Koperasi Desa Merah Putih: Peluang Besar, Risiko Tak Kecil

Avatar photo

- Penulis

Minggu, 27 Juli 2025 - 18:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto (Red).

i

Foto (Red).

Ikuti kami di Google News

Terasmedia.co Jakarta – Koperasi Desa Merah Putih (KMP) digagas sebagai instrumen penguatan ekonomi desa dengan menyediakan akses modal besar untuk mendukung berbagai unit usaha, seperti sembako, LPG, pupuk, hingga jasa digital. Namun, di balik potensinya, koperasi ini menyimpan sejumlah tantangan serius yang patut diwaspadai.

Menurut Abdul Hafidz As Baso, Wakil Direktur Eksekutif DPP Partai Golkar, KMP memiliki keunggulan dalam hal penyediaan pendanaan hingga miliaran rupiah, yang bisa dimanfaatkan untuk menggerakkan usaha produktif di desa. “KMP bisa menjadi lokomotif pemberdayaan ekonomi lokal jika dikelola dengan baik,” ujarnya.

KMP memiliki potensi besar untuk meningkatkan produksi lokal serta mendorong UMKM dan perdagangan desa. Pemerintah juga mendorong kolaborasi dengan universitas dan NGO untuk memberikan pelatihan dan pendampingan teknis, agar koperasi bisa mandiri dan akuntabel.

Namun demikian, tantangan yang muncul tidak bisa diabaikan, Kekurangan dan Risiko: Top-Down, Nepotisme, hingga Risiko Kredit

KMP dinilai lahir dari pendekatan top-down berasal dari kebijakan pusat, bukan dari inisiatif warga desa. Hal ini membuat banyak masyarakat merasa tidak memiliki koperasi tersebut. Pengurus pun kerap dipilih bukan berdasarkan kompetensi, melainkan karena kedekatan politik.

Tak hanya itu, banyak unit usaha KMP bergantung pada produk subsidi. Jika subsidi dihentikan, koperasi bisa kehilangan daya saing dan keberlanjutan. Di sisi lain, manajemen SDM juga dinilai lemah pengurus kerap tidak memiliki kompetensi akuntansi dan bisnis yang memadai, sehingga laporan keuangan menjadi formalitas tanpa makna substansial.

Kredit macet pun menjadi ancaman nyata. Tanpa manajemen risiko yang matang, koperasi bisa terjerat utang dan kehilangan kepercayaan dari lembaga keuangan.

Yang lebih mengkhawatirkan, KMP berpotensi menyingkirkan UMKM lokal jika menjual produk bersubsidi dengan harga murah. Publik juga menyoroti isu transparansi dan dugaan korupsi dalam pengelolaan dana koperasi. Isu audit bahkan mendapat 92% sentimen negatif dari warganet. Rekomendasi: Perlu Reformasi Tata Kelola

Untuk mengoptimalkan manfaat dan menekan risiko, sejumlah langkah strategis perlu dilakukan: Penguatan tata kelola dan transparansi melalui pembentukan badan pengawas independen dan pelaporan digital real-time.

Peningkatan kapasitas SDM lewat pelatihan dan pendampingan dari akademisi dan NGO. Mitigasi risiko keuangan dengan dana cadangan, rasio pinjaman-agunan yang sehat, serta asuransi kredit. Pelibatan warga secara partisipatif agar masyarakat turut serta dalam pengambilan keputusan dan pengawasan.

Kelebihan Kekurangan Risiko, Akses modal besar untuk desa Pendekatan top-down, warga tidak merasa memiliki, Potensi pemberdayaan ekonomi lokal, Risiko politisasi dan nepotisme, Peluang pelibatan mitra dan pendamping teknis Ketergantungan pada subsidi, Pengurus kurang profesional, Risiko kredit macet dan beban utang, Menyingkirkan UMKM lokal, Transparansi rendah, potensi korupsi

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Tugas Menjaga Indonesia Tidak Pernah Selesai,  Bung AIR Ajak Generasi Muda Terus Berkontribusi
Camellia Apresiasi Wacana Pengadilan Ad Hoc: BUMN Harus Dikembalikan untuk Kepentingan Rakyat
 Menjelang Muktamar NU ke-35: Sorotan Bergeser ke Perebutan Posisi Rais Aam ​
Dr RD Mohammad Teguh Darmawan Resmi Jabat Kajati Jawa Barat, Gantikan Sutikno
Anton Suratto Daftar Kembali Ketua DPD Demokrat Jabar, Didukung 27 DPC
FBB Imbau Masyarakat Saring Informasi dan Tangkal Hoaks di Media Sosial
Egi Hendrawan Puji Rekor MURI Kapolri Cup 2026 dan Peran Gen Z Jaga Dunia Siber
BEM Indonesia Desak KPK Usut Tata Kelola PT Vale IGP Pomalaa, Soroti Dugaan 200 Ribu Ton Ore Nikel
Berita ini 14 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Senin, 17 Agustus 2026 - 17:07 WIB

Tugas Menjaga Indonesia Tidak Pernah Selesai,  Bung AIR Ajak Generasi Muda Terus Berkontribusi

Senin, 17 Agustus 2026 - 07:51 WIB

Camellia Apresiasi Wacana Pengadilan Ad Hoc: BUMN Harus Dikembalikan untuk Kepentingan Rakyat

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 16:09 WIB

 Menjelang Muktamar NU ke-35: Sorotan Bergeser ke Perebutan Posisi Rais Aam ​

Kamis, 13 Agustus 2026 - 22:22 WIB

Dr RD Mohammad Teguh Darmawan Resmi Jabat Kajati Jawa Barat, Gantikan Sutikno

Kamis, 13 Agustus 2026 - 19:12 WIB

Anton Suratto Daftar Kembali Ketua DPD Demokrat Jabar, Didukung 27 DPC

Berita Terbaru

Ketua Indonesia Police Watch (IPW) Sugeng Teguh Santoso

Hukum dan Kriminal

IPW: Penanganan Perkara Notaris Lily Penuh Dugaan Pelanggaran Prosedur

Senin, 17 Agu 2026 - 13:10 WIB