Terasmedia.co Banten – Kecamatan Maja hari ini tidak hanya bersuara, tetapi menangis dan melawan. Tangisan itu datang dari jalan-jalan yang hancur, dari debu merah yang menyelimuti rumah warga, dari keresahan ibu-ibu dan ketakutan anak-anak yang setiap hari harus berhadapan dengan truk-truk tambang galian C ilegal dari Curugbitung yang melintasi wilayah mereka. Dalam situasi itulah, ulama turun gunung.
KH Ahmad Yunani, Ketua Forum Silaturahmi Pondok Pesantren Kecamatan Maja, dengan langkah tenang dan tekad yang membara, mewakili para tokoh masyarakat Maja melaporkan aktivitas tambang galian C ilegal ke Gakkum.
Beliau tidak sendiri. Di belakang dan di sampingnya berdiri para santri anak-anak pesantren yang hari ini belajar bukan hanya tentang kitab, tetapi tentang keberanian membela kebenaran.
“Langkah ini bukan kepentingan politik. Bukan pula pencitraan. Ini adalah murni jeritan nurani.” tegasnya, Rabu (17/12/2025).
Kala suara rakyat kecil kerap teredam, pesantren justru berdiri paling depan. Ketika alam dirusak dan hukum seolah menjauh, ulama dan santri memilih hadir sebagai penjaga akhlak, penjaga bumi, dan penjaga masa depan Maja.
“Kami tidak melawan pembangunan,” bisik keresahan masyarakat. Kami melawan keserakahan.” seru KH Ahmad Yunani
Tambang ilegal telah meninggalkan luka, jalan rusak, debu beracun, kecelakaan mengintai, dan ketenangan kampung yang dirampas.
“Maka laporan ini adalah ikhtiar suci agar hukum kembali tegak, agar alam berhenti diperkosa, dan agar generasi Maja kelak tidak mewarisi kehancuran. Hari ini sejarah mencatat, Saat yang lain diam, Kiai melangkah. Saat yang lain ragu, santri mengawal.” tuturnya
Semoga langkah ini menjadi pintu keadilan, menjadi peringatan bagi para perusak lingkungan, dan menjadi bukti bahwa Maja masih dijaga oleh iman, keberanian, dan persatuan. Jika ulama sudah bergerak, itu tanda Maja sedang terluka dan harus diselamatkan.” tutup KH Ahmad Yunani.



