Mudik, Kisah Perjuangan Bagi Para Perantau

Teras Media

- Penulis

Sabtu, 5 April 2025 - 19:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Keterangan Foto : Oleh : Tri Satria

i

Keterangan Foto : Oleh : Tri Satria

Ikuti kami di Google News

Terasmedia.co Jakarta – Setiap tahun, umat Islam merayakan hari Raya Idul Fitri setelah sebulan penuh melaksanakan puasa di bulan Ramadhan. Begitu juga yang terjadi untuk masyarakat Indonesia yang beragama Islam, meskipun pada pelaksanaannya hari raya tersebut juga dirayakan oleh masyarakat non Muslim sebagai tradisi indahnya toleransi beragama di Indonesia, Jakarta 5 April 2025.

Disetiap pelaksanaan hari Raya Idul Fitri 1 Syawal yang kebetulan untuk saat ini jatuh pada tanggal 31 Maret 2025, kita melihat kesibukan kebanyakan masyarakat yang pergi kekampung halaman, yang kita kenal dengan sebutan Mudik.

Namun demikian, sebegitu pentingnya arti mudik, namun ada beberapa para perantau yang tidak dapat melaksanakan mudik karena sesuatu alasan, yang pasti mereka tetap memiliki harapan untuk pulang.

Selain untuk merayakan hari raya, mudik juga dilakukan untuk melepas kerinduan pada orang tua, keluarga dan kampung halaman.

Secara tidak langsung mudik mengingatkan kepada para perantau agar tidak melupakan tanah dimana ia dilahirkan.

Banyaknya dari para perantau yang hidup sukses di perantauan, menjadi isyarat bahwa kehidupan selama di perantauan tidaklah manis namun penuh dengan lika – liku perjuangan. Mereka memulai dari keterasingan di tanah orang yang harus beradaptasi untuk menggapai sesuatu yang diinginkan.

Terlebih lagi bagi para perantau di ibukota, sangatlah tidak mudah mencari cuan di tengah bayang-bayang jahatnya kota. Dimana karakter yang kita temui sangat jauh berbeda dengan apa yang kita pikirkan.

Merantau bukan hanya soal mencari uang dan kemewahan hidup, jika hanya itu tujuannya, maka tak sedikit para perantau yang terjebak didalam dunia Kriminalitas atau dunia yang jauh dari kemanusiaan lalu berakhir didalam penjara. Hal itu bisa terjadi bagi para perantau yang terlibat kasus pencurian, kekerasan, bahkan korupsi.

Maka dari itu, bagi para perantau lebih harus memiliki kewaspadaan hidup saat berada di negri orang. Tak lupa juga dengan pribahasa, “Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. ”

Merantau adalah seni menggapai cita-cita dengan kesungguhan hati yang penuh dengan kesabaran dan keikhlasan. Apapun yang dijalani pasti akan beresiko terlebih lagi dinegri orang.

Namun demikian, semua akan bisa terlewati dan menghasilkan sesuatu yang manis untuk dibawa pulang dan berbagi kebahagiaan oleh sanak keluarga atau kerabat di kampung halaman.

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Sidang Sengketa Lahan Haji Makawi vs PT Summarecon Agung Tbk Ditunda, Ahli Waris Tunggu Pembuktian Balasan
Kejagung Didesak Periksa Direksi PT MBA Terkait Tender Rp121 Miliar Kemenag
Arifki Chaniago: Karir Jokowi Dibentuk Banyak Faktor, Bukan Satu Orang
Kritik Keras Jerry: Ahmad Ali Kutu Loncat Politik, Diduga Cari Safety Kasus
Soroti Kejanggalan Fiskal, Jerry: Gubernur Tak Tahu Jaga Uang Rakyat
Pertalite dan Solar Tidak Naik, Bukti Pemerintah Berpihak Rakyat Kecil
Sri Rahayu Korban Kecelakaan, Achmad Ismail: Ini Pelanggaran Hukum yang Nyata
Anak-Istri Bintoro Jadi ‘Tahanan Rumah’ Kurator sejak 2025, Bintoro Ungkap Dugaan Pemalsuan Dokumen Pailit
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 20 April 2026 - 15:39 WIB

Sidang Sengketa Lahan Haji Makawi vs PT Summarecon Agung Tbk Ditunda, Ahli Waris Tunggu Pembuktian Balasan

Senin, 20 April 2026 - 15:20 WIB

Kejagung Didesak Periksa Direksi PT MBA Terkait Tender Rp121 Miliar Kemenag

Senin, 20 April 2026 - 14:53 WIB

Arifki Chaniago: Karir Jokowi Dibentuk Banyak Faktor, Bukan Satu Orang

Senin, 20 April 2026 - 14:04 WIB

Kritik Keras Jerry: Ahmad Ali Kutu Loncat Politik, Diduga Cari Safety Kasus

Senin, 20 April 2026 - 11:56 WIB

Pertalite dan Solar Tidak Naik, Bukti Pemerintah Berpihak Rakyat Kecil

Berita Terbaru