Ini Soal Nyawa! Komite Pemantau MBG Desak BGN dan Kemnaker Berhenti Beralasan Prosedur

Avatar photo

- Penulis

Kamis, 7 Mei 2026 - 10:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Keterangan foto : Komite Pemantau MBG melakukan audiensi dengan Kementerian HAM untuk menuntut keadilan bagi Sri Rahayu Adiningsih, Kamis (7/4/2026)

i

Keterangan foto : Komite Pemantau MBG melakukan audiensi dengan Kementerian HAM untuk menuntut keadilan bagi Sri Rahayu Adiningsih, Kamis (7/4/2026)

Ikuti kami di Google News

Terasmedia.co Jakarta – Komite Pemantau MBG melakukan audiensi dengan Kementerian HAM untuk menuntut keadilan bagi Sri Rahayu Adiningsih, korban kecelakaan kerja di salah satu Sentra Pengolahan Pangan Gratis (SPPG) di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.

Dalam pertemuan yang berlangsung, rombongan diterima langsung oleh Direktur Kepatuhan HAM, Siti Fajar. Koordinator Komite Pemantau MBG, Achmad Ismail atau yang akrab disapa Ais, menegaskan bahwa program strategis nasional tidak boleh berjalan di atas penderitaan pekerja, apalagi mengabaikan hak asasi manusia yang mendasar.

“Kami berkepentingan menjaga martabat program pemerintah, namun fakta di lapangan menunjukkan pelanggaran serius. Selama dua bulan terakhir, hak hidup dan kesehatan korban tidak terpenuhi. Bahkan, biaya pengobatan yang sudah tembus Rp600 juta ini ditanggung sendiri oleh keluarga,” tegas Ais dalam keterangannya, Kamis (7/4/2026)

Tuntutan Tegas: Ini Soal Nyawa, Bukan Administrasi

Ais menuntut Kementerian HAM untuk segera menjalankan mandat hukum sesuai UU No. 39 Tahun 1999, Pasal 71-72, untuk memfasilitasi pemenuhan hak korban. Ia menekankan, ketika nyawa dipertaruhkan, tidak ada ruang untuk bertele-tele.

“SPPG harus patuh aturan, BGN wajib bertanggung jawab, dan Kementerian Ketenagakerjaan tidak boleh bersembunyi di balik prosedur administratif. Ini bukan sekadar persoalan administrasi—ini menyangkut nyawa manusia. Jika negara diam dan menunda, berarti membiarkan pekerjanya menghadapi risiko kematian sendirian,” tegas Ais dengan nada keras.

Kondisi Korban: Masih Kritis, Belum Bisa Bergerak

Rama, selaku perwakilan keluarga korban, menceritakan kondisi menyedihkan yang dialami Sri Rahayu hingga saat ini.

“Kondisi terakhir Sri Rahayu masih dalam perawatan intensif. Ia mengalami cedera serius pada bagian kepala hingga harus menjalani operasi besar dan tindakan medis lanjutan yang kompleks. Operasi pertama dilakukan pada 11 Maret 2026 lalu dalam kondisi yang sangat kritis,” ungkap Rama dengan berat hati.

Hingga saat ini, korban masih dalam tahap pemulihan mendalam. Meskipun fungsi pernapasan mulai membaik, namun tubuhnya belum bisa digerakkan secara normal.

“Keluarga sangat berharap ia bisa pulih sepenuhnya dan kembali normal. Namun beban biaya pengobatan yang terus membengkak menjadi tekanan yang sangat berat. Kami memohon agar pemerintah segera hadir, mengambil tanggung jawab penuh, dan tidak membiarkan dia berjuang sendirian,” tambahnya memohon.

Janji Pemerintah: Akan Dikoordinasikan Segera

Merespons hal ini, Direktur Siti Fajar memberikan kepastian bahwa hasil audiensi akan segera dilaporkan kepada Menteri HAM. Pihaknya berjanji akan mempercepat koordinasi lintas kementerian bersama Kemnaker, BGN, dan Kemenkes untuk memastikan biaya pengobatan ditanggung pemerintah dan korban mendapatkan penanganan terbaik.

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Ketua PW Fatayat NU Ajak Kader Fatayat Aktif Kampanyekan Pariwisata Anyer dan Majukan Ekonomi Kreatif
Menjaga Samudra Tanpa Sekat: Redesign Kewenangan Bakamla dan Urgensi Single Agency Coast Guard
Mayjen TNI Pujo Widodo Apresiasi Keberpihakan Pemerintah kepada Petani
Bukan Hanya Cibinong, Mangihut Sinaga Khawatir Praktik Serupa Menjalar ke Seluruh Lapas
Kabel Menjuntai Sebabkan Kecelakaan di Kampung Grojog, Ini Tanggapan TelkomGroup
Dede Yusuf: Ombudsman Tak Boleh Dihalangi, Tugasnya Mengawasi Pelayanan Publik
Praktisi Pendidikan Apresiasi Komitmen Presiden Prabowo Terkait Pendidikan Gratis hingga Perguruan Tinggi
Dukungan Penuh 27 Kab/Kota, Anton Suratto Terima SK Langsung dari DPP Demokrat
Berita ini 91 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 03:50 WIB

Ketua PW Fatayat NU Ajak Kader Fatayat Aktif Kampanyekan Pariwisata Anyer dan Majukan Ekonomi Kreatif

Minggu, 27 September 2026 - 06:11 WIB

Menjaga Samudra Tanpa Sekat: Redesign Kewenangan Bakamla dan Urgensi Single Agency Coast Guard

Jumat, 25 September 2026 - 15:09 WIB

Bukan Hanya Cibinong, Mangihut Sinaga Khawatir Praktik Serupa Menjalar ke Seluruh Lapas

Jumat, 25 September 2026 - 14:44 WIB

Kabel Menjuntai Sebabkan Kecelakaan di Kampung Grojog, Ini Tanggapan TelkomGroup

Jumat, 25 September 2026 - 09:22 WIB

Dede Yusuf: Ombudsman Tak Boleh Dihalangi, Tugasnya Mengawasi Pelayanan Publik

Berita Terbaru