Inggrit Astridayanti Kritik Tren “ANJING” dalam Percakapan: Gaya atau Kehilangan Kendali

Avatar photo

- Penulis

Selasa, 7 April 2026 - 22:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Keterangan foto : Educator, Activist, dan Humanist, Inggrit Astridayanti, Selasa (7/4/2026)

i

Keterangan foto : Educator, Activist, dan Humanist, Inggrit Astridayanti, Selasa (7/4/2026)

Ikuti kami di Google News

Terasmedia.co JAKARTA – Fenomena penggunaan kata-kata kasar, khususnya kata “anjing”, yang semakin lumrah dalam percakapan sehari-hari menjadi sorotan tajam. Educator, Activist, dan Humanist, Inggrit Astridayanti, mengkritisi tren ini sebagai tanda “Ketika Etika Gugur di Ujung Lidah”.

Menurut Inggrit, kata yang dulu dianggap sangat kasar kini seolah menjadi bumbu percakapan yang bisa ditempelkan dalam berbagai ekspresi: kaget, kesal, bercanda, bahkan tanpa alasan sekalipun.

“Satu kata yang kini menjadi favorit banyak orang adalah ANJING!!! Hampir semua hal bisa ditempeli dengan kata itu. Kaget – ANJING; Kesal – ANJING; Bercanda – ANJING. Bahkan tanpa alasan pun kata itu bisa keluar, seolah refleks, ringan, dan spontan tanpa beban,” papar Inggrit Astridayanti dalam tulisannya, Senin (7/4/2026).

Kehilangan Kendali atau Gaya Anak Sekarang?

Inggrit mempertanyakan sejak kapan kata yang dianggap kasar berubah menjadi “normal” dalam percakapan. Ia menyoroti dalih bahwa ini adalah bentuk ekspresi, kejujuran, atau “gaya anak sekarang”.

“Tetapi kalau semua hal harus diucapkan dengan kasar, apakah itu benar-benar gaya atau justru tanda kehilangan kendali? Ada yang bilang yang penting tidak munafik. Tapi jujur tanpa etika bukan keberanian, itu sekadar ketidaksabaran yang dibenarkan,” tegas Inggrit.

Ia juga menolak anggapan bahwa ini “cuma kata santai saja”. Bagi Inggrit, jika semua dianggap “cuma kata”, lambat laun masyarakat akan lupa bahwa kata bisa membentuk cara berpikir, dan cara berpikir akan membentuk cara kita memperlakukan orang lain.

Batas Antara Ekspresi dan Penghinaan Menjadi Kabur

Lebih lanjut, Inggrit mengemukakan kekhawatirannya tentang hilangnya kesadaran kolektif. Semakin sering kata kasar dipakai, semakin banyak yang merasa itu normal, dan semakin tidak perlu dipertanyakan.

“Di situlah masalahnya dimulai. Bukan katanya, tetapi pada hilangnya kesadaran. Karena ketika lidah terbiasa lepas tanpa saring, batas antara ekspresi dan penghinaan jadi kabur, batas antara bercanda dan merendahkan jadi tipis. Tanpa sadar, kita sedang melatih diri untuk tidak peduli,” ujarnya prihatin.

Dulu, kata Inggrit, orang diajarkan menjaga ucapan bukan karena takut dibilang lemah, tetapi karena tahu kata yang salah bisa melukai lebih dalam daripada tindakan. Namun kini, yang dijaga justru gengsi untuk terlihat santai, liar, dan real, seolah-olah semakin kasar semakin keren.

“Padahal apa istimewa, kelebihan, atau hebatnya dari tidak bisa mengontrol ucapan? Apa bangganya punya lidah yang tidak punya rem?” tanyanya retoris.

Inggrit menutup dengan peringatan keras: ketika manusia terbiasa (membudaya) dengan merendahkan manusia lain melalui ucapan, di situlah etika benar-benar gugur. Bukan hilang perlahan, melainkan jatuh tanpa disadari, di ujung lidah kita sendiri.

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Tanam Mangrove Tak Lagi Sekadar Aksi Hijau, Bali Dorong Blue Carbon Jadi Aset Ekonomi
Komisi XI Tagih Komitmen BI Dorong Lapangan Kerja dan Ekonomi Daerah
Surat dari Ternate: Lily Masita Tomasoa Memohon Keadilan kepada Jaksa Agung
Ketua PW Fatayat NU Ajak Kader Fatayat Aktif Kampanyekan Pariwisata Anyer dan Majukan Ekonomi Kreatif
Menjaga Samudra Tanpa Sekat: Redesign Kewenangan Bakamla dan Urgensi Single Agency Coast Guard
Mayjen TNI Pujo Widodo Apresiasi Keberpihakan Pemerintah kepada Petani
Bukan Hanya Cibinong, Mangihut Sinaga Khawatir Praktik Serupa Menjalar ke Seluruh Lapas
Kabel Menjuntai Sebabkan Kecelakaan di Kampung Grojog, Ini Tanggapan TelkomGroup
Berita ini 46 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 22:04 WIB

Tanam Mangrove Tak Lagi Sekadar Aksi Hijau, Bali Dorong Blue Carbon Jadi Aset Ekonomi

Selasa, 29 September 2026 - 19:57 WIB

Komisi XI Tagih Komitmen BI Dorong Lapangan Kerja dan Ekonomi Daerah

Selasa, 29 September 2026 - 11:40 WIB

Surat dari Ternate: Lily Masita Tomasoa Memohon Keadilan kepada Jaksa Agung

Minggu, 27 September 2026 - 06:11 WIB

Menjaga Samudra Tanpa Sekat: Redesign Kewenangan Bakamla dan Urgensi Single Agency Coast Guard

Sabtu, 26 September 2026 - 13:45 WIB

Mayjen TNI Pujo Widodo Apresiasi Keberpihakan Pemerintah kepada Petani

Berita Terbaru