Kepala Kampung Kwoor Desak Pemerintah Segera Perbaiki Jalan Sausapor

Avatar photo

- Penulis

Jumat, 17 Oktober 2025 - 22:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Keterangan foto: Kepala Kampung Kwoor, Septinus Yekwam

i

Keterangan foto: Kepala Kampung Kwoor, Septinus Yekwam

Ikuti kami di Google News

Terasmedia.co Tambrauw – Septinus Yekwam, Kepala Kampung Kwoor, Distrik Kwoor, Kabupaten Tambrauw, Provinsi Papua Barat Daya, mengungkapkan kekecewaan mendalam terhadap pemerintah daerah maupun provinsi yang dinilainya menutup mata atas kerusakan jalan penghubung antara Distrik Sausapor dan Kwoor.

Menurutnya, selama delapan tahun terakhir, tidak ada keseriusan pejabat daerah dalam memperbaiki infrastruktur dasar yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat.

Kata Septinus, jalan Sausapor–Kwoor pernah dibongkar dan disertu pada masa Carateker Bupati Tambrauw, Menase Pa, namun setelah itu tidak ada tindak lanjut pembangunan hingga kini.

“Jalan ini dibongkar semua dan hanya disertu. Setelah itu, pemerintah diam saja. Tidak ada satu pun alat berat turun lagi sampai hari ini,” ungkapnya dengan nada kecewa kepada wartawan, Jum’at (17/10/2025

Ia menilai alasan pemerintah bahwa jalan tersebut merupakan kewenangan provinsi hanyalah alasan klasik untuk menutupi kelalaian. Padahal, katanya, selama delapan tahun ibu kota Kabupaten Tambrauw berada di Sausapor, pemerintah daerah seolah tidak memiliki niat memperjuangkan akses masyarakat Kwoor.

“Kami ini bukan orang asing, kami juga warga Tambrauw. Tapi elit hanya sibuk duduk di kantor dan lupa rakyatnya di kampung,” tegas Septinus.

Kepala kampung dua periode itu juga mengingatkan bahwa Distrik Kwoor adalah salah satu distrik awal yang ikut membentuk Kabupaten Tambrauw, bukan wilayah baru hasil pemekaran. Karena itu, ia merasa aneh jika pemerintah seolah menomorduakan wilayah yang berjasa dalam lahirnya kabupaten tersebut.

“Kami sudah ada sebelum Tambrauw menjadi kabupaten. Tapi sampai sekarang, kami seolah tak pernah dianggap,” katanya.

Kondisi jalan yang rusak berat itu berdampak langsung pada perekonomian masyarakat dan akses pendidikan anak-anak. Warga kesulitan menjual hasil kebun ke Sausapor karena biaya transportasi yang mahal dan jalan yang nyaris tak bisa dilalui kendaraan.

“Mama-mama harus jalan kaki atau bayar mahal supaya hasil kebun bisa dijual. Kadang hasil panen busuk di kebun,” ujar Septinus.

Tak hanya ekonomi, anak-anak sekolah pun ikut menderita.Banyak pelajar harus berjalan kaki jauh melewati jalan berlumpur dan rusak parah.

“Anak-anak sering mengeluh ke saya.Mereka capek,sepatu rusak, dan kadang tidak bisa berangkat sekolah karena mobil tak bisa lewat,” tambahnya dengan nada prihatin.

Septinus juga melontarkan sindiran keras kepada elit pemerintah provinsi Papua Barat Daya dan Kabupaten Tambrauw yang menurutnya lebih sibuk berpolitik daripada turun melihat penderitaan masyarakat.

“Saya mau tanya,berapa gunung dan jurang antara Sausapor dan Kwoor sampai jalan ini tidak bisa dikerjakan? Atau pejabatnya terlalu sibuk duduk di ruang ber-AC sampai lupa kami di sini?” sindirnya tajam.

Menjelang Rapat Kerja Klasis Abun Gereja Grigani yang akan digelar di Kwoor pada 4-5 Desember 2025, Septinus berharap pemerintah menjadikan momen ini sebagai panggilan hati nurani untuk memperhatikan masyarakat yang sudah lama terisolasi.

“Kalau pemerintah hadir dalam kegiatan gereja nanti,saya harap mereka bisa datang lewat jalan darat supaya mereka rasakan sendiri penderitaan kami,” ucapnya.

Di akhir pernyataannya, Septinus Yekwam menegaskan bahwa masyarakat Kwoor tidak meminta keistimewaan, melainkan hanya hak yang sama sebagai warga negara.

“Kami ikut memilih pemimpin,tapi setelah mereka menang, kami dilupakan. Kami hanya minta jalan ini diperbaiki dengan hati yang tulus. Itu saja,” tutupnya

Komentar ditutup.

Berita Terkait

TPA Jatiwaringin Membara, LKPLN Akan Seret Pemerintah Daerah ke Jalur Hukum
Diduga Kendaraan ODOL Berkeliaran Tengah Malam di Pandeglang, Warga Curigai Angkut Sampah
Bangun Sinergi Alumni dan Kader, HMI Banten Raya Titipkan Lima Rekomendasi kepada KAHMI Pandeglang
Hari Bhayangkara ke-80, Polda Banten Resmi Buka Turnamen Mobile Legends Kapolda Cup 2026
Elisabeth Simanjuntak Terpilih Pimpin BPAN, Amanah Baru di Tanah Adat Sasak Lombok Timur
Lindungi Diri dari Asap TPA Jatiwaringin, Dinkes Minta Warga Pakai Masker dan Segera ke Faskes Jika Bergejala
Puskesmas Maja Respon Somasi Kuasa Hukum Keluarga Bayi Yang Lahir Sungsang Meninggal
Bermunajat Memohon Hujan, Kecamatan Sukadiri Gelar Sholat Istisqa Terkait Kondisi TPA Jatiwaringin
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 5 Juli 2026 - 12:40 WIB

TPA Jatiwaringin Membara, LKPLN Akan Seret Pemerintah Daerah ke Jalur Hukum

Minggu, 5 Juli 2026 - 09:19 WIB

Diduga Kendaraan ODOL Berkeliaran Tengah Malam di Pandeglang, Warga Curigai Angkut Sampah

Sabtu, 4 Juli 2026 - 12:26 WIB

Hari Bhayangkara ke-80, Polda Banten Resmi Buka Turnamen Mobile Legends Kapolda Cup 2026

Sabtu, 4 Juli 2026 - 09:50 WIB

Elisabeth Simanjuntak Terpilih Pimpin BPAN, Amanah Baru di Tanah Adat Sasak Lombok Timur

Sabtu, 4 Juli 2026 - 00:07 WIB

Lindungi Diri dari Asap TPA Jatiwaringin, Dinkes Minta Warga Pakai Masker dan Segera ke Faskes Jika Bergejala

Berita Terbaru

Megapolitan

Pentingnya Teknologi bagi Para Kader Bela Negara

Minggu, 5 Jul 2026 - 15:09 WIB