Terasmedia.co Jakarta — Langkah Pengurus Besar Ikatan Alumni BEM Nusantara (PB-IKA BEM Nusantara) yang melakukan safari pertemuan dengan sejumlah tokoh publik di tengah maraknya aksi demonstrasi memicu sorotan dan pertanyaan mendalam. Organisasi ini mengaku bertemu Presiden ke-7 RI Joko Widodo di Solo pada Senin (15/6) dan dijadwalkan bertemu Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka pada Rabu (17/6) dengan alasan melakukan konsolidasi kebangsaan dan membahas kepemimpinan masa depan generasi muda.
Namun, dinamika ini menimbulkan dugaan di kalangan pengamat politik. Direktur Eksekutif Political and Public Policy Studies (P3S), Jerry Massie, menilai ada hal yang perlu dicermati lebih lanjut mengingat waktu pertemuan berbarengan dengan gelombang unjuk rasa yang belakangan mengemuka di berbagai daerah.
“Pertanyaan mendasar yang muncul: apa urgensi dan esensi pertemuan tersebut tepat saat suasana politik sedang memanas dan mahasiswa turun ke jalan? Bagi saya, hal ini tidak bisa dipisahkan begitu saja dari situasi yang berkembang,” ujar Jerry Massie, Jumat (19/6/2026)
Menurutnya, munculnya dugaan bahwa aksi demonstrasi memiliki keterkaitan dengan kepentingan politik tertentu bukan tanpa dasar. Ia menilai pola yang terlihat, di mana seolah-olah tokoh tertentu mendapatkan dukungan atau simpati dari kelompok yang sama dengan pelaku aksi, memicu kecurigaan adanya pengaturan tersendiri.
“Banyak yang menduga aksi-aksi ini tidak berjalan dengan sendirinya. Logistik yang tersedia dalam setiap gerakan besar menimbulkan pertanyaan: dari mana sumber dananya? Spekulasi bermunculan, apakah dibiayai oleh lingkaran tertentu atau bahkan kekuatan asing, namun hal ini masih perlu pembuktian nyata,” jelasnya.
Jerry melihat potensi risiko bahwa gerakan mahasiswa yang seharusnya menjadi kontrol sosial yang independen bisa saja dimanfaatkan sebagai alat untuk kepentingan politik praktis. Ia mencontohkan pola yang terlihat: ketika aksi berlangsung, kemudian disusul dengan pertemuan kelompok yang mengaku mewakili unsur mahasiswa dengan tokoh-tokoh yang memiliki ambisi politik menjelang Pemilu 2029.
“Jika benar ada skenario yang disusun sedemikian rupa, maka tujuannya jelas: menjatuhkan posisi pemerintahan saat ini agar ruang terbuka bagi figur tertentu untuk naik ke puncak kekuasaan. Mahasiswa menjadi ujung tombak yang mudah diprovokasi, sementara kepentingan di belakang layar tetap tersembunyi,” tegasnya.
Menyikapi situasi ini, Jerry Massie mendesak Badan Intelijen Negara (BIN) dan Kepolisian Republik Indonesia untuk turun tangan mengusut tuntas. Menurutnya masyarakat berhak tahu kebenarannya. Siapa pendananya, apa tujuan akhirnya, dan apakah ada pihak-pihak tertentu yang sengaja memainkan situasi ini demi kepentingan pribadi atau golongan.
“Jangan sampai kepercayaan publik terhadap gerakan mahasiswa hancur karena dimanfaatkan untuk permainan politik semata,” pungkasnya.











