Soeharto Pantas Dapat Gelar Pahlawan Nasional

Soeharto Pantas Dapat Gelar Pahlawan Nasional I Teras Media
Oleh: DR Jerry Massie MA, D.MIn, Ph.D (Direktur Eksekutif Political and Public Policy Studies- P3S)
Ikuti kami di Google News

Terasmedia.co Jakarta – Presiden Prabowo baru saja menganugerahkan gelar pahlawan nasional pada Presiden ke-2 RI Soeharto. Saya kira mendiang Soeharto layak jadi pahlawan nasional mengingat jasa-jasanya bagi bangsa Indonesia.

Ada sejumlah faktor dan indikator dia berhak menerima penghargaan ini misalkan dibidang ekonomi Soeharto mampu menurunkan inflasi di era 60-an pada masa Presiden Soekarno dari 600 persen turun menjadi 10 persen.

Bidang Ekonomi

Bacaan Lainnya

Kuncinya, kala itu, Soeharto merekrut sejumlah jawara ekonomi dan jagoan di bidang ekonomi menjadi menteri. Mereka ahli fiskal, moneter, SDM sampai ekonomi makro. Diantara mereka, ada nama-nama cukup tersohor antara lain Widjojo Nitisastro, Ali Whardana (3 periode Menteri Ekonomi), Ma’rie Muhammad, JN Sumarlin, Radius Prawiro, sampai ayahanda Presiden Prabowo Subianto yakni Soemitro Djodjohadikusumo.

Bahkan, di tahun (1996-1997), ekonomi Indonesia tembus 7,8 persen. Alhasil, Indonesia mengalahkan Raksasa Asia seperti Jepang, Korea Selatan sampai China. Sampai-sampai Indonesia dijuluki ‘Macan Asia’.

Dibidang Teknologi

Kejayaan Soeharto terjadi di era 80-an yakni mampu membeli atau mengakuisisi Indosat dari Amerika Serikat pada tahun (1980-1984) dengan nilai 43,6 juta dollar AS dari International Telephone & Telegraph (ITT), pada periode sebelumnya sempat patungan dengan AS pada 10 November 1967.

Usulan awal untuk mengakuisisi dilakukan setelah penolakan Indosat atas proyek pemerintah yang kemudian ditindaklanjuti dengan membentuk tim akuisisi yang dipimpin oleh J.B. Sumarlin untuk merundingkan pembelian saham ITT.

Dibidang teknologi lainnya, baru diera Soeharto kita Indonesia mampu memiliki satelit Palapa, dan pertama diluncurkan pada 9 Juli 1976. Satelit ini, yang dikenal sebagai Palapa A1, diluncurkan dari Cape Canaveral, Florida, dan menjadi tonggak sejarah penting yang menandai dimulainya era komunikasi satelit domestik di Indonesia.

Peluncuran Palapa A1: Tanggal 9 Juli 1976 adalah tanggal peluncuran di Indonesia, yang mengacu pada 8 Juli 1976 pukul 23.31 UTC atau 9 Juli 1976 pukul 06.31 WIB.

Sedangkan peluncuran satelit Palapa lainnya: Peluncuran satelit-satelit Palapa lainnya memiliki tanggal yang berbeda, misalnya Palapa B1 diluncurkan pada 18 Juni 1983

Bayangkan saja, China kalah bersaing dengan kita, pasalnya Negeri Tirai Bambu ini baru meluncurkan satelit pertamanya pada 24 April 1970, yaitu satelit bernama Dong Fang Hong 1 (atau China 1).

Sedangkan, Korea Selatan baru meluncurkan satelit pertama yakni KITSAT-1 (atau KITSAT-A), yang diluncurkan pada 11 Agustus 1992.
Begitu negara maju Jepang punya satelit Ōsumi , satelit Bumi pertama yang mengorbit Jepang . Diluncurkan pada 11 Februari 1970 dari Pusat Antariksa.

Begitu pula teknologi otomotif kita masih lebih baik dari China. Mobil nasional di era Soeharto yang meluncur di jalanan yakni Timor, yang diluncurkan tahun 1996 di bawah PT Timor Putra Nasional (milik Tommy Soeharto).

Mobil ini sebenarnya adalah rebadge dari Kia Sephia asal Korea Selatan dan menjadi kontroversial karena diduga menggunakan praktik KKN serta berhadapan dengan kasus pelanggaran perdagangan internasional di WTO.

Selain Timor, ada juga proyek Maleo yang diprakarsai oleh BJ Habibie saat menjabat sebagai 1Menristek, namun akhirnya gagal karena kalah bersaing dengan proyek Timor.

Sebetulnya, kita hampir saja menjadi negara maju lantaran era keemasan Soeharto kita punya satelit, mobil, sampai pesawat terbang.

Pesawat terbang dimasa pemerintahan Soeharto meliputi pesawat kepresidenan yang dioperasikan untuk penerbangan domestik dan internasional (seperti DC-9, Fokker-28, dan DC-10) serta pesawat C-130 Hercules untuk kebutuhan militer.

Selain itu, masa ini juga merupakan era penting bagi industri kedirgantaraan Indonesia dengan diluncurkannya Pesawat CN-235 (produksi IPTN) pada 1983 dan Pesawat N-250 Gatotkaca pada 1995.

Bahkan Indonesia punya pesawat tempur handal meliputi jet tempur yang dimiliki Indonesia, di antaranya adalah F-5E Tiger, A-4 Skyhawk yang didatangkan melalui operasi rahasia dari Israel, serta BAE Hawk 109 dan 209. Beberapa pesawat lain seperti F-86 Sabre dan Skyhawk bekas juga dibeli pada masa itu. Bukan hanya tekjologi, ekonomi tapi sejumlah bidang lain.

Bidang Pendidikan

Sektor pendidikan berjaya di awal 90-an mendiang Presiden Soeharto hingga tahun 1994, telah membangun SD Inpres sebanyak 150.000 di seluruh Indonesia, jauh melebihi angka 64 ribu.

Dampak: Program ini terbukti sangat berhasil, secara signifikan menurunkan angka buta huruf, meningkatkan angka partisipasi murni (APM) anak di tingkat SD, dan bahkan menjadi objek penelitian para ekonom yang kemudian memenangkan Hadiah Nobel Ekonomi pada tahun 2019 karena dampaknya yang besar terhadap peningkatan upah dan taraf hidup. Total Pembangunan: Hingga tahun 1994, tercatat hampir 150.000 unit SD Inpres telah dibangun di seluruh Indonesia, jauh melebihi angka 64 ribu.

Dampak: Program ini terbukti sangat berhasil, secara signifikan menurunkan angka buta huruf, meningkatkan angka partisipasi murni (APM) anak di tingkat SD, dan bahkan menjadi objek penelitian para ekonom yang kemudian memenangkan Hadiah Nobel Ekonomi pada tahun 2019 karena dampaknya yang besar terhadap peningkatan upah dan taraf hidup.

Bukan hanya bangun SD Inpres saja ,tapi lewat LPDP ada banyak jebolan universitas ternama di luar negeri dan ada Magia “Berkeley” yang cukup disegani konsep, pemikiran kritis dan kebijakannya antara lain : Widjojo Nitisastro, Emil Salim, Mohammad Sadli

Subroto, Ali Wardhana mereka adalah geng Universitas Indonesia.

Bahkan di era Soeharto melahirkan cendikiawan yang diakui dunia seperti Ptof BJ Habibie pencipta pesawat Gatot Koco dan cendikiawan lainnya. Serta ada dua tokoh intelejen yang hebat di eranya yaitu Benny Moerdani dan Ali Murtopo. Keduanya sangat dipercaya Soeharto di kabinet.

Bidang Pangan

Sementara sektor pangan menjadi andalan dan unggulan pemerintahan Soeharto . Betapa tidak baru dimasanya Indonesia mencapai puncaknya sesuai “Trilogi Pembangunan” dan salah satunya selain pertumbuhan ekonomi, stabilitas nasional yakni ketahanan pangan. Pada tahun 1984 merupakan era keemasan Presiden ke-2 Republik Indonesia ini.

Yang mana Indonesia berhasil mencapai swasembada beras yang sebelumnya merupakan importir beras terbesar.

Tahun tersebut Indonesia berhasil memproduksi beras sesuai dengan kebutuhan konsumsi nasional. Penghargaan FAO: Atas pencapaian ini, Soeharto diundang untuk berbicara di depan Konferensi FAO di Roma pada November 1985.

Bantuan pangan: Indonesia sempat menyumbangkan 100.000 ton padi kepada korban kelaparan di Afrika.

Hasil yang dicapai ini tak terlepas dari pembangunan infrastruktur yakni Soeharto memberikan perhatian besar pada pembangunan irigasi pertanian yang tersebar di seluruh Indonesia

Selanjutnya peningkatan intensifikasi dan ekstensifikasi Program seperti cetak sawah, pembangunan waduk, dan pembangunan pabrik pupuk dilakukan secara bertahap untuk meningkatkan hasil produksi.

Program Kelompencapir: Program di TVRI ini menjadi sarana dialog langsung antara petani dan pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan petani.

Penghargaan Internasional Soeharto

Selama 32 tahun berkuasa puluhan penghargaan nasional dan internasional telah diraih Soeharto Soeharto menerima beberapa penghargaan internasional.

Yang paling terkenal adalah UN Population Award dari PBB pada tahun 1989 atas program Keluarga Berencana (KB) di Indonesia, Health for All Gold Medal Award dari WHO pada tahun 1991 atas peningkatan kesehatan masyarakat, dan FAO World Food Day Award dari FAO pada tahun 1985 karena Indonesia mencapai swasembada beras.

Ia juga menerima Global Statesman Award dari The Population Institute pada tahun 1988. Penghargaan ini berdasarkan bidang
Kependudukan dan Pembangunan
UN Population Award (1989):

Penghargaan tertinggi dari PBB di bidang kependudukan, diberikan atas keberhasilan program KB di Indonesia.

Global Statesman Award (1988): Diberikan oleh The Population Institute sebagai bentuk pengakuan atas keberhasilan program KB.
United Nation Development Programme (UNDP) Award (1997): Diterima pada 8 September 1997.
Kesehatan

Health for All Gold Medal Award (1991): Penghargaan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) atas keberhasilan pemerintah Indonesia meningkatkan kesehatan masyarakat. Pangan dan Pertanian FAO World Food Day Award (1985): Penghargaan dari Food and Agriculture Organization (FAO) atas keberhasilan Indonesia mencapai swasembada beras.

Soeharto juga menyabet penghargaan bergensi lainnya yakni Avicenna Medals (Medali Ibnu Sina) dari UNESCO:

Diterima pada tahun 1997 sebagai pengakuan atas perannya sebagai tokoh pendidikan internasional dan keberhasilannya mengembangkan sistem pendidikan dasar yang dapat dicontoh negara lain.

Global Statesman Award in Population: Diterima pada tahun 1988 sebagai negarawan pertama yang menerima penghargaan ini dari sebuah lembaga internasional.

Penghargaan dari United Nation Development Programme (UNDP): Diterima pada tahun 1997

Pos terkait