Mengubur Reformasi dengan Gelar Kepahlawanan

Avatar photo

- Penulis

Kamis, 13 November 2025 - 13:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Keterangan foto : Mantan Presiden ke 2 Soeharto dan Presiden RI Prabowo Subianto, Kamis (13/11/2025)

i

Keterangan foto : Mantan Presiden ke 2 Soeharto dan Presiden RI Prabowo Subianto, Kamis (13/11/2025)

Ikuti kami di Google News

Terasmedia.co Jakarta – Setiap pemimpin memiliki agenda pada masa lalunya. Diakui atau tidak, Prabowo tidak pernah bisa menghindar dari stampel representasi orde baru.

Menjadi bagian dari pergulatan catatan kelam sejarah bangsa, bagi jabatan orang nomer satu di negeri ini punya banyak ruang kekuasaan untuk merubah apapun.

Termasuk Masa Lalunya

Dimulai dari penghapusan kerusuhan 98 bukan sebagai pelanggaran HAM, berlanjut dengan pemberian gelar Pahlawan kepada Suharto, diktator 32 tahun.

Prabowo ingin merubah catatan kelam bangsa menjadi etalase glamour tanpa bercak darah dan caci maki. Semua dilakukan dalam kemasan demokrasi : mendengar aspirasi berbagai pihak, mempertimbangkan suara mayoritas dll.

Namun tetap otoriter. Karena keputusan sudah dibuat sebelum wacana dilempar ke publik sebagai basa-basi demokrasi.

Apa yang Kemudian Terjadi?

Pro kontra diciptakan sebagai pengalihan isu sekaligus menghitung ulang siapa saja yang setuju atau tidak akan kebangkitan Orde Baru.

Mayoritas aktivis Reformasi yang menumbangkan Suharto sudah dirangkul. Sebagian lagi tidak bersuara karena lumpuh dalam pilihan oposisi.

Tinggal menyisakan publik netijen yang bebas beropini dan berkomentar apapun. Jumlahnya tidak banyak, namun dipercaya mampu menggerakkan kesadaran publik tentang topeng penguasa yang kini sedang giliran di pos jaga.

Wajah kekuasaan yang mendadak sosialis saat pembagian bansos dan MBG. Mendadak kapitalis saat transaksi tambang dan SDA. Berubah demokratis pada siklus limatahunan

Namun celakanya secepat kilat otoriter saat membuat keputusan

Suharto barter dengan Marsinah, menjadi Pahlawan bersanding di tahun yang sama. Begitulah cara unik mengubur Reformasi yang digadang-gadang sebagai keberhasilan rakyat menumbangkan penguasa dzolim.

Kita Bisa Apa?

Tetaplah bersuara meskipun di kesunyian. Setidaknya kita sudah punya pilihan tidak ikut arus besar bukan karena tidak pandai berenang. Tetapi menjadi batu di dasar arus yang bertahan tidak kemana-mana di setiap musim pancaroba kekuasaan.

Penulis : Dahono Prasetyo dari Litbang Demokrasi

 

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Rozi Hariansyah: Di Balik Krisis Metode, Ada Manusia yang Hilang dari Diagnosis
Harmonisasi Implementasi KDKMP Guna Membangun Kepercayaan Antara Negara, Pengelola, dan Masyarakat
Harmonisasi Implementasi KDKMP Guna Membangun Kepercayaan Antara Negara, Pengelola, dan Masyarakat
 Kemerdekaan di Tengah Duka, Hajar Wisnu Hardiansyah: Kemerdekaan Bukan Sekadar Seremoni
Moment HUT Kemerdekaan RI ke 81, Para Pendaki Harus Berjuang Memerdekakan Gunung Dari Sampah
Jantung Bisnis Adalah Manusia: Mengapa Manajemen SDM Modern Membutuhkan Sentuhan Norma Agama
Ketika Perlindungan Hukum Berubah Menjadi Alasan Menghilangkan Hak Buruh
Mengapa Menteri Ketenagakerjaan Membatasi Penetapan Ulang Upah Minimum?
Berita ini 15 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 19:01 WIB

Rozi Hariansyah: Di Balik Krisis Metode, Ada Manusia yang Hilang dari Diagnosis

Rabu, 2 September 2026 - 20:14 WIB

Harmonisasi Implementasi KDKMP Guna Membangun Kepercayaan Antara Negara, Pengelola, dan Masyarakat

Rabu, 2 September 2026 - 19:20 WIB

Harmonisasi Implementasi KDKMP Guna Membangun Kepercayaan Antara Negara, Pengelola, dan Masyarakat

Minggu, 23 Agustus 2026 - 21:45 WIB

 Kemerdekaan di Tengah Duka, Hajar Wisnu Hardiansyah: Kemerdekaan Bukan Sekadar Seremoni

Selasa, 18 Agustus 2026 - 22:23 WIB

Moment HUT Kemerdekaan RI ke 81, Para Pendaki Harus Berjuang Memerdekakan Gunung Dari Sampah

Berita Terbaru