Sikapi Perbedaan Pendapat dan Isu Disharmoni Pimpinan KPK, Pakar Hukum Bilang Begini

Avatar photo

- Penulis

Minggu, 19 Februari 2023 - 13:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ikuti kami di Google News

Terasmedia.co JAKARTA – Pakar hukum ungkap perbedaan pendapat dalam menyikapi ekspose pidana dan isu hubungan disharmonisasi pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Pancasila Prof. Agus Surono mengatakan perbedaan pandangan atau pendapat merupakan sesuatu yang wajar dan menjadi dinamika prosesual dalam mengambil suatu keputusan.

“Tidak bisa diartikan sebagai subyektifitas keputusan pimpinan,” kata Prof. Agus Surono kepada wartawan, Minggu (19/2/2023).

Baca juga : Inisial O dari Tanjab Barat Menggema di Halaman Gedung KPK RI, Siapakah Dia?

Agus Surono juga menegaskan bahwa isu hubungan kurang harmonis Pimpinan KPK, tampaknya soal mispersepsi mengenai pro-kontra keputusan kasus Formula E.

Perbedaan pendapat diantara pimpinan maupun pejabat struktural penindakan tidak berarti sebagai stigma figur kelembagaan Pimpinan KPK, tetapi sebagai karakter pengajuan ciri demokratis kelembagaan.

Lagipula, menurut Agus, perbedaan pendapat itu sudah menjadi karekter demokratis kelembagaan seperti KPK, jadi tidak perlu menjadi polemik. Pimpinan KPK memberikan pendapat dalam suatu ekspose perkara justru suatu keharusan untuk mempertegas kepastian hukumnya.

“Dan tentunya tidak bisa dipersepsikan sebagai suatu pemaksaan. Pendapat Pimpinan yang kolektif kolegial dalam suatu ekspose kan, justru demokratis dan sudah terjadi sejak era berdirinya KPK,” ujarnya.

Sementara, Guru Besar Ilmu Hukum Univesitas Indonesia Prof. Indriyanto Seno Adji mengatakan tidak ada yang keliru terhadap dinamisasi prosesual dalam mengambil suatu keputusan.

Termasuk dalam mengambil keputusan suatu ekspose perkara diantara Pimpinan KPK maupun Pimpinan dengan pejabat struktural penindakan.

“Perbedaan pendapat hal yang lumrah, wajar, netral dan ciri demokratis kelembagaan yang menjadi karakter KPK. Final Decision Pimpinan-lah yang menentukan kelanjutan tidaknya proses suatu perkara dan ini yang harus menjadi acuan semua insan kelembagaan yang terlibat dalam prosesual tersebut,” kata Indriyanto Seno Adji.

Ia melanjutkan dinamisasi perbedaan pendapat adalah demokratis yang wajar, dan terpenting keputusan final berada pada tangan pimpinan. Keputusan dan atau kebijakan Pimpinan, baik itu wetmatigheid maupun yang doelmatigheid harus tetap dijalankan bagi kepentingan integritas marwah kelembagaan yg independen seperti KPK.

“Hal ini juga terjadi saat era saya sebagai salah satu Pimpinan KPK saat lalu, dan tidak masalah. Berjalan biasa saja,” pungkasnya.

Mengenai hubungan yang kurang harmonis diantara Pimpinan KPK, Seno Adji berpendapat bahwa dewan pengawas (Dewas) telah memberikan masukan terkait dukungan penguatan kolektif kolegial sebagai titik temu yang positif bagi Pimpinan KPK.

“Saya lihat ini sudah dijalankan secara well implementated kok. Jadi sama sekali tidak ada masalah. KPK kan lembaga yang selalu menjadi sorotan publik, sehingga bayangan jejaknya KPK saja bisa menjadi isu polemik publik,” paparnya.

Sebagai salah satu Dewas KPK, Seno Adji bersyukur bahwa Pimpinan KPK mendukung masukan secara bijak dari pihaknya tentang penguatan kolektif kolegial kelembagan Pimpinan KPK.

“Penguatan kolektif kolegial adalah basis integritas kelembagaan seperti KPK yang independen dalam rangka penegakan hukum ini,” ujarnya. (Ren)

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Dave Laksono Dukung Evaluasi Total Latsarmil Kopdes Usai Lima Peserta Meninggal
Komisi I DPR Soroti Maraknya Judi Online, Minta Pemerintah Bertindak Lebih Keras
Jalin Hubungan Baik ke Depan Warga Desa Nifasi, PT Kristalin Ekalestari Ajak Forum Diskusi
HANI 2026, BNN Perkuat Pencegahan Narkotika Lewat Gerakan Ananda Bersinar
Survei Litbang Kompas Tunjukkan Tren Positif, DPR Minta Polri Pertahankan Kepercayaan Masyarakat
CBA Sebut Trenggono Punya Modal Terbesar Gantikan Zulhas di PAN, Singgung Harta Rp2,97 Triliun
Soal Demo Bayaran, BaraNusa Desak KSP Dudung Buka Data Pendana Aksi Dukung MBG
Gedung Diklat Kemenhut di Bogor Dipakai PSI, MataHukum: Melanggar Aturan Aset Negara
Berita ini 2 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Minggu, 28 Juni 2026 - 22:50 WIB

Dave Laksono Dukung Evaluasi Total Latsarmil Kopdes Usai Lima Peserta Meninggal

Minggu, 28 Juni 2026 - 22:23 WIB

Komisi I DPR Soroti Maraknya Judi Online, Minta Pemerintah Bertindak Lebih Keras

Minggu, 28 Juni 2026 - 09:25 WIB

Jalin Hubungan Baik ke Depan Warga Desa Nifasi, PT Kristalin Ekalestari Ajak Forum Diskusi

Sabtu, 27 Juni 2026 - 21:54 WIB

HANI 2026, BNN Perkuat Pencegahan Narkotika Lewat Gerakan Ananda Bersinar

Sabtu, 27 Juni 2026 - 21:44 WIB

Survei Litbang Kompas Tunjukkan Tren Positif, DPR Minta Polri Pertahankan Kepercayaan Masyarakat

Berita Terbaru