Aktraksi Politik DPP PSI di Pasar Barito, Pengamat Jangan Jadi Ajang Pencitraan

Avatar photo

- Penulis

Rabu, 22 Oktober 2025 - 16:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Keterangan foto : Kader PSI, Rabu (22/10/2025)

i

Keterangan foto : Kader PSI, Rabu (22/10/2025)

Ikuti kami di Google News

Terasmedia.co Jakarta – Di tengah perjuangan Pemprov DKI menata ruang terbuka hijau kawasan Kebayoran Baru, sekelompok politisi dan anggota DPRD dari PSI nampak memanfaatkan isu relokasi Pasar Barito sebagai panggung empati dadakan. Dengan kamera siap siaga layaknya pemeran utama film dokumenter politik. mereka tampil dan berpose bersama sekelompok orang yang diklaim sebagai perwakilan pedagang pasar barito.

Advokasi yang seharusnya menenangkan warga justru bisa berubah menjadi sesi pencitraan terencana saat perjuangan hak masyarakat hanya riuh di media, Pose prihatin di depan kios, caption heroik di media sosial, atau bahkan video berdurasi satu menit yang diunggah dengan tagar perjuangan—semuanya tersusun rapi. Tapi di balik narasi “pembelaan rakyat”, tak banyak substansi yang tersisa.

“Kalau ini advokasi, mestinya ada riset, data, dan dialog. Tapi yang saya lihat hanya simbol dan narasi visual,” kata Farid pengamat komunikasi politik dari ICI, Ia menilai fenomena semacam ini sebagai “politik pose”—saat aksi lebih penting dari isi.

Pemprov DKI sendiri mengaku sedang bekerja keras menyelesaikan penataan kawasan itu secara manusiawi. Proyek relokasi yang dikaitkan dengan perluasan Taman ASEAN disebut sudah hampir rampung, dengan lokasi baru di Lenteng Agung.

“Kami tidak menutup mata pada pedagang, tapi kota ini juga butuh ruang hijau,” ujar Kepala Dinas UMKM DKI.

Di lapangan, para pedagang justru merasa menjadi objek perhatian mendadak.

“Banyak yang datang, bilang mau bantu, tapi cuma foto-foto terus pergi,” ujar Warto, pedagang burung di Barito.

Suaranya datar, seperti sudah sering melihat siklus politik yang sama setiap kali isu rakyat mencuat.

Bagi pengamat kebijakan publik, fenomena ini menggambarkan bagaimana politik urban Jakarta kini bergeser dari kerja nyata ke pertunjukan citra.

“Ruang publik jadi teater, dan rakyat hanya figuran. Semua ingin tampak berpihak, tapi tak ada yang benar-benar turun dengan data dan solusi,” tambah Heri.

Sementara Pemda menata taman dan infrastruktur, sebagian politisi justru sibuk menata pencitraan. Advokasi berubah jadi bahan unggahan, dan kepedulian dikurasi layaknya konten promosi. Ironinya, yang diperjuangkan bukan nasib rakyat, melainkan algoritma.

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Marwan Jafar PKB: Perluasan QRIS Harus Diiringi Penguatan Keamanan dan Perlindungan Konsumen
Bank Banten Raih Penghargaan sebagai Popular Brand Kategori Jasa Keuangan Perbankan Daerah
Tanam Mangrove Tak Lagi Sekadar Aksi Hijau, Bali Dorong Blue Carbon Jadi Aset Ekonomi
Komisi XI Tagih Komitmen BI Dorong Lapangan Kerja dan Ekonomi Daerah
Surat dari Ternate: Lily Masita Tomasoa Memohon Keadilan kepada Jaksa Agung
Ketua PW Fatayat NU Ajak Kader Fatayat Aktif Kampanyekan Pariwisata Anyer dan Majukan Ekonomi Kreatif
Menjaga Samudra Tanpa Sekat: Redesign Kewenangan Bakamla dan Urgensi Single Agency Coast Guard
Mayjen TNI Pujo Widodo Apresiasi Keberpihakan Pemerintah kepada Petani
Berita ini 5 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 13:10 WIB

Marwan Jafar PKB: Perluasan QRIS Harus Diiringi Penguatan Keamanan dan Perlindungan Konsumen

Rabu, 30 September 2026 - 21:07 WIB

Bank Banten Raih Penghargaan sebagai Popular Brand Kategori Jasa Keuangan Perbankan Daerah

Selasa, 29 September 2026 - 22:04 WIB

Tanam Mangrove Tak Lagi Sekadar Aksi Hijau, Bali Dorong Blue Carbon Jadi Aset Ekonomi

Selasa, 29 September 2026 - 19:57 WIB

Komisi XI Tagih Komitmen BI Dorong Lapangan Kerja dan Ekonomi Daerah

Selasa, 29 September 2026 - 11:40 WIB

Surat dari Ternate: Lily Masita Tomasoa Memohon Keadilan kepada Jaksa Agung

Berita Terbaru