Seminar Nasional Konflik Iran-Israel-As, Bukan Hanya Perang Biasa dan Ideologi

Avatar photo

- Penulis

Sabtu, 11 April 2026 - 14:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ikuti kami di Google News

Terasmedia.co JAKARTA – Seminar Nasional konflik Iran–Israel–AS, Bukan Hanya Perang Biasa dan Ideologi ¥Program Doktor Ilmu Komunikasi Sekolah Pascasarjana Universitas Sahid menggelar Seminar Nasional Diskusi intelektual bertajuk “Apakah Kita Menuju Perang Besar Dunia? Membaca Konflik Iran-Israel-AS” pada Jumat (10/4/2026). Diskusi ini menghadirkan tiga pakar dari berbagai perspektif untuk membedah eskalasi konflik di Timur Tengah yang kian kompleks dari latar belakang yang saling melengkapi, yakni KH. Fathurahman Yahya sebagai analis geopolitik Timur Tengah/DIK-29, Didin Nasirudin (praktisi komunikasi strategis/DIK 35), dan Henry Sianipar (DIK 33) sebagai produser media nasional. Dipandu Mochammad Husni (DIK 31), Vice President Corporate Communication PT Astra Agro Lestari Tbk.

Diskusi geo politic yang dilakukan di Sekolah Pascasarjana Universitas Sahid, Sahid Sudirman Residence Lt. 5, Jl. Jend. Sudirman No. 86, Jakarta Pusat, diawali sambutan Kaprodi Program Doktor Ilmu Komunikasi Sekolah Pascasarjana Universitas Sahid, Dr. Yoga Santoso, menegaskan bahwa konflik Iran–Israel–AS tidak bisa lagi dibaca semata sebagai benturan militer biasa, melainkan sebagai krisis multidimensi yang menyentuh geopolitik, ekonomi energi, keamanan internasional, hingga perang

narasi di ruang digital. “Dunia saat ini tidak hanya berhadapan dengan potensi eskalasi perang fisik, tetapi

juga dengan perang persepsi, perang framing, dan perebutan makna di tingkat global. Konflik Iran–Israel–AS harus dibaca secara lebih utuh, bukan hanya sebagai krisis regional, tetapi sebagai peristiwa global yang dampaknya bisa menjalar ke

ekonomi, diplomasi, media, dan opini publik internasional,” ujar Dr. Yoga Santoso.

Menurutnya, forum ini penting karena publik membutuhkan pembacaan yang lebih jernih di tengah derasnya arus informasi, propaganda, dan polarisasi opini yang menyertai konflik global.

“Kampus harus hadir sebagai ruang intelektual yang memberi perspektif, bukan sekadar mengikuti arus informasi. Diskusi ini kami hadirkan agar publik dapat.

Memahami akar geopolitik konflik, membaca kalkulasi strategis para aktor, dan sekaligus menyadari bagaimana media serta teknologi komunikasi membentuk persepsi dunia terhadap perang,” katanya.

Diskusi ini membedah konflik dari tiga sudut utama. Pertama, akar sejarah, geopolitik, dan energi yang menjadikan Timur Tengah terus berada di pusat ketegangan dunia. Kedua, arah permainan strategis dan kemungkinan endgame dari konfrontasi Iran–Israel–AS. Ketiga, perang narasi, framing media, AI, dan disinformasi, yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari konflik modern.

Melalui forum ini, Universitas Sahid menegaskan bahwa kajian komunikasi memiliki peran penting dalam membaca krisis global. Di era digital, perang tidak hanya terjadi di medan tempur, tetapi juga di layar, platform, algoritma, dan ruang opini publik, termasuk dalam budaya yang tidak terasa tetapi menghancurkan perlahan.

Dalam kesempatan pertama Akar Konflik dan Perebutan Hegemoni, disampaikan oleh KH. Fathurahman Yahya (Analyst Middle East Geopolitics) yang menekankan bahwa konflik saat ini bukan sekadar insiden sporadis, melainkan bagian dari skenario kebijakan luar negeri AS pasca-Perang Dingin.

Penyebab Utama Konflik dipicu oleh warisan kolonialisme (Perjanjian Sykes-Picot), rivalitas sektarian Sunni-Syiah, serta perebutan kontrol atas “jantung energi dunia” di Selat Hormuz. Selain itu, Strategi AS-Israel: Upaya mempertahankan hegemoni Barat dengan menahan kebangkitan Iran sebagai kekuatan regional.

Selanjutnya, Didin Nasirudin (Managing Director Bening Communication) memberikan analisis mendalam mengenai keseimbangan kekuatan militer dan potensi skenario masa depan. Kekuatan Militer dan Prediksi Akhir (Endgame). Keunggulan Teknologi: AS dan Israel memiliki keunggulan dalam serangan presisi dan kemampuan dekapitasi pemimpin lawan. Namun, Iran memiliki daya tahan melalui strategi Asymmetric Warfare dan jaringan proksi yang luas.

Menurut prediksi Dindin, akan ada kesepakatan damai definitif pada pertengahan 2026 setelah konfrontasi terbatas. Syaratnya mencakup penghentian program nuklir Iran dan normalisasi hubungan regional, meskipun tanpa kompensasi finansial bagi Iran.

Dampak bagi Indonesia dan Mitigasi

Diskusi ini juga menyoroti risiko besar bagi Indonesia, mulai dari lonjakan harga BBM, tekanan APBN akibat subsidi yang membengkak, hingga terganggunya logistik perdagangan global.

Indonesia disarankan untuk menjalankan “Bridging Diplomacy” sebagai mediator netral-terbatas serta memperkuat kemandirian alutsista dan ketahanan pangan-energi agar tidak rentan terhadap tekanan eksternal.

Dilanjutkan pembicara Henry Sianipar (Produser Liputan 6 SCTV), menyoroti bagaimana teknologi mengubah wajah peperangan modern. Perang tidak lagi hanya terjadi secara fisik melalui rudal (“Operation Epic Fury”), tetapi juga melalui layar ponsel, yakni AI dan Perang Makna (War of Narratives). Senjata Digital: Penggunaan AI generatif, deepfake, hingga propaganda bergaya LEGO digunakan kedua kubu untuk mengontrol kebenaran dan membangun opini publik global.

Henry menilai adanya Kekacauan Epistemologis, yakni Masyarakat kini berada di fase sulit membedakan realitas dan kepalsuan karena algoritma bertindak sebagai arbiter kebenaran.

“Kita bukan menuju perang besar, melainkan sudah berada di era “Perang Permanen Multi-Dimensi”. Tegasnya mengakhiri paparan.

(Jiwa)

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Petisi Palmerah Akan Terus Kawal Isu Legitimasi Akademik Wakil Presiden Gibran
Pemkab Sorong Salurkan Alat Bantu Disabilitas, Kadinsos Amatus Turot: Keterbatasan Fisik Bukan Penghalang untuk Berkarya
Pimpin DPD PAN Raja Ampat, Anggota DPRK Ruben Sauyai Siap Emban Amanah Partai
KAMAKSI: Dua Kurator Koba Tin Ditahan, Kini Usut Aliran Dana dan Tanggung Jawab Perusahaan
 Jerry Massie: Kontroversi Ucapan Seputar LBP Sumut, Ada Kekhawatiran Gangguan Iklim Akademisi
Kapolri Harus Buka Kembali Kasus Payment Gateway Denny Indrayana, Demi Pulihkan Nama Baik Polri
Dukung Prabowo untuk 2029, Pengamat: Golkar Dinilai Sengaja Jaga Ruang Manuver untuk Gibran
 Usai Pecah Rekor Nasional, BULOG Lebak‑Pandeglang Bersyukur dan Berbagi ke Anak Yatim
Berita ini 29 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 14 Oktober 2026 - 14:42 WIB

Petisi Palmerah Akan Terus Kawal Isu Legitimasi Akademik Wakil Presiden Gibran

Selasa, 13 Oktober 2026 - 22:19 WIB

Pemkab Sorong Salurkan Alat Bantu Disabilitas, Kadinsos Amatus Turot: Keterbatasan Fisik Bukan Penghalang untuk Berkarya

Selasa, 13 Oktober 2026 - 22:14 WIB

Pimpin DPD PAN Raja Ampat, Anggota DPRK Ruben Sauyai Siap Emban Amanah Partai

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:47 WIB

KAMAKSI: Dua Kurator Koba Tin Ditahan, Kini Usut Aliran Dana dan Tanggung Jawab Perusahaan

Minggu, 11 Oktober 2026 - 20:39 WIB

 Jerry Massie: Kontroversi Ucapan Seputar LBP Sumut, Ada Kekhawatiran Gangguan Iklim Akademisi

Berita Terbaru