Terasmedia.co Jakarta – Ketua Umum Barisan Rakyat Nusantara (BaraNusa), Adi Kurniawan, menyoroti maraknya pemberitaan mengenai isu teror pocong dan aksi kejahatan jalanan yang belakangan ini menjadi perbincangan di berbagai daerah. Menurutnya, masyarakat perlu senantiasa waspada dan tidak mudah terjebak dalam ketakutan massal, karena hal tersebut dikhawatirkan merupakan upaya pengalihan perhatian publik dari tantangan ekonomi nasional yang kian memerlukan perhatian serius.
Adi menilai, kondisi ekonomi saat ini menunjukkan sejumlah indikator yang mengkhawatirkan. Nilai tukar rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat terus mengalami tekanan, pasar saham cenderung melemah, sementara daya beli masyarakat perlahan menurun seiring kenaikan harga kebutuhan pokok.
“Rakyat saat ini sedang menghadapi tantangan ekonomi yang nyata. Harga kebutuhan dasar terus naik, angka pengangguran bertambah, dan lapangan kerja semakin sulit dijangkau. Namun di saat yang sama, perhatian publik justru disibukkan dengan isu-isu yang memicu kepanikan semu,” ujar Adi dalam keterangannya, Senin (25/5/2026).
Ia mengingatkan pentingnya kemampuan masyarakat untuk membedakan antara ancaman kriminalitas yang memang terjadi di lapangan dengan narasi ketakutan yang sengaja dibesar-besarkan untuk menggiring opini. Pola seperti ini, menurutnya, sering kali muncul di permukaan ketika kondisi ekonomi sedang menghadapi tekanan yang cukup berat.
Meski demikian, BaraNusa menegaskan dukungan penuh terhadap langkah tegas aparat kepolisian dalam menindak segala bentuk kejahatan jalanan, khususnya aksi begal yang meresahkan masyarakat. Adi menyambut baik pembentukan Tim Pemburu Begal oleh Polda Metro Jaya sebagai upaya nyata menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.
“Kami mendukung sepenuhnya langkah Polda Metro Jaya. Kejahatan di jalan raya harus ditindak tegas karena setiap warga negara berhak merasa aman dalam beraktivitas sehari-hari,” tegasnya.
Namun, Adi juga mengingatkan agar penegakan hukum tetap dilakukan secara profesional, terukur, dan senantiasa berpegang pada prinsip hak asasi manusia. Pemberantasan kejahatan memang prioritas, namun ia berharap masyarakat tidak terus-menerus disuguhi rasa takut berlebihan akibat isu-isu yang tidak jelas kebenarannya.
Adi kembali menyoroti kondisi ekonomi nasional yang dinilai semakin memprihatinkan. Pelemahan nilai tukar, tingginya angka pengangguran, serta lonjakan harga bahan pokok merupakan ancaman nyata yang memerlukan solusi konkret dari pemerintah.
“Jika situasi ekonomi terus memburuk tanpa adanya perbaikan yang nyata, potensi gejolak sosial bisa menjadi kenyataan. Negara harus peka, karena beban yang ditanggung rakyat semakin berat,” tambahnya.
Oleh karena itu, BaraNusa meminta pemerintah agar lebih memfokuskan perhatian dan kebijakan pada penyelesaian masalah ekonomi, menjaga stabilitas harga pangan, membuka kesempatan kerja baru, serta memulihkan kembali kepercayaan publik terhadap kondisi ekonomi bangsa.
Terakhir, Adi mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk tetap tenang, bijak, dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang beredar di ruang publik maupun media sosial.
“Masyarakat harus tetap kritis dan cerdas menyikapi segala hal. Jangan sampai energi bangsa habis tersedot oleh ketakutan yang dimainkan pihak tertentu, sementara ancaman sesungguhnya justru datang dari memburuknya kondisi ekonomi kita sendiri,” tutup Adi.












