Terasmedia.co Malang — Kolaborasi antara Universitas Widyagama Malang (UWG) dan UBHINUS dalam Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Tahun 2026 membawa angin segar bagi UMKM Batik Lintang di Desa Ngijo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang. Didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), program ini mempertemukan pemanfaatan teknologi desain generatif dengan kearifan lokal para pembatik — memperluas eksplorasi motif tanpa pernah melepaskan kendali dari tangan dan hati para artisan.
Hingga laporan kemajuan per 15 Agustus 2026, berbagai kegiatan telah berjalan, mulai dari sosialisasi dan kesepakatan program, pelatihan storytelling dan nilai warisan budaya, pelatihan desain dan eksplorasi motif, hingga pendampingan manajerial dalam penetapan harga dan pembangunan portofolio produk premium yang terintegrasi dengan branding digital.
Teknologi sebagai Alat, Artisan sebagai Pemegang Kendali
Ketua Tim PKM, Dr. Hanif Rani Iswari, S.E., M.M., Dosen Manajemen UWG, menegaskan bahwa teknologi dalam program ini tidak pernah dimaksudkan untuk menggantikan peran pembatik. Justru sebaliknya — desain generatif hadir untuk memperluas ruang imajinasi, sementara para artisan tetap menjadi penentu utama kesesuaian visual, kedalaman filosofi, dan kelayakan produksi.
“Yang ingin kami bangun bukan batik yang bergantung pada teknologi, tetapi artisan yang mampu menggunakan teknologi secara kritis. Teknologi membantu membuka alternatif, sementara keputusan tentang identitas, makna, kualitas, dan kelayakan produksi tetap berada pada pembatik,” ujar Hanif.
Saiful Yahya, S.Sn., M.T., Dosen DKV Fakultas Ekonomi Kreatif UBHINUS, mempertegas hal serupa. Menurutnya, desain generatif memang mempercepat proses pencarian ide, namun tidak dapat mengambil alih pengetahuan kontekstual yang dibangun pembatik selama bertahun-tahun.
“Teknologi generatif kami tempatkan sebagai ruang eksplorasi. Pengetahuan artisan tetap menjadi filter utama, karena tidak semua visual yang dihasilkan teknologi memiliki kesesuaian budaya dan kelayakan untuk diterjemahkan menjadi batik,” jelas Saiful.
Hasil desain generatif kemudian diseleksi dan diadaptasi secara manual menjadi batik tulis — membuktikan bahwa kemajuan zaman dan kearifan tradisional dapat berjalan beriringan, saling memperkuat, bukan saling menggantikan.
Mengubah Cara Pandang: dari Biaya Produksi ke Nilai Budaya
Penguatan desain kemudian dihubungkan dengan penguatan manajerial melalui pendampingan Dr. Sodik, S.E., M.Si., Dosen Akuntansi UWG. Ia mengajak para pelaku usaha untuk tidak lagi menghitung harga hanya dari bahan dan ongkos produksi semata, melainkan mulai mengenali dan menerjemahkan komponen-komponen nilai yang sesungguhnya membentuk harga sebuah karya batik.
Kompleksitas pengerjaan, waktu pengerjaan, keahlian tangan pembatik, kelangkaan desain, filosofi motif, hingga legitimasi budaya — semuanya menjadi dasar untuk membagi produk ke dalam kategori reguler, unggulan, dan eksklusif. Dengan demikian, setiap karya memiliki posisi dan alasan nilainya yang jelas di mata pasar.
“Produk batik tidak cukup dihitung dari bahan dan ongkos produksinya. Nilai juga dibentuk oleh proses, keterampilan artisan, kelangkaan, dan cerita budaya. Mitra perlu mampu menjelaskan mengapa satu produk berada pada kategori tertentu dan apa yang membedakannya,” tegas Dr. Sodik.
Cerita di Balik Kain, Nilai di Balik Motif
Tak hanya soal desain dan harga, Batik Lintang juga didampingi untuk mengangkat cerita di balik setiap karya. Filosofi motif, keunikan proses pembuatan, hingga identitas dan kehidupan para pembatik disusun menjadi narasi yang memperkuat posisi produk di mata konsumen.
Ita Fitriyah, pemilik Batik Lintang, menyambut antusias pendekatan yang menempatkan pembatik sebagai pusat dari segala proses.
“Teknologi membantu kami melihat lebih banyak kemungkinan desain, tetapi hasilnya tetap harus kami baca lagi: apakah sesuai dengan karakter Batik Lintang, dapat dibatik, dan memiliki cerita yang tepat. Pengalaman pembatik tetap sangat penting,” ungkap Ita.
Bukan Sekadar Pendampingan, Melainkan Pemberdayaan
Kolaborasi UWG dan UBHINUS ini diharapkan menjadi jembatan transfer pengetahuan dua arah yang berkelanjutan. Perguruan tinggi membawa teknologi dan metode baru, sementara para artisan menyumbangkan kearifan budaya yang tak ternilai. Tujuannya satu: agar setelah program berakhir, Batik Lintang semakin mandiri — mampu berinovasi, mengelola nilai produknya dengan tepat, dan tetap bangga mempertahankan jati diri budayanya di tengah persaingan pasar yang semakin dinamis.












