Kurniasih Mufidayati: Ketimpangan Akses Pendidikan Tinggi Harus Segera Diatasi

Avatar photo

- Penulis

Senin, 1 Juni 2026 - 21:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Keterangan foto : Wakil Ketua Komisi X DPR RI Fraksi PKS Kurniasih Mufidayati, Senin (1/6/2026)

i

Keterangan foto : Wakil Ketua Komisi X DPR RI Fraksi PKS Kurniasih Mufidayati, Senin (1/6/2026)

Ikuti kami di Google News

Terasmedia.co Jakarta – Wakil Ketua Komisi X DPR RI Fraksi PKS Kurniasih Mufidayati mengingatkan berbagai persoalan pendidikan tinggi yang muncul belakangan ini menunjukkan adanya ketimpangan akses yang semakin nyata dan perlu segera mendapatkan perhatian serius pemerintah.

Menurut Anggota DPR RI Dapil DKI Jakarta II ini, rendahnya Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi Indonesia, tingginya angka mahasiswa putus kuliah, ketimpangan penerimaan mahasiswa antara perguruan tinggi negeri (PTN) dan perguruan tinggi swasta (PTS), hingga ancaman berkurangnya jumlah mahasiswa di banyak kampus swasta merupakan rangkaian persoalan yang saling berkaitan.

“Empat persoalan ini tidak bisa dilihat secara terpisah. Ini adalah alarm bahwa akses pendidikan tinggi kita masih menghadapi tantangan besar. Jangan sampai kuliah hanya menjadi kesempatan bagi kelompok masyarakat tertentu yang memiliki kemampuan ekonomi lebih baik,” kata Kurniasih dalam keterangannya Senin (1/6/2026).

Data menunjukkan APK pendidikan tinggi Indonesia masih berada pada masih di bawah 40 persen. Artinya, sebagian besar penduduk usia kuliah Indonesia belum dapat mengakses pendidikan tinggi.

Di sisi lain, laporan Statistik Pendidikan Tinggi Tahun 2025 mencatat sekitar 289 ribu mahasiswa mengalami putus kuliah. Sebanyak 73,81 persen di antaranya berasal dari perguruan tinggi swasta. Kondisi tersebut menunjukkan masih kuatnya hambatan ekonomi dan sosial yang dihadapi mahasiswa dalam menyelesaikan studi mereka.

Ketua DPP PKS Bidang Pendidikan dan Kesehatan ini juga menyoroti semakin besarnya konsentrasi penerimaan mahasiswa baru di PTN, sementara banyak PTS menghadapi penurunan jumlah mahasiswa secara signifikan. Bahkan sejumlah asosiasi perguruan tinggi swasta melaporkan penurunan penerimaan mahasiswa baru hingga puluhan persen dalam beberapa tahun terakhir.

“Padahal PTS selama ini memiliki kontribusi besar dalam memperluas akses pendidikan tinggi. Jika kampus-kampus swasta terus mengalami tekanan karena kekurangan mahasiswa, maka kapasitas nasional dalam menyediakan layanan pendidikan tinggi juga akan ikut melemah,” ujarnya.

Kurniasih menilai kondisi tersebut berpotensi mempersempit mobilitas sosial generasi muda. Pendidikan tinggi yang seharusnya menjadi jalan peningkatan kesejahteraan dan kualitas sumber daya manusia justru berisiko semakin sulit dijangkau oleh masyarakat kelas menengah dan bawah.

Karena itu, ia mendorong pemerintah untuk memperluasan skema beasiswa dan bantuan biaya pendidikan agar mahasiswa tidak terpaksa menghentikan studi karena faktor ekonomi. Pemberian bantuan biaya UKT dan penyelesaian tugas akhir juga penting untuk ditingkatkan.

Ia juga mendorong penguatan kepastian dan keberlanjutan pendanaan kebutuhan hidup dan kuliah sehingga mahasiswa dari keluarga kurang mampu dapat menyelesaikan pendidikan hingga lulus.

Kurnisih juga meminta ada kebijakan yang lebih berimbang antara PTN dan PTS, termasuk dalam sistem penerimaan mahasiswa baru, afirmasi program bantuan operasional pendidikan, serta dukungan pengembangan kualitas kampus.

“Perlu memperkuat pendidikan vokasi dan program link and match dengan dunia kerja agar pendidikan tinggi semakin relevan dengan kebutuhan industri dan mampu menarik lebih banyak calon mahasiswa,” ungkap Kurniasih.

Selain itu, yang kerap terabaikan adalah menghadirkan skema pendampingan akademik dan psikososial bagi mahasiswa yang rentan putus kuliah, terutama pada tahun-tahun akhir masa studi.

“Target Indonesia Emas 2045 membutuhkan lebih banyak lulusan pendidikan tinggi yang berkualitas. Karena itu, akses masuk kuliah harus diperluas, mahasiswa harus dibantu agar bisa bertahan hingga lulus, dan seluruh ekosistem pendidikan tinggi, termasuk PTS, harus diperkuat secara bersama-sama,” tutup Kurniasih.

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Hadapi Kemarau, Arif Rahman Bantu Warga Baduy dengan Sembako dan 14 RTLH
Sekjen Projo Tegaskan: Tak Pernah Deklarasi Poros Solo dan Koalisi Pilpres 2029
Pramuka SMPN 192 Jakarta dan SMP Perguruan Rakyat 1 Gelar Perkemahan Gabungan di Raynia Camp Bogor
Penerbangan Terdampak Abu Vulkanik, Ombudsman RI Pantau Layanan Penumpang di Bandara
Dewan Pendidikan Papua Tengah: Kunker Gubernur ke Dogiyai Bukti Keberpihakan pada Pendidikan
Hukum Laut Masih Minim Dipahami, Kabid Hankam PPBN Dorong Edukasi Publik
Dr. Rieke Diah Pitaloka: Reforma Agraria Tak Boleh Jadi Obat Sementara
6 Bulan Tak Dibayar PertaMC, Karyawan Subkontraktor Mogok Kerja
Berita ini 23 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 9 September 2026 - 12:30 WIB

Hadapi Kemarau, Arif Rahman Bantu Warga Baduy dengan Sembako dan 14 RTLH

Selasa, 8 September 2026 - 15:50 WIB

Sekjen Projo Tegaskan: Tak Pernah Deklarasi Poros Solo dan Koalisi Pilpres 2029

Selasa, 8 September 2026 - 15:34 WIB

Pramuka SMPN 192 Jakarta dan SMP Perguruan Rakyat 1 Gelar Perkemahan Gabungan di Raynia Camp Bogor

Selasa, 8 September 2026 - 12:14 WIB

Dewan Pendidikan Papua Tengah: Kunker Gubernur ke Dogiyai Bukti Keberpihakan pada Pendidikan

Senin, 7 September 2026 - 07:17 WIB

Hukum Laut Masih Minim Dipahami, Kabid Hankam PPBN Dorong Edukasi Publik

Berita Terbaru

Hukum dan Kriminal

Ditresnarkoba Polda PBD Gagalkan Peredaran Sabu Lintas Provinsi

Selasa, 8 Sep 2026 - 19:00 WIB