Terasmedia.co Kota Sorong – Kepolisian Daerah Papua Barat Daya menggelar coffee morning bersama tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh pemuda dan tokoh perempuan serta insan pers.
Coffee morning yang digelar di Rylich Panorama Hotel, Selasa (22/9/2026) tersebut mendiskusikan banyak isu penting, termasuk polisi noken, perekrutan siswa-siswi Akademi Kepolisian (Akpol) yang lebih berpihak pada anak-anak asli Papua serta peredaran miras.
Pada kesempatan tanya jawab, mantan senator DPD RI Sanusi Rahaningmas mengusulkan perlunya digerakan lagi program Polisi Noken, seperti yang pernah dilaksanakan di Provinsi Papua Barat Daya.
Kehadiran Polisi Noken sangat membantu polisi dalam mengatasi permasalahan yang berkaitan erat dengan Orang Asli Papua (OAP).
Sanusi menurkan bahwa program Polisi Noken sempat mendapat dukungan dari pemerintah Provinsi Papua Barat dan DPR Papua Barat, meski pada akhirnya ptogram ini tidak lagi eksis.
Selain itu, mantan anggota DPR Papua Barat tiga periode itu menyentil proses perekrilutan Akademi Kepolisian (Akpol), yang belum memberikan kesempatan luas bagi anak-anak asli Papua.
Menurut Sanusi, standarisasi penilaian dalam proses perekrutan Akpol antara asli Papua dengan nusantara harus dibedakan.
Paling tidak standar 50 persen dalam penilaian. Karena peluang Akpol maupun ASN banyak tertutup bagi anak-anak asli Papua maka tidak heran jika banyak terjadi tindak kriminal.
Masukan inii perlu dipertimbangkan oleh Kapolda Papua Barat Daya untuk disampaikan kepada pemerintah pusat.
Tokoh pemuda Maybrat Raya, Yanto Ijie ikut menyoroti maraknya penjualan minuman keras di Kota Sorong.
Yanto menyarankan kepada Kapolda Papua Barat Daya untuk memberi perhatian khusus agar minuman keras di jual di tempat-tempat khusus. Artinya, tidak dijual secara bebas, dan dapat dijangkau oleh masyarakat.
” Maraknya penjualan miras membuat angka kriminalitas di Kota Sorong meningkat,” ujarnya.
Sebelumnya Kapolda Papua Barat Daya Brigjen Dr. Hengki Haryadi tugas kepolisian tidak hanya menegakan hukum juga menciptakan situasi aman dan kondusif.
Untuk menciptakan situasi yang aman polisi tidak dapat bekerja sendiri, melainkan harus bersama-sama dengan semua elemen masyarakat.
Konsep community policing menurut Kapolda sangat penting dalam melaksanakan tugas kepolisian melayani dan melindungi masyarakat serta membangun kerja sama demgan semua elemen masyarakat.
Kapolda menekankan pentingnya komunikasi antara kepolisian dengan media. Informasi yang berkaitan dengan persoalan hukum, keamanan dan pelayanan kepolisian dikonfirmasi langsung sehingga informasi yang diterima masyarakat benar-benar berdasarkan fakta.
Kemitraan antara kepolisian dengan media bukan untuk membatasi kebebasan pers, sebaliknya hubungan tersebut perlu dibangun melalui komunikasi yang sehat, dengan tetap menghormati indepemdensi media dalam menjalankan fungsi kontrol sosial.
Kapolda berharap media dapat menyajikan informasi secara akurat, berimbang dan terveeifikasi ketika memberitakan isu-isu yang sensitif sehingga tidak menimbulkan keresahan di masyarakat.
Orang nomor satu di Polda Papua Barat Daya itu juga berharap, sinergi antara kepolisian, media dan seluruh elemen masyarakat di Papua Barat Daya terus diperkuat. (Jun)











