Mirip Kasus Amsal Sitepu, Kasus Kominsa Simeulue Diduga Bungkam Wartawan

Avatar photo

- Penulis

Sabtu, 18 April 2026 - 12:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ikuti kami di Google News

Terasmedia.co Simeulue – Kasus Korupsi Iklan Media dan Advertorial di Dinas Kominsa Simeulue Aceh yang dikerjakan tiga perusahaan media  menjadi perhatian publik. Kasus ini mirip dengan kasus Amsal Sitepu yang viral. Dan diduga kasus ini lebih mengarah kepada pembungkaman terhadap media dan wartawan di Simeulue yang kritis.

Anehnya lagi, kasus Korupsi Kominsa Simeulue ini tidak ditemukan adanya mark-up, kegiatan fiktif, atau suap-menyuap antara pelaksana dengan pihak Dinas.
Selain itu, volume pekerjaan yang telah dikerjakan 3 perusahaan media melebihi dari penawaran. Dan semua pekerjaan pada kegiatan tersebut dikerjakan dengan baik.

Dari nilai Rp 697 juta itu, salahsatu direkturnya sudah meninggal dunia. Sementara yang dikerjakan media Gumpalan hanya Rp 264 juta melalui Penunjukan Langsung (PL).

“Kasus Korupsi Iklan Media di Dinas Kominsa Simeulue ini aneh dan janggal. Kegiatannya Ada dikerjakan. Pekerjaannya Tidak  fiktif. Tidak mark-up. Tidak ada suap menyuap. Volume melebihi penawaran. Kasus ini mirip kasus Amsal Sitepu. Ini lebih kepada dugaan pembungkaman terhadap media dan wartawan,”ujar sumber media ini. (15/04/2026).

Sementara yang dipersoalkan Penyidik Kejaksaan Negeri Simeulue Aceh, hanya persoalan tidak dilelang, dan persoalan Mou atau surat perjanjian kerjasama yang berlaku mundur.

Untuk diketahui, kegiatan tersebut tidak dilelang karena nilainya dibawah Rp 200  juta,  sesuai dengan pembahasan oleh tim TAPK Kabupaten Simeulue. Maka lahirlah DPA yang nilainya dibawah Rp 200 juta sebagai dasar pengamprahan Dinas Kominsa Simeulue. Dan semua pencairannya sesuai dengan surat keputusan Bupati Simeulue atau Standar Biaya Umum (SBU).

“Itu tidak dilelang karena kegiatannya Penunjukan Langsung (PL),”ungkapnya.

Selain itu kata dia,  Dinas Kominsa Simeulue berpedoman kepada  peraturan LKPP Nomor 5 Tahun 2021.

“Itu pekerjaannya sudah sesuai dengan peraturan LKPP Nomor 5 Tahun 2021. Pencairannya sesuai SBU. Tidak dilelang karena di DPA memang Penunjukan Langsung (PL). Nilai Rp. 697 juta itu jumlah keseluruhan masih gelondongan. Setelah dibahas di tim TAPK maka baru terpecah menjadi dibawah Rp 200 juta,”jelas sumberlainnya.

Kajari Simeulue Ilham Wahyudi dalam keterangan persnya sesaat setelah penetapan tersangka pada 09 februari lalu mengatakan, bahwa penetapan  tersangka atas kasus tersebut berdasarkan hasil audit BPKP Perwakilan Aceh yang menyebutkan bahwa adanya indikasi kerugian negara.

Menariknya lagi Mahkamah Konstitusi dalam pertimbangannya yang telah diberitakan sejumlah media Nasional memutuskan bahwa satu-satunya yang berwenang mengaudit kerugian negara adalah BPK dan bukan BPKP.

Perhitungan kerugian negara yang dilakukan BPKP dinilai tidak logis, terutama ketika sejumlah komponen jasa iklan dan advertorial seperti iklan banner dan berita  dinilai nol rupiah.

Kasus dugaan korupsi yang menjerat Direktur Media Gumpalannews.com KA dalam proyek pengadaan jasa publikasi media di Dinas Kominsa Simeulue  menuai sorotan dari berbagai kalangan. Penanganan perkara ini dinilai berpotensi mencederai rasa keadilan substantif sekaligus mengancam keberlangsungan industri media di Indonesia.

Apalagi kasus ini sejak awal sangat janggal. Misalnya, kasus ini naik ke penyidikan tanggal 27 Juli 2023 tapi hasil audit BPKP terbit 7 Juni 2024.

Artinya, penyidik lebih awal menyimpulkan adanya kerugian negara atas kasus tersebut, dan audit BPKP Perwakilan Aceh diduga hanya formalitas.

“Masak naik ke penyidikan dulu baru kemudian diaudit oleh BPKP. Ini diduga lebih mengarah kepada pembungkaman terhadap media dan wartawan?,”katanya.

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Ketua DPRD Kota Serang Turun Tangan Bantu Warga Kasemen yang Butuh Rehabilitasi
LBH PRABHU Lantik Pengurus Cabang Kota Tangerang Selatan, Perkuat Akses Keadilan bagi Masyarakat
Wamena, Papua Muda Progresif Dorong Dialog dan Perlindungan Warga di Tengah Konflik
Ketua PW Fatayat NU Banten Ajak Kader Fatayat NU Cikeusal Terus Bergerak Menebar Manfaat
Keterangan Ahli Tunjukkan Cacat Hukum, Perkara Gabriel Lumbantoruan Dinilai Melukai Keadilan
Ketika Modal Melintasi Batas, Mengapa Tanggung Jawab Lingkungan Harus Berhenti di Perbatasan
Tim Tabur Kejati Banten Berhasil Tangkap DPO Penipuan di Tegal ​
Sinergi Lintas Lembaga Terjalin Indah, Komisi III DPR RI Pantau Langsung Kinerja Kejati Banten
Berita ini 18 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Minggu, 27 September 2026 - 14:51 WIB

Ketua DPRD Kota Serang Turun Tangan Bantu Warga Kasemen yang Butuh Rehabilitasi

Minggu, 27 September 2026 - 07:04 WIB

LBH PRABHU Lantik Pengurus Cabang Kota Tangerang Selatan, Perkuat Akses Keadilan bagi Masyarakat

Sabtu, 26 September 2026 - 22:35 WIB

Wamena, Papua Muda Progresif Dorong Dialog dan Perlindungan Warga di Tengah Konflik

Sabtu, 26 September 2026 - 08:13 WIB

Ketua PW Fatayat NU Banten Ajak Kader Fatayat NU Cikeusal Terus Bergerak Menebar Manfaat

Jumat, 25 September 2026 - 08:58 WIB

Keterangan Ahli Tunjukkan Cacat Hukum, Perkara Gabriel Lumbantoruan Dinilai Melukai Keadilan

Berita Terbaru