Dari Rp200 Juta Jadi Rp575 Juta, Anggaran Cuci Baju Rudy Mas’ud Disorot

Avatar photo

- Penulis

Kamis, 30 April 2026 - 00:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Keterangan foto : Direktur Centre For Budget Analysis (CBA) Uchok Sky Khadafi, Senin (29/1/2024)

i

Keterangan foto : Direktur Centre For Budget Analysis (CBA) Uchok Sky Khadafi, Senin (29/1/2024)

Ikuti kami di Google News

Terasmedia.co Jakarta – Anggaran jasa pencucian pakaian pribadi Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, menjadi sorotan tajam publik. Program yang semula terlihat sepele, yakni urusan laundry pakaian dinas gubernur, kini dipertanyakan karena nilainya dinilai fantastis dan terus melonjak tajam dari tahun ke tahun.

Direktur Eksekutif Center for Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi, mengkritik keras besarnya anggaran tersebut. Ia menilai penggunaan uang daerah untuk kebutuhan pribadi seperti pencucian pakaian sudah melewati batas kewajaran dan mencederai rasa keadilan masyarakat yang membayar pajak.

“Seolah-olah sang gubernur memegang prinsip hidup: jangan sampai kantong sendiri yang bolong, biar kantong kas daerah saja yang berlubang. Ini sudah keterlaluan sekali cara menguras uang pajak rakyat,” kata Uchok Sky dalam keterangannya, Rabu (29/4/2026).

Menurut data yang disampaikan CBA, pada tahun anggaran 2025, biaya jasa pencucian pakaian gubernur tercatat sebesar Rp202,94 juta. Namun pada tahun 2026, angka tersebut melonjak drastis menjadi lebih dari Rp575 juta.

Artinya, terdapat kenaikan sebesar Rp372,06 juta hanya untuk urusan mencuci jas, kemeja, celana dinas, dan perlengkapan pakaian lainnya.

Uchok menilai lonjakan anggaran tersebut sangat sulit diterima akal sehat masyarakat. Ia mempertanyakan alasan di balik kenaikan yang begitu signifikan.

“Publik tentu bertanya-tanya, apa sebenarnya yang terjadi? Apakah baju gubernur sekarang terbuat dari kain sutra impor yang harus dicuci dengan teknologi khusus? Atau apakah jumlah pakaiannya bertambah sangat banyak sampai setiap hari harus berganti puluhan kali?” sindirnya.

Ia bahkan melontarkan kritik lebih tajam dengan mempertanyakan kemungkinan meluasnya penggunaan jasa pencucian tersebut ke hal-hal lain di luar kebutuhan resmi pemerintahan.

“Atau jangan-jangan, jasa cuci ini sudah diperluas untuk mencuci yang lain-lain,” ujarnya.

Menurut Uchok, persoalan ini bukan semata soal angka, tetapi menyangkut moral penggunaan anggaran negara. Ia menegaskan bahwa kebutuhan pribadi pejabat semestinya tidak dibebankan kepada rakyat melalui APBD.

“Sejak kapan urusan kebersihan pribadi harus menjadi beban anggaran bersama? Kalau mencuci baju saja sudah harus pakai uang pajak, nanti jangan-jangan menyisir rambut, memotong kuku, sampai makan siang juga dimasukkan ke dalam pos anggaran kebutuhan operasional pimpinan,” tegasnya.

Ia menambahkan, dana sebesar ratusan juta rupiah tersebut seharusnya bisa dialokasikan untuk kebutuhan yang jauh lebih mendesak dan menyentuh langsung kepentingan masyarakat.

“Angka Rp372 juta itu cukup untuk membangun beberapa sumur bor di daerah yang kekurangan air bersih, atau memberikan bantuan sembako kepada ratusan keluarga kurang mampu. Tapi ini justru habis untuk urusan laundry pejabat,” kata Uchok.

Lebih jauh, Uchok juga menyoroti minimnya respons dari aparat penegak hukum maupun lembaga pengawas negara terhadap anggaran yang dinilai janggal tersebut.

Ia menyebut Kejaksaan Agung, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), hingga auditor negara seharusnya bisa lebih serius menelaah penggunaan anggaran seperti ini agar tidak menjadi preseden buruk dalam tata kelola pemerintahan.

“Melihat anggaran pencucian pakaian gubernur yang sangat fantastis ini, publik bertanya, apakah aparat hukum hanya diam saja? Atau mereka terlalu terpesona dengan gaya berpakaian Sang Gubernur sehingga lupa bahwa uang itu berasal dari pajak rakyat?” pungkasnya.

Sorotan terhadap anggaran ini pun diperkirakan akan terus bergulir, terlebih di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang masih menghadapi tekanan dan kebutuhan dasar yang belum sepenuhnya terpenuhi. Publik kini menanti penjelasan resmi dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur terkait alasan di balik membengkaknya anggaran jasa pencucian pakaian tersebut.

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Komisi I DPR Soroti Maraknya Judi Online, Minta Pemerintah Bertindak Lebih Keras
Skandal PLN Buku 2024–2025 Dilaporkan, MataHukum Desak Kejagung Periksa Direksi
Jalin Hubungan Baik ke Depan Warga Desa Nifasi, PT Kristalin Ekalestari Ajak Forum Diskusi
BNN Petakan Enam Kampung Rawan Narkoba di Bangka Belitung
HANI 2026, BNN Perkuat Pencegahan Narkotika Lewat Gerakan Ananda Bersinar
Survei Litbang Kompas Tunjukkan Tren Positif, DPR Minta Polri Pertahankan Kepercayaan Masyarakat
CBA Sebut Trenggono Punya Modal Terbesar Gantikan Zulhas di PAN, Singgung Harta Rp2,97 Triliun
Soal Demo Bayaran, BaraNusa Desak KSP Dudung Buka Data Pendana Aksi Dukung MBG
Berita ini 55 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 28 Juni 2026 - 22:23 WIB

Komisi I DPR Soroti Maraknya Judi Online, Minta Pemerintah Bertindak Lebih Keras

Minggu, 28 Juni 2026 - 19:44 WIB

Skandal PLN Buku 2024–2025 Dilaporkan, MataHukum Desak Kejagung Periksa Direksi

Minggu, 28 Juni 2026 - 09:25 WIB

Jalin Hubungan Baik ke Depan Warga Desa Nifasi, PT Kristalin Ekalestari Ajak Forum Diskusi

Sabtu, 27 Juni 2026 - 22:02 WIB

BNN Petakan Enam Kampung Rawan Narkoba di Bangka Belitung

Sabtu, 27 Juni 2026 - 21:54 WIB

HANI 2026, BNN Perkuat Pencegahan Narkotika Lewat Gerakan Ananda Bersinar

Berita Terbaru

Ilustrasi Gambar

Daerah

Penemuan Jasad Bayi Gegerkan Warga Sindang Jaya

Minggu, 28 Jun 2026 - 00:23 WIB