Jalan Sunyi Menuju Kemunduran

Avatar photo

- Penulis

Jumat, 26 September 2025 - 22:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Mohamad Rohim

i

Oleh : Mohamad Rohim

Ikuti kami di Google News

Tidak ada hal yang lebih terhormat selain berbicara benar.

Banten | Sejarah kebebasan berbicara lahir dari perlawanan terhadap penindasan. Dunia mencatatnya dalam Deklarasi Hak Asasi Manusia dan Warga Negara (1789) di Prancis dan Amandemen Pertama Konstitusi Amerika Serikat (1791).

Di Indonesia, perjuangan itu mulai sejak kemerdekaan dan menemukan momentum besar pasca-Reformasi 1998.

Namun, hingga kini jalan menuju kebebasan penuh selalu dibayangi ancaman: kriminalisasi lewat undang-undang, sensor halus lewat algoritma, dan tekanan kekuasaan yang tak pernah benar-benar reda.

Ketika media dibungkam dengan tangan besi penguasa, yang dikorbankan bukan sekadar kebebasan pers. Yang hilang adalah masa depan bangsa.

Penguasa yang haus kekuasaan, sibuk menumpuk keuntungan pribadi, menjadikan jurnalis target ancaman.

Padahal ancaman itu sejatinya ditujukan untuk membungkam suara rakyat.

Generasi bangsa dipaksa kehilangan imajinasi. Perbedaan diperlakukan sebagai dosa. Keberagaman dianggap sampah.

Padahal justru perbedaanlah yang menjadi warna demokrasi.

Kini kecintaan terhadap bangsa dipagari oleh tembok kekuasaan, dihuni orang-orang rakus yang hanya berpikir soal uang, bukan arah bangsa.

Dinding-dinding tebal itu menahan suara rakyat agar tak sampai ke telinga pemimpinnya.

Bahaya besar sedang berdiri di depan mata: jeritan rakyat, tangisan rakyat, bau keringat rakyat, diputus di tengah jalan.

Suara itu tak lagi masuk ke ruang kepemimpinan, tapi berhenti di kantong para lingkaran bisnis dan kepentingan.

Kekecewaan rakyat pun menumpuk tanpa ujung. Itulah tanda kemunduran. Demokrasi mati perlahan ketika pers dijerat, ketika suara publik diputus oleh kekuasaan yang menjadikan negara sebagai bisnis keluarga.

Tanpa pers yang bebas, tak ada bangsa yang cerdas. Tanpa pers yang bebas, tak ada bangsa yang adil.

Dan tanpa pers yang bebas, tak akan pernah ada bangsa yang benar-benar maju.

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Dorong Akses Buku Digital, Adde Rosi Sosialisasikan SIBI ke Kabupaten Lebak
Mengabdi 36 Tahun, H. Sanusi Justru Dituduh Menggelapkan; Tim Hukum Minta Polisi Hentikan Kasus
MataHukum: KPK Jangan Tebang Pilih Lindungi Aldison, Ronald Cs di Kemendag
Ditbinmas Polda Metro Jaya Gandeng BPPKB Banten HDS Perkuat Sinergi Jaga Kamtibmas
Dave Laksono Dukung Evaluasi Total Latsarmil Kopdes Usai Lima Peserta Meninggal
Komisi I DPR Soroti Maraknya Judi Online, Minta Pemerintah Bertindak Lebih Keras
Jalin Hubungan Baik ke Depan Warga Desa Nifasi, PT Kristalin Ekalestari Ajak Forum Diskusi
HANI 2026, BNN Perkuat Pencegahan Narkotika Lewat Gerakan Ananda Bersinar
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 30 Juni 2026 - 23:12 WIB

Dorong Akses Buku Digital, Adde Rosi Sosialisasikan SIBI ke Kabupaten Lebak

Selasa, 30 Juni 2026 - 21:28 WIB

Mengabdi 36 Tahun, H. Sanusi Justru Dituduh Menggelapkan; Tim Hukum Minta Polisi Hentikan Kasus

Senin, 29 Juni 2026 - 23:11 WIB

MataHukum: KPK Jangan Tebang Pilih Lindungi Aldison, Ronald Cs di Kemendag

Senin, 29 Juni 2026 - 14:20 WIB

Ditbinmas Polda Metro Jaya Gandeng BPPKB Banten HDS Perkuat Sinergi Jaga Kamtibmas

Minggu, 28 Juni 2026 - 22:50 WIB

Dave Laksono Dukung Evaluasi Total Latsarmil Kopdes Usai Lima Peserta Meninggal

Berita Terbaru