KPN Soroti Anggaran Hotel DPRD Kabupaten Tangerang Rp23 M: Antara Kuasa dan Kemiskinan

Avatar photo

- Penulis

Sabtu, 30 Mei 2026 - 18:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Keterangan foto : Direktur Eksekutif Kajian Politik Nusantara (KPN) Adib Muftahul, Kamis (7/3.2024)

i

Keterangan foto : Direktur Eksekutif Kajian Politik Nusantara (KPN) Adib Muftahul, Kamis (7/3.2024)

Ikuti kami di Google News

Terasmedia.co Tangerang – Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Tangerang memicu polemik berbagai elemen masyarakat setelah dokumen Rencana Umum Pengadaan (RUP) tahun 2026 mengungkap lonjakan anggaran belanja sewa hotel yang fantastis. Berdasarkan data yang dihimpun, total pagu anggaran untuk pos tersebut mencapai Rp23.259.592.620.

Loncatan angka ini dinilai sangat janggal jika dibandingkan dengan pagu anggaran sewa hotel tahun 2025 yang hanya berada di kisaran Rp3,52 miliar. Terjadi kenaikan ekstrem hingga ratusan persen, terutama pada jalur swakelola yang membengkak hingga lebih dari Rp18,4 miliar. Kebijakan ini dinilai kontradiktif dengan semangat efisiensi yang terus didengungkan pemerintah pusat di tengah situasi ekonomi sulit.

Anatomi Anggaran: Pesta Swakelola di Kamar Hotel Bedah data menunjukkan bahwa anggaran puluhan miliar tersebut terpecah dalam dua skema pengadaan yang berjalan simultan:

Jalur Penyedia: Meliputi 17 paket belanja sewa hotel dengan akumulasi nilai Rp4,78 miliar.

Jalur Swakelola: Terbagi atas pos Administrasi Umum Perangkat Daerah (Rp2,9 miliar) dan Fasilitasi Tugas DPRD (Rp15,48 miliar).

Akumulasi dana sebesar Rp23,2 miliar tersebut memantik kecurigaan publik mengenai urgensi dan transparansi penggunaannya, mengingat porsi swakelola hotel pada periode sebelumnya tidak pernah menyentuh angka yang begitu masif.

Krisis Empati di Tengah Rekor Kemiskinan
Besaran anggaran hotel ini dianggap sebagai “tamparan” keras bagi warga Kabupaten Tangerang. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan Kabupaten Tangerang memiliki angka kemiskinan ekstrem tertinggi di Provinsi Banten, yakni mencapai 265.090 jiwa.

Lebih memprihatinkan lagi, di saat wakil rakyat merencanakan fasilitas hotel miliaran rupiah, dunia pendidikan di wilayah ini tengah mengalami krisis serius. Tercatat sedikitnya 21.000 anak di Kabupaten Tangerang menyandang status putus sekolah. Ketimpangan antara kemewahan birokrasi dan realitas kemiskinan serta pendidikan ini mencerminkan rendahnya empati anggaran terhadap kebutuhan dasar masyarakat.

Kritik Keras KPN: “Jangan Jadi Firaun Anggaran”
Direktur Kajian Politik Nasional (KPN), Adib Miftahul, memberikan tanggapan terkait temuan ini. Ia mengaitkan momentum hari raya Idul Adha dengan perilaku para anggota dewan yang dianggapnya hanya melakukan pencitraan empati tanpa tindakan nyata.

“Hari raya Idul Adha itu momentum menumbuhkan sikap empati. Harusnya anggota DPRD mengambil hikmah dari Nabi Ibrahim yang memiliki empati dan tunduk pada kekuasaan Tuhan. Tapi DPRD Kabupaten Tangerang itu hanya ‘omon-omon’, hanya pencitraan seolah punya empati kepada rakyat, tapi rapat anggaran hotel justru makin mahal dan harga jas pakaian dinasnya tertinggi se-banten saat ekonomi rakyat sulit,” ujar Adib.

Menurut Adib, kekuasaan dan wewenang mengatur anggaran seharusnya menjadi alat untuk membela kepentingan masyarakat, bukan justru memanjakan diri sendiri.

“Dalam ajaran Nabi Ibrahim secara kekinian, ‘Ismail’ bagi mereka bisa jadi adalah kekuasaan itu sendiri. Harusnya mereka rela berkorban karena mereka wakil rakyat. Kekuasaan anggaran ini harus digunakan untuk membela rakyat, bukan menindas rakyat yang justru memilih mereka. Jangan jadi Firaun yang kufur nikmat. Mentang-mentang ada kuasa, jangan pakai kacamata kuda,” tegasnya.

Adib menekankan bahwa political will adalah kunci bagi kesejahteraan rakyat, dan kebijakan anggaran hotel kali ini dianggap jauh dari semangat tersebut.

“Ekspektasi mereka ingin dilihat sebagai figur-figur yang meneladani sikap Nabi Ibrahim, tapi realisasinya justru terbalik. Jauh melenceng darii manifestasi pro rakyat,” tutupnya.

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Panen Raya Singkong Sangiangjaya, Gubernur Andra Soni dan Arif Rahman: Petani Pilar Ketahanan Pangan Banten
Puluhan Warga Mengaku Kecewa, Janji Pembayaran Dana Investasi Toko Emas Milik Oknum Anggota DPRD Banten Tak Terealisasi
Pembangunan Jalan Rabat Beton Pajagan–Koranji Baru Seumur Jagung, Kini Memprihatinkan
Tega Aniaya Bayi hingga Meninggal Dunia, FS Diamankan Polresta Sorong Kota
Polresta Sorong Kota Ringkus YT, Pengambil 435 Gram Sabu
Bappenas Gandeng Dewan Pers Perkuat Sinergitas dalam Pembangunan Nasional
Buruh Tani dan Tambang Rakyat Surade Antusias Daftar BPJS Ketenagakerjaan
Pererat Silaturahmi, Warga RW 01 Pasir Gendok Gelar Peringatan Maulid Nabi
Berita ini 19 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 8 September 2026 - 04:05 WIB

Puluhan Warga Mengaku Kecewa, Janji Pembayaran Dana Investasi Toko Emas Milik Oknum Anggota DPRD Banten Tak Terealisasi

Senin, 7 September 2026 - 20:17 WIB

Pembangunan Jalan Rabat Beton Pajagan–Koranji Baru Seumur Jagung, Kini Memprihatinkan

Minggu, 6 September 2026 - 15:01 WIB

Tega Aniaya Bayi hingga Meninggal Dunia, FS Diamankan Polresta Sorong Kota

Minggu, 6 September 2026 - 14:57 WIB

Polresta Sorong Kota Ringkus YT, Pengambil 435 Gram Sabu

Minggu, 6 September 2026 - 14:16 WIB

Bappenas Gandeng Dewan Pers Perkuat Sinergitas dalam Pembangunan Nasional

Berita Terbaru

Dr. Imam Sofian, S.H., M.H.,

Hukum dan Kriminal

Tim Hukum: Pernyataan Budi Arie Soal Pemilu 2029 Tidak Memenuhi Unsur Makar

Kamis, 10 Sep 2026 - 14:43 WIB