Ketika Media Diperkosa oleh Kekuasaan

Avatar photo

- Penulis

Rabu, 5 November 2025 - 23:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Mohamad Rohim

i

Oleh: Mohamad Rohim

Ikuti kami di Google News

Terasmedia.co – Di sebuah negeri yang mengaku demokratis, pilar keempat yang bernama media perlahan lumpuh bukan karena tak ada wartawan, tapi karena mereka dibungkam, dipelintir, dan dikendalikan. Kita hidup di zaman di mana industri media tak lagi menjadi penjaga kebenaran, melainkan alat promosi kekuasaan.

Kebenaran diseragamkan, keberanian dimatikan, dan suara rakyat disamarkan di balik narasi “stabilitas nasional”.

Media yang dulu menjadi benteng bagi akal sehat kini berubah jadi panggung upacara untuk menyanjung penguasa. Setiap berita tentang “keberhasilan” dilaporkan megah, sementara kisah rakyat yang tertindas disembunyikan dalam ruang gelap redaksi. Fakta disaring, opini dipoles, dan data disesuaikan agar tampak “aman” bagi mereka yang berkuasa.

Para jurnalis yang masih berusaha menulis dengan nurani, sering kali dituduh melawan arus, dianggap pengacau, atau diserang dengan dalih melanggar etika. Padahal yang mereka lakukan hanya satu hal sederhana: berkata jujur.

Tapi di negeri di mana kebenaran bisa dinegosiasikan, kejujuran justru menjadi dosa paling berbahaya.

Mulut-mulut kini disumpal oleh kepentingan ekonomi dan politik. Iklan menjadi lebih penting dari integritas.

Redaksi tunduk pada pemilik modal, dan pemilik modal tunduk pada kekuasaan. Rantai itu panjang, tapi ujungnya selalu sama: berita yang Anda baca bukan lagi cermin realitas, melainkan bayangan yang sudah diatur arah cahayanya.

Ketika media berhenti menjadi pengawas, rakyat kehilangan kompasnya. Informasi yang benar menjadi barang langka. Kebenaran tenggelam di antara klaim, propaganda, dan pencitraan.

Maka, pertanyaannya bukan lagi “apakah media masih bebas,” tapi “masih adakah pilar demokrasi itu, atau ia telah runtuh pelan-pelan, tanpa suara, di tengah tepuk tangan upacara kekuasaan?.

Dan jika kelak media hanya tinggal etalase kosong yang memantulkan wajah penguasa, maka kita semua wartawan, pembaca, dan bangsa ini telah resmi kehilangan akal sehatnya.

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Dr RD Mohammad Teguh Darmawan Resmi Jabat Kajati Jawa Barat, Gantikan Sutikno
Anton Suratto Daftar Kembali Ketua DPD Demokrat Jabar, Didukung 27 DPC
FBB Imbau Masyarakat Saring Informasi dan Tangkal Hoaks di Media Sosial
Egi Hendrawan Puji Rekor MURI Kapolri Cup 2026 dan Peran Gen Z Jaga Dunia Siber
BEM Indonesia Desak KPK Usut Tata Kelola PT Vale IGP Pomalaa, Soroti Dugaan 200 Ribu Ton Ore Nikel
Tidak Benar Rutan Bareskrim Jadi Sarang Narkoba, Polri: Semua Tahanan Tes Negatif
Pajak Marketplace Ditunda, Komisi XI Desak Pemerintah Matangkan Kebijakan
Bulog KC Lebak Luncurkan Bantuan Pangan Alokasi Juli, Agustus dan September Sekaligus
Berita ini 9 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 13 Agustus 2026 - 22:22 WIB

Dr RD Mohammad Teguh Darmawan Resmi Jabat Kajati Jawa Barat, Gantikan Sutikno

Kamis, 13 Agustus 2026 - 19:12 WIB

Anton Suratto Daftar Kembali Ketua DPD Demokrat Jabar, Didukung 27 DPC

Kamis, 13 Agustus 2026 - 18:40 WIB

FBB Imbau Masyarakat Saring Informasi dan Tangkal Hoaks di Media Sosial

Kamis, 13 Agustus 2026 - 14:13 WIB

Egi Hendrawan Puji Rekor MURI Kapolri Cup 2026 dan Peran Gen Z Jaga Dunia Siber

Kamis, 13 Agustus 2026 - 14:06 WIB

BEM Indonesia Desak KPK Usut Tata Kelola PT Vale IGP Pomalaa, Soroti Dugaan 200 Ribu Ton Ore Nikel

Berita Terbaru