Terasmedia.co Lebak – Memasuki bulan suci Ramadan 2026, suasana Pasar Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten, tampak jauh lebih ramai dari hari biasanya. Sejak Sabtu pagi (21/2/2026), warga mulai memadati lapak-lapak pedagang untuk berburu bahan campuran takjil sebagai persiapan berbuka puasa.
Antrean terlihat mengular di sejumlah titik, terutama di lapak penjual kolang-kaling dan cincau. Selain itu, komoditas lain seperti cendol, sekoteng, hingga aneka rumput laut juga laris dibeli warga sebagai pelengkap es buah dan minuman segar khas Ramadan.
Tahun ini harga kolang-kaling mengalami kenaikan cukup signifikan. Dari sebelumnya Rp15.000 per kilogram, kini naik menjadi Rp20.000 per kilogram. Sementara bahan lain relatif stabil, seperti cincau yang masih dijual Rp5.000 per kilogram dan sekoteng Rp5.000 untuk empat kantong.
Agus (39), salah satu pedagang di Pasar Rangkasbitung, mengatakan kenaikan harga kolang-kaling dipicu terbatasnya pasokan karena belum memasuki masa panen raya.
“Tahun ini memang ada kenaikan karena belum musim. Sekarang kami jual Rp20.000 per kilogram, sebelumnya Rp15.000. Kalau yang lain masih standar, sekoteng masih sama seperti tahun-tahun kemarin,” ujarnya.
Meski harga naik, daya beli masyarakat dinilai tetap baik. Bahkan penjualan meningkat tajam dibanding hari biasa. Dalam sehari, stok kolang-kaling miliknya bisa habis hingga dua sampai tiga kuintal.
“Alhamdulillah, pembeli ramai. Selama Ramadan penjualan kolang-kaling dan cincau naik drastis,” kata Agus.
Ia menyebut omzetnya meningkat hingga sekitar 80 persen selama Ramadan. Kolang-kaling dan cincau menjadi primadona karena banyak digunakan untuk kolak, rujak, maupun es buah.
Salah satu pembeli, Laras (46), warga Lebak, mengaku tidak keberatan dengan kenaikan harga. Baginya, menyiapkan takjil segar untuk keluarga sudah menjadi tradisi setiap Ramadan.
“Saya beli cincau dan rumput laut untuk buka puasa besok. Harganya masih terjangkau. Setiap tahun pasti beli,” tuturnya.
Lonjakan permintaan tersebut menjadi berkah musiman bagi para pedagang tradisional. Momentum Ramadan kembali menggerakkan perputaran ekonomi lokal, khususnya pada sektor bahan pangan dan minuman olahan untuk kebutuhan berbuka puasa.
Editor : Redaksi












