Pengamat Sebut Siapapun Presidennya, Oposisi Harus Kuat Cegah Korupsi Kekuasaan

Avatar photo

- Penulis

Senin, 18 Maret 2024 - 23:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Keterangan foto : Pengamat Politik dari FHISIP Universitas Terbuka Insan Praditya Anugrah, Senin (18/3/2024)

i

Keterangan foto : Pengamat Politik dari FHISIP Universitas Terbuka Insan Praditya Anugrah, Senin (18/3/2024)

Ikuti kami di Google News

Terasmedia.co Jakarta – Pengamat Politik dari FHISIP Universitas Terbuka Insan Praditya Anugrah menyatakan bahwa menjelang pengumuman KPU siapapun yang terpilih jadi Presiden, yang terpenting adalah penguatan oposisi di parlemen untuk mengawasi pemerintah dari korupsi kekuasaan.

“Siapapun Presiden yang dinyatakan menang oleh KPU, Indonesia butuh oposisi di parlemen yang kuat demi mencegah korupsi kekuasaan terjadi”, ujar Insan, Senin (18/3/2024)

Menurut Insan, selama ini parpol yang kalah cenderung menghindari oposisi karena tidak ingin kehilangan akses terhadap kekuasaan dan kapital.

“Selama ini, terutama saya amati sejak SBY dilanjutkan Jokowi, sangat sedikit Partai Politik yang memutuskan untuk beroposisi dengan pemerintah dan bertindak mengawasi kekuasaan. Banyak parpol yang takut kehilangan akses kekuasaan dan kapital”, lanjut Insan.

Dalam konteks negara Presidensil, memang dibutuhkan Partai pendukung pemerintah yang kuat agar pemerintah mudah melaksanakan kebijakan. Namun, selama ini menurutnya persentase oposisi terlalu sedikit yakni di bawah 40% sehingga kebijakan yang disetujui parlemen hampir seluruhnya memperjuangkan supaya kepentingan pemerintah dapat dilaksanakan dan lebih sedikit mendengar aspirasi masyarakat terutama kelas bawah.

“Jika dalam sistem Presidensil dibutuhkan koalisi pemerintah yang kuat, boleh saja, namun setidaknya 40-45% itu jadi oposisi yang mengawasi pemerintah. Selama ini oposisi lemah karena selalu di bawah 40%, dengan komposisi ini seolah parlemen memperjuangkan kepentingan pemerintah dibandingian aspirasi masyarakat bawah”, pungkas Pengamat Politik yang mengajar Ilmu Politik dan Pemerintahan di Universitas Terbuka itu.

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Deteksi Dini Penyakit, Lapas Bekasi Pastikan Hak Kesehatan Warga Binaan Terpenuhi Layak
6 mahasiswa sudah DO, KJMU Digantung, SIGAP Desak Gubernur Bertindak
 Desil Setan Ancam Putus Kuliah: Ratusan Anak Buruh Jakarta Kehilangan Beasiswa KJMU
Usai Evakuasi 8 Pendaki Wanita, KOPAJA Soroti Persiapan Pendakian
Pentingnya Teknologi bagi Para Kader Bela Negara
Pemkot Tangerang Masuk Daftar Khusus KPK, Ada Apa?
Data adalah Kompas Pembangunan, Adde Rosi: Akurasi adalah Harga Mati
Respon Cepat Kajati: Herlangga Wisnu Gantikan Kajari Karo yang Disorot DPR
Berita ini 3 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 1 September 2026 - 06:37 WIB

Deteksi Dini Penyakit, Lapas Bekasi Pastikan Hak Kesehatan Warga Binaan Terpenuhi Layak

Senin, 31 Agustus 2026 - 00:40 WIB

6 mahasiswa sudah DO, KJMU Digantung, SIGAP Desak Gubernur Bertindak

Senin, 24 Agustus 2026 - 19:16 WIB

 Desil Setan Ancam Putus Kuliah: Ratusan Anak Buruh Jakarta Kehilangan Beasiswa KJMU

Selasa, 21 Juli 2026 - 21:54 WIB

Usai Evakuasi 8 Pendaki Wanita, KOPAJA Soroti Persiapan Pendakian

Minggu, 5 Juli 2026 - 15:09 WIB

Pentingnya Teknologi bagi Para Kader Bela Negara

Berita Terbaru