Gagal Pimpin, Matahukum: Gaya Kerja Menteri KemenPKP Tidak Manusiawi

Avatar photo

- Penulis

Senin, 27 April 2026 - 21:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Keterangan foto : Menteri PKP Maruar Sirat dan Sekjen Matahukum Mukhsin Nasir, Senin (27/4/2026)

i

Keterangan foto : Menteri PKP Maruar Sirat dan Sekjen Matahukum Mukhsin Nasir, Senin (27/4/2026)

Ikuti kami di Google News

Terasmedia.co Jakarta – Sekjen Matahukum, Mukhsin Nasir, memberikan komentar pedas dan pandangan tajam menyikapi kabar mundurnya dua direktur jenderal di Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (KemenPKP). Menurutnya, apa yang terjadi adalah bukti nyata kegagalan manajemen kepemimpinan yang parah, di mana gaya kerja atasan justru menyiksa dan membuat stres seluruh jajaran di bawahnya.

“Informasi yang kami himpun dari sumber internal sangat jelas dan mengerikan. Banyak anak buahnya yang mengalami tekanan mental luar biasa karena dipaksa bekerja di malam hari, diajak begadang, dan harus menyesuaikan ritme kerja yang tidak manusiawi. Padahal mereka adalah Pegawai Negeri Sipil yang memiliki hak istirahat dan jam kerja yang jelas,” ujar Mukhsin dengan nada tegas lewat pernyataanya, Senin (27/4/2026).

Ia menegaskan, memaksakan seluruh birokrasi untuk bekerja hingga dini hari hanya demi mengikuti kebiasaan pribadi sang menteri bukanlah tanda kerja keras, melainkan tanda ketidakmampuan mengatur waktu dan manajemen yang buruk.

“Kerja sering malam dan memaksa orang lain ikut begadang itu tidak sehat. Ini bukan soal dedikasi, tapi soal kewarasan. Kalau sampai banyak pejabat tinggi yang stres dan akhirnya memilih mundur, itu artinya sistem yang dibangun sudah hancur dan tidak bisa ditoleransi lagi,” tambahnya.

Lebih jauh, Mukhsin Nasir menilai bahwa situasi di mana seorang pemimpin ditinggal oleh pasukannya satu per satu adalah tamparan keras yang sangat memalukan. Ia menyarankan agar Menteri Maruarar Sirait mengambil langkah bijak sebelum terlambat.

“Kepada Pak Maruarar Sirait, saya sarankan, lebih baik mundurkan diri sendiri dengan hormat daripada nanti harus dicopot secara tidak hormat oleh Presiden Prabowo Subianto. Malu rasanya seorang menteri negara ditinggal pembantunya karena tidak betah, tidak nyaman, dan merasa tersiksa. Itu bukti nyata bahwa kepemimpinannya gagal total,” tegasnya.

“Mundurnya dua Dirjen sekaligus ini adalah tamparan keras yang tidak bisa dibantah lagi. Publik melihat jelas bahwa ada masalah serius di sana. Jangan sampai target besar seperti 3 juta rumah ikut hancur hanya karena gaya kepemimpinan yang aneh dan membingungkan,” pungkas Mukhsin Nasir.

Kabar pengunduran diri dua pejabat tinggi ini memang tengah membuat gempar banyak kalangan, apalagi terjadi di tengah upaya pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto yang sedang “tancap gas” mengejar target ambisius program 3 juta rumah.

Dua nama yang santer dikabarkan pamit undur diri tersebut adalah Dr. Aziz Andriansyah, selaku Dirjen Tata Kelola dan Pengendalian Risiko, serta Dr. Imran, MSc., yang menjabat sebagai Dirjen Perumahan Desa/Perdesaan.

Jurnalis senior, Hersubeno Arief, membeberkan bahwa informasi mengenai rencana pengunduran diri kedua pejabat ini sudah beredar luas sejak Jumat (24/4/2026) malam melalui berbagai grup WhatsApp, namun hingga saat ini belum ada konfirmasi resmi dari pihak kementerian.

“Kabar yang beredar Jumat malam itu sampai sekarang masih jadi rumor politik yang sangat seru. Namun sejauh ini belum ada penjelasan resmi dari Kementerian PKP,” kata Hersubeno dikutip dalam kanal YouTube Hersubeno Point, Senin (27/4/2026).

Saat ditanya mengenai penyebabnya, seorang pejabat di lingkungan KemenPKP memberikan jawaban singkat namun mencengangkan bahwa banyak yang merasa stres di bawah kepemimpinan Maruarar Sirait.

Menurut Hersubeno, gaya kepemimpinan Menteri yang akrab disapa Ara ini dinilai one man show dan sering membingungkan bawahannya. Salah satu kebiasaan yang menjadi sorotan utama adalah pola jam kerjanya yang tidak lazim.

“Dia sering masuk kantor pada sore hari dan bisa bertahan di sana sampai dini hari. Kalau informasinya benar seperti itu, bagaimana mungkin para pegawai negeri bisa mengikuti ritme kerja yang tidak wajar tersebut?” ungkapnya menjelaskan sumber tekanan yang dirasakan para staf.

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Komisi XI Tagih Komitmen BI Dorong Lapangan Kerja dan Ekonomi Daerah
Surat dari Ternate: Lily Masita Tomasoa Memohon Keadilan kepada Jaksa Agung
Ketua PW Fatayat NU Ajak Kader Fatayat Aktif Kampanyekan Pariwisata Anyer dan Majukan Ekonomi Kreatif
Menjaga Samudra Tanpa Sekat: Redesign Kewenangan Bakamla dan Urgensi Single Agency Coast Guard
Mayjen TNI Pujo Widodo Apresiasi Keberpihakan Pemerintah kepada Petani
Bukan Hanya Cibinong, Mangihut Sinaga Khawatir Praktik Serupa Menjalar ke Seluruh Lapas
Kabel Menjuntai Sebabkan Kecelakaan di Kampung Grojog, Ini Tanggapan TelkomGroup
Dede Yusuf: Ombudsman Tak Boleh Dihalangi, Tugasnya Mengawasi Pelayanan Publik
Berita ini 86 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 19:57 WIB

Komisi XI Tagih Komitmen BI Dorong Lapangan Kerja dan Ekonomi Daerah

Selasa, 29 September 2026 - 11:40 WIB

Surat dari Ternate: Lily Masita Tomasoa Memohon Keadilan kepada Jaksa Agung

Senin, 28 September 2026 - 03:50 WIB

Ketua PW Fatayat NU Ajak Kader Fatayat Aktif Kampanyekan Pariwisata Anyer dan Majukan Ekonomi Kreatif

Minggu, 27 September 2026 - 06:11 WIB

Menjaga Samudra Tanpa Sekat: Redesign Kewenangan Bakamla dan Urgensi Single Agency Coast Guard

Sabtu, 26 September 2026 - 13:45 WIB

Mayjen TNI Pujo Widodo Apresiasi Keberpihakan Pemerintah kepada Petani

Berita Terbaru