Fenomena Matahari di Atas Khatulistiwa Picu Suhu Panas di Indonesia

Avatar photo

- Penulis

Sabtu, 21 Maret 2026 - 11:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ikuti kami di Google News

Terasmedia.co Jakarta – Dalam beberapa waktu terakhir, masyarakat di berbagai wilayah Indonesia mengeluhkan suhu udara yang terasa semakin panas. Kondisi ini menimbulkan rasa tidak nyaman dalam beraktivitas sehari-hari, bahkan membuat tubuh mudah berkeringat dan gerah sepanjang hari.

Tak sedikit warga mengaku harus mandi berkali-kali untuk mengurangi rasa panas yang dirasakan. Namun, upaya tersebut sering kali tidak cukup efektif karena suhu udara tetap tinggi, terutama pada siang hingga sore hari.

Menanggapi fenomena ini, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa peningkatan suhu yang dirasakan masyarakat dipengaruhi oleh kombinasi faktor alam, baik dari sisi astronomi maupun meteorologi.

Salah satu penyebab utamanya adalah fenomena gerak semu tahunan Matahari. Dalam siklus ini, Matahari tampak bergerak dari belahan bumi selatan menuju belahan bumi utara, melewati wilayah khatulistiwa.

Pada periode tertentu, posisi Matahari berada tepat di atas garis khatulistiwa, termasuk wilayah Indonesia. Fenomena ini diperkirakan terjadi pada rentang tanggal 21 hingga 23 Maret setiap tahunnya.

Saat Matahari berada di posisi tersebut, sinarnya jatuh hampir tegak lurus ke permukaan bumi. Hal ini menyebabkan intensitas radiasi yang diterima menjadi lebih maksimal, sehingga suhu udara di permukaan terasa lebih panas dari biasanya.

Selain faktor astronomi, kondisi cuaca juga turut memperkuat efek panas yang dirasakan. Minimnya tutupan awan membuat sinar Matahari dapat langsung mencapai permukaan bumi tanpa hambatan yang berarti.

BMKG juga mencatat bahwa Indonesia saat ini tengah memasuki masa peralihan dari musim hujan ke musim kemarau. Periode ini umumnya ditandai dengan peningkatan suhu udara, cuaca yang lebih cerah, serta berkurangnya intensitas hujan.

Meski demikian, BMKG menegaskan bahwa fenomena ini merupakan siklus tahunan yang normal terjadi dan bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan secara berlebihan.

Kendati demikian, masyarakat tetap diimbau untuk menjaga kondisi tubuh dengan baik. Memperbanyak konsumsi air putih, menghindari paparan panas secara langsung dalam waktu lama, serta menggunakan pelindung seperti topi atau payung dapat membantu mengurangi risiko dehidrasi dan kelelahan akibat cuaca panas.

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Bangun Sinergi Alumni dan Kader, HMI Banten Raya Titipkan Lima Rekomendasi kepada KAHMI Pandeglang
Hari Bhayangkara ke-80, Polda Banten Resmi Buka Turnamen Mobile Legends Kapolda Cup 2026
Elisabeth Simanjuntak Terpilih Pimpin BPAN, Amanah Baru di Tanah Adat Sasak Lombok Timur
Lindungi Diri dari Asap TPA Jatiwaringin, Dinkes Minta Warga Pakai Masker dan Segera ke Faskes Jika Bergejala
Puskesmas Maja Respon Somasi Kuasa Hukum Keluarga Bayi Yang Lahir Sungsang Meninggal
Bermunajat Memohon Hujan, Kecamatan Sukadiri Gelar Sholat Istisqa Terkait Kondisi TPA Jatiwaringin
Soroti Arogansi Kekuasaan, BADKO HMI Sulbar Siap Kawal Kasus Kapolres Pasangkayu
Diduga Lalai Penangana : Bayi Lahir Meninggal Sungsang di Puskesmas Maja Berujung di Somasi
Berita ini 43 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 4 Juli 2026 - 12:32 WIB

Bangun Sinergi Alumni dan Kader, HMI Banten Raya Titipkan Lima Rekomendasi kepada KAHMI Pandeglang

Sabtu, 4 Juli 2026 - 12:26 WIB

Hari Bhayangkara ke-80, Polda Banten Resmi Buka Turnamen Mobile Legends Kapolda Cup 2026

Sabtu, 4 Juli 2026 - 09:50 WIB

Elisabeth Simanjuntak Terpilih Pimpin BPAN, Amanah Baru di Tanah Adat Sasak Lombok Timur

Sabtu, 4 Juli 2026 - 00:07 WIB

Lindungi Diri dari Asap TPA Jatiwaringin, Dinkes Minta Warga Pakai Masker dan Segera ke Faskes Jika Bergejala

Jumat, 3 Juli 2026 - 20:03 WIB

Puskesmas Maja Respon Somasi Kuasa Hukum Keluarga Bayi Yang Lahir Sungsang Meninggal

Berita Terbaru