap masyarakat adat oleh negara, agar hak-hak adat tidak tergerus oleh kepentingan pembangunan yang mengabaikan kearifan lokal.

“Masyarakat adat bukan penghambat pembangunan. Justru kami menjaga alam agar pembangunan bisa berkelanjutan,” ucapnya.

Abah H. Dulhani menegaskan komitmennya untuk terus menjaga adat dan tanah leluhur Kasepuhan Cibarani.

“Selama adat masih dijaga, selama itu pula Cibarani akan tetap hidup. Amanat karuhun tidak boleh putus di tangan kami, karena adat adalah titipan untuk anak incu putu di masa depan,” pungkas Abah H. Dulhani.

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Matahukum Desak Kejaksaan Periksa Proyek Rehabilitasi Jalan Sunan Kalijaga Lebak dan Lakukan Audit Pengerjaan
Pemprov Banten Sosialisasikan Program Ketahanan Pangan di Lebak
Perjalanan 29 Tahun Berorganisasi, Ir Suhiluddin Lubis Terpilih Aklamasi Pimpin PAC Pemuda Pancasila Deli Tua
Jalan Cijinjuk Bertahun-tahun Rusak, Warga Pertanyakan Peran DPRD: “Setiap Hari Lewat, Mengapa Tak Kunjung Diperjuangkan?”
Ketum FBB: Pilpres 2024 Sudah Selesai, Jangan Terus Cari Jalan untuk Memanggung Isu
Tak Bernyali Berantas Judi Gelper, Kapolda Riau Diminta Evaluasi Jajaran Polres Pelalawan
Anak 16 Tahun di Lebak Diduga Jadi Korban Tindak Pidana Seksual, Polisi Turun Tangan
Bulog Lebak-Pandeglang: Bantuan Pangan Juli dan September Tuntas 100 Presen, Dua Hari Lebih Cepat
Berita ini 14 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 13 Oktober 2026 - 04:44 WIB

Matahukum Desak Kejaksaan Periksa Proyek Rehabilitasi Jalan Sunan Kalijaga Lebak dan Lakukan Audit Pengerjaan

Senin, 12 Oktober 2026 - 20:31 WIB

Pemprov Banten Sosialisasikan Program Ketahanan Pangan di Lebak

Minggu, 11 Oktober 2026 - 21:12 WIB

Perjalanan 29 Tahun Berorganisasi, Ir Suhiluddin Lubis Terpilih Aklamasi Pimpin PAC Pemuda Pancasila Deli Tua

Kamis, 8 Oktober 2026 - 21:47 WIB

Jalan Cijinjuk Bertahun-tahun Rusak, Warga Pertanyakan Peran DPRD: “Setiap Hari Lewat, Mengapa Tak Kunjung Diperjuangkan?”

Rabu, 7 Oktober 2026 - 19:34 WIB

Ketum FBB: Pilpres 2024 Sudah Selesai, Jangan Terus Cari Jalan untuk Memanggung Isu

Berita Terbaru