BBM Meroket, MataHukum Desak Bahlil Lahadalia Mundur dari Kursi Menteri

Avatar photo

- Penulis

Selasa, 5 Mei 2026 - 15:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ikuti kami di Google News

Terasmedia.co Jakarta – Kebijakan pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) per 4 Mei 2026 memicu gelombang protes. Di tengah klaim pemerintah mengenai penghematan melalui kebijakan Work From Home (WFH) bagi ASN, publik justru dihantam kenyataan pahit: harga energi di SPBU meroket tajam, mencekik daya beli yang kian sekarat.

Sekretaris Jenderal MataHukum, Muksin Nasir, melontarkan kritik pedas terhadap ambiguitas kebijakan kabinet Prabowo. Menurutnya, skema WFH yang digadang-gadang sebagai solusi penghematan energi justru menjadi ironi yang menyakitkan hati rakyat.

“Ternyata kenaikan BBM ini membuktikan bahwa narasi WFH itu omong kosong. Itu hanya kedok, sementara pelayanan publik dikorbankan dan negara tetap menanggung beban gaji penuh untuk ASN dan pejabat, termasuk kepala negara. Mereka aman dengan gaji utuh, sementara rakyat dipaksa menanggung risiko ekonomi yang kian tercekik,” tegas Muksin Nasir dalam keterangan tertulisnya, Selasa (5/5).

Kegagalan Bahlil dan Desakan Copot Jabatan
Muksin menilai, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia telah gagal total dalam menjaga stabilitas harga energi nasional. Kenaikan ini dianggap sebagai pemantik kegaduhan baru yang meluas di akar rumput.

“Presiden harus berani mengambil langkah tegas. Copot Bahlil! Dia terbukti tidak mampu menjaga stabilitas harga BBM yang kini menjadi pemicu kesengsaraan rakyat. Pemerintahan Prabowo hanya akan menciptakan kegaduhan demi kegaduhan jika menterinya lebih sibuk dengan kalkulasi elite ketimbang perut rakyat,” cetus Muksin tajam.

Ia juga mendesak DPR RI untuk segera menggunakan fungsi pengawasannya secara maksimal. “DPR jangan diam. Panggil Pertamina, panggil Bahlil! Mereka harus menjelaskan secara transparan, apakah mereka bisa menjamin ekonomi rakyat tidak akan hancur lebur akibat kebijakan ini? Rakyat butuh kepastian, bukan sekadar angka-angka statistik di atas kertas menteri,” tambahnya.

Data Kenaikan yang Menggila
Berdasarkan data resmi per 4 Mei 2026, kenaikan harga terjadi secara serentak di seluruh wilayah Indonesia. Penyesuaian ini mencakup berbagai jenis BBM nonsubsidi dan berdampak pada psikologi harga di pasar. Berikut adalah rincian kenaikan yang dirangkum dari data Pertamina:

Berikut harga BBM di seluruh SPBU, berlaku 4 Mei 2026:

BBM Pertamina

Pertalite: Rp10.000 per liter

Pertamax: Rp 12.300 per liter

Pertamax Green: Rp 12.900 per liter

Pertamax Turbo: Rp 19.900 per liter

Pertamina Dex: Rp 27.900 per liter
Dexlite: Rp26.000 per liter

Jeritan di Pesisir: Nelayan Berhenti Melaut
Dampak paling mematikan dari kebijakan ini mulai terlihat di sektor perikanan. Kenaikan harga Solar, yang merupakan urat nadi para nelayan, telah melumpuhkan aktivitas ekonomi di pesisir.

Di berbagai daerah, termasuk Pati Jawa Timur para nelayan memilih menyandarkan perahu mereka. Biaya operasional yang tidak sebanding dengan hasil tangkapan—akibat harga BBM yang di beberapa titik eceran dilaporkan melonjak liar hingga menembus angka Rp30.000- Rp40.000 per liter Padahal sebelumnya, harga BBM nonsubsidi hanya Rp17.000 per liter, hingga memaksa mereka berhenti melaut. Aksi demonstrasi mulai pecah di kantor bupati pati sebagai bentuk protes atas hilangnya mata pencaharian mereka karena biaya operasional yang melonjak.

“BBM naik saat rakyat sedang berjuang keluar dari kesulitan ekonomi. Ini bukan sekadar kebijakan fiskal, ini adalah penghakiman bagi rakyat kecil contohnya nelayan di pati, nelayan yang kini menjadi korban nyata di garda terdepan kesengsaraan,” tutup Muksin Nasir.

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Ironi Kebijakan: Outsourcing Tak Hilang, Hanya Dirapikan Administrasinya
Mata Tunas 17 Perluas Jangkauan ke Jabodetabek dan Banten, Fokus Pembinaan Generasi Muda
CBA Endus Bancakan Rp100 M Kemensos: Ironi Sepatu Mahal di Masa Krisis
Suarakan Semangat Kebangsaan, FKDM Konsolidasi FKDM di Pademangan
Bukan Cuma Human Error: Manajemen Lalai, Dirut PT KAI Harus Dicopot
BaraNusa Dukung Mahasiswa: Bubarkan MBG, Kembalikan Anggaran Pendidikan
Krisis Empati Lingkar Bamsoet: Pamer Kemewahan Saat Kondisi Sedang Sulit
Resmi Dilantik, Donny Haryono dan Deddy Sutendy Pimpin Posisi Strategis di Jabar
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 5 Mei 2026 - 15:26 WIB

BBM Meroket, MataHukum Desak Bahlil Lahadalia Mundur dari Kursi Menteri

Selasa, 5 Mei 2026 - 15:13 WIB

Ironi Kebijakan: Outsourcing Tak Hilang, Hanya Dirapikan Administrasinya

Selasa, 5 Mei 2026 - 12:32 WIB

Mata Tunas 17 Perluas Jangkauan ke Jabodetabek dan Banten, Fokus Pembinaan Generasi Muda

Selasa, 5 Mei 2026 - 11:31 WIB

CBA Endus Bancakan Rp100 M Kemensos: Ironi Sepatu Mahal di Masa Krisis

Senin, 4 Mei 2026 - 23:53 WIB

Suarakan Semangat Kebangsaan, FKDM Konsolidasi FKDM di Pademangan

Berita Terbaru