Wamena, Papua Muda Progresif Dorong Dialog dan Perlindungan Warga di Tengah Konflik

Avatar photo

- Penulis

Sabtu, 26 September 2026 - 22:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ikuti kami di Google News

Harianterbit.id Wamena – Diskusi publik Papua Muda Progresif di Wamena, Papua Pegunungan, menghasilkan tiga rekomendasi penting yang menitikberatkan pada penguatan perlindungan masyarakat sipil, pelibatan berbagai elemen dalam penyelesaian konflik, serta penghentian kekerasan yang berdampak terhadap warga. Rekomendasi tersebut lahir dalam forum bertema “Mendorong Dialog, Perlindungan Masyarakat Sipil, dan Jalan Damai Menuju Papua yang Aman, Bermartabat, dan Berkeadilan”, Sabtu (26/9/2026).

Forum tersebut mempertemukan akademisi, tokoh agama, tokoh adat, anggota Majelis Rakyat Papua (MRP), legislatif, pegiat HAM, pemuda, mahasiswa, serta unsur TNI dan Polri. Diskusi diarahkan untuk membahas situasi keamanan di Papua Pegunungan sekaligus dampaknya terhadap kehidupan masyarakat, terutama dalam aspek kemanusiaan dan pelayanan dasar.

Ketua Papua Muda Progresif, Yops Alegen Itlay, mengatakan konflik di Papua perlu dibicarakan secara terbuka agar pemerintah dan masyarakat dapat menemukan jalan keluar yang dapat diterima berbagai pihak. Menurutnya, pemerintah perlu membuka ruang komunikasi yang lebih luas sehingga konflik tidak terus berlangsung tanpa upaya penyelesaian yang jelas.

“Konflik yang terjadi di Papua ini harus dibicarakan, terutama pemerintah harus bicara, agar bisa mencari jalan keluar damai. Jangan kita biarkan konflik ini terus terjadi, tetapi tidak ada yang bicara,” kata Yops.

Rekomendasi pertama ditujukan kepada DPR Papua Pegunungan/DPRD dan MRP. Papua Muda Progresif mendorong lembaga tersebut menyusun regulasi daerah sekaligus memperkuat perlindungan terhadap hak-hak masyarakat sipil dan masyarakat adat di tengah situasi konflik.

Rekomendasi kedua meminta eksekutif, legislatif, dan yudikatif membuka ruang dialog yang melibatkan tokoh adat, pemuda, serta berbagai elemen masyarakat. Dialog tersebut diharapkan membahas persoalan kekerasan, konflik sosial, konflik politik, hingga konflik antarsuku di Papua Pegunungan secara adil dan bermartabat.

Sementara rekomendasi ketiga ditujukan kepada seluruh pihak yang terlibat dalam konflik agar segera menghentikan kekerasan, terutama tindakan yang berpotensi mengorbankan masyarakat sipil. Forum juga menyerukan agar nilai-nilai ajaran agama Kristen tetap menjadi bagian dalam kehidupan masyarakat.

Yops mengatakan Papua Muda Progresif memilih jalur dialog dan pembahasan intelektual sebagai cara menyampaikan aspirasi. Menurutnya, penyampaian aspirasi tidak harus selalu dilakukan melalui aksi jalanan, tetapi dapat ditempuh melalui forum yang mempertemukan berbagai pemikiran dan kepentingan.

Selain persoalan keamanan, forum juga menyoroti dampak konflik terhadap pelayanan dasar. Yops menyebut penarikan sebagian tenaga kesehatan dan tenaga pengajar dari sejumlah wilayah ke perkotaan menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian pemerintah karena dapat berdampak langsung terhadap masyarakat.

“Masyarakat membutuhkan pelayanan kesehatan, adik-adik yang lagi belajar membutuhkan pendidikan. Ketika pelayanan ditinggalkan, akhirnya yang menjadi korban adalah masyarakat kita sendiri,” ujarnya.

Ketua Panitia Diskusi Publik, Jasman Yalegat, mengatakan persoalan kemanusiaan, konflik bersenjata, dan situasi keamanan di sejumlah wilayah Papua Pegunungan membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Ia menyebut Tolikara, Lanny Jaya, Nduga, Jayawijaya, dan Yahukimo sebagai wilayah yang menurutnya perlu mendapat perhatian bersama.

Jasman menegaskan hasil diskusi tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Gagasan yang muncul akan dirumuskan menjadi rekomendasi untuk disampaikan kepada lembaga yang memiliki kewenangan. Bagi Papua Muda Progresif, keberhasilan rekomendasi tersebut pada akhirnya akan ditentukan oleh tindak lanjut pemerintah dan lembaga negara dalam memperkuat perlindungan masyarakat sipil, menjaga keberlangsungan pendidikan dan kesehatan, serta membuka ruang dialog yang melibatkan berbagai elemen. (Abdullah)

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Jalan Cijinjuk Bertahun-tahun Rusak, Warga Pertanyakan Peran DPRD: “Setiap Hari Lewat, Mengapa Tak Kunjung Diperjuangkan?”
Ketum FBB: Pilpres 2024 Sudah Selesai, Jangan Terus Cari Jalan untuk Memanggung Isu
Tak Bernyali Berantas Judi Gelper, Kapolda Riau Diminta Evaluasi Jajaran Polres Pelalawan
Anak 16 Tahun di Lebak Diduga Jadi Korban Tindak Pidana Seksual, Polisi Turun Tangan
Bulog Lebak-Pandeglang: Bantuan Pangan Juli dan September Tuntas 100 Presen, Dua Hari Lebih Cepat
Cekcok Berujung Saling Jambak dan Cakar, MS Dilaporkan ke Polsek Kalideres
Konsisten Lakukan Inovasi dan Bangun Sinergi, Bank Banten Raih Radar Banten Award 2026
Anggota DPR Papua Tengah Pertanyakan Transparansi Penertiban Kawasan Hutan di Nabire
Berita ini 33 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 8 Oktober 2026 - 21:47 WIB

Jalan Cijinjuk Bertahun-tahun Rusak, Warga Pertanyakan Peran DPRD: “Setiap Hari Lewat, Mengapa Tak Kunjung Diperjuangkan?”

Rabu, 7 Oktober 2026 - 19:34 WIB

Ketum FBB: Pilpres 2024 Sudah Selesai, Jangan Terus Cari Jalan untuk Memanggung Isu

Kamis, 1 Oktober 2026 - 20:42 WIB

Tak Bernyali Berantas Judi Gelper, Kapolda Riau Diminta Evaluasi Jajaran Polres Pelalawan

Kamis, 1 Oktober 2026 - 18:59 WIB

Anak 16 Tahun di Lebak Diduga Jadi Korban Tindak Pidana Seksual, Polisi Turun Tangan

Kamis, 1 Oktober 2026 - 11:35 WIB

Bulog Lebak-Pandeglang: Bantuan Pangan Juli dan September Tuntas 100 Presen, Dua Hari Lebih Cepat

Berita Terbaru