Terasmedia. co-Minggu, 19 April 2026, menjadi hari yang sangat bersejarah dalam perjalanan reboisasi Gunung Pulosari di Kabupaten Pandeglang. Kegiatan ini diselenggarakan oleh AOPGI (Asosiasi Olahraga Pendakian Gunung Indonesia) Provinsi Banten.
Kegiatan REBOISASI PULOSARI LESTARI ini mengusung tema “Keselamatan, Edukasi Lingkungan, dan Reboisasi Pohon Endemik Lokal”. Tema tersebut mencerminkan betapa pentingnya tanaman endemik agar tetap lestari di tengah kemajuan pariwisata Gunung Pulosari.
Gunung Pulosari yang memiliki ketinggian 1.343 mdpl bukan hanya sekadar tempat wisata pendakian, tetapi juga menjadi rumah bagi beragam flora dan fauna yang hidup di dalamnya. Banyaknya alih fungsi lahan menyebabkan tanaman endemik lokal sulit ditemukan karena digantikan berbagai tanaman perkebunan, seperti cengkih.
Kegiatan reboisasi pohon endemik lokal ini berperan penting dalam mengajarkan kepada generasi muda tentang pentingnya pohon endemik bagi kelestarian Gunung Pulosari.
Kegiatan ini diikuti oleh lebih dari 1.000 peserta yang terdiri atas MAPALA dan SISPALA, pelajar, serta seluruh elemen masyarakat di Provinsi Banten. Salah satunya adalah Kader Adiwiyata SMA Negeri 1 Pandeglang yang hadir untuk mewujudkan kepedulian lingkungan secara nyata di masyarakat, bukan hanya sekadar kegiatan di sekolah. Tujuan Kader Adiwiyata SMA Negeri 1 Pandeglang bukan hanya mengikuti kegiatan reboisasi, tetapi juga membawa misi menjaga kebersihan Gunung Pulosari dari sampah dengan mengambil dan mengumpulkan setiap sampah yang ditemui di sepanjang jalur pendakian.
Pada kegiatan ini terdapat tiga titik utama penanaman pohon endemik lokal, yaitu Pos 1, Pos 2, dan Pos 3. Selain itu, pohon endemik juga ditanam di sepanjang jalur pendakian menuju puncak Pulosari. Pada kesempatan ini, Kader Adiwiyata SMA Negeri 1 Pandeglang melakukan penanaman di lereng gunung yang ada di Pos 1. Kader Adiwiyata menanam berbagai jenis tanaman yang sudah diberikan oleh panitia dengan jenis yang beragam.
Sebanyak 4.500 tanaman endemik lokal ditanam dalam kegiatan ini, di antaranya eboni, cendana, jamblang, kupa, meranti, kedoya, kijulang, huru batu, reunghas, nagasari, pasebano, loka, jambu biji, dan lain-lain.
Pengalaman dari kegiatan ini mengajarkan kita bahwa bukan sekadar reboisasi itu penting, tetapi juga bagaimana kita menjaga kelestarian tanaman endemik lokal. Kader Adiwiyata SMA Negeri 1 Pandeglang mendapatkan pengalaman yang sangat berharga dan membanggakan ketika melihat ribuan orang bersatu, berkontribusi menjaga, serta melestarikan tanaman endemik lokal yang menjadikan Gunung Pulosari salah satu paru-paru Banten.
Kegiatan ini bukan hanya mengajarkan tentang pentingnya melakukan reboisasi, tetapi juga mengajarkan bagaimana kita menjaga kekayaan flora dan fauna endemik. Manfaat yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari antara lain:
1. *Di sekolah*: Kader Adiwiyata akan mengembangkan kebun bibit endemik, mengampanyekan pengurangan sampah plastik di jalur pendakian lewat mading dan media sosial, serta membuat SOP kegiatan luar kelas yang berprinsip _green safety_.
2. *Di rumah*: Membiasakan menanam dan merawat tanaman lokal di pekarangan, memilah sampah, dan menghemat air sebagai bentuk menjaga ekosistem dari hulu.
3. *Di masyarakat*: Menjadi penggerak edukasi bahwa mendaki harus sejalan dengan konservasi, serta mengajak teman sebaya untuk tidak memetik atau merusak tumbuhan di gunung.
“Kegiatan lingkungan hidup bagus-bagus, terutama untuk menambah ketakwaan pada Allah karena yang utama adalah kita tadabur alam,” kata Bu Diny Hendrawati, S.Pd.,M.Si. selaku Pembina Adiwiyata di SMA Negeri 1 Pandeglang.
Beliau juga menambahkan bahwa acara ini bukan sekadar acara reboisasi semata, tetapi juga dapat meningkatkan kecintaan terhadap alam dan yang menciptakannya, yaitu Allah Swt.
Kader Adiwiyata SMA Negeri 1 Pandeglang berharap kegiatan seperti ini bukan hanya diadakan sekali, tetapi dapat menjadi agenda yang berkelanjutan. Selain itu, ada beberapa harapan Kader Adiwiyata untuk kelestarian tanaman endemik lokal di Indonesia:
1. Lebih banyak lagi tanaman endemik lokal yang dibudidayakan dengan baik.
2. Semakin besarnya kepedulian masyarakat tentang menjaga alam agar tetap terawat dan memberikan manfaat untuk manusia.
Salam Lestari, Satu Frekuensi Move an Adventure












