52 Penerbangan Terdampak Gangguan Sinyal, DPR: Bahaya Fatal Ancam Keselamatan

Avatar photo

- Penulis

Rabu, 13 Mei 2026 - 22:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Keterangan foto : Anggota Komisi V DPR RI, Saadiah Uluputty, Rabu (13/5/2026)

i

Keterangan foto : Anggota Komisi V DPR RI, Saadiah Uluputty, Rabu (13/5/2026)

Ikuti kami di Google News

Terasmedia.co Jakarta – Fenomena gangguan sinyal GPS atau GPS Interference di wilayah ruang udara Indonesia kembali terjadi dan kini dinilai telah menjadi ancaman serius bagi keselamatan penerbangan nasional. Masalah ini tercatat berulang kali terjadi dalam dua periode berbeda, yakni pada bulan April dan Mei 2026, dan memicu kekhawatiran luas akan risiko kecelakaan yang bisa saja terjadi kapan saja.

Merespons maraknya laporan gangguan tersebut, Anggota Komisi V DPR RI, Saadiah Uluputty, menuntut agar dilakukan penyelidikan mendalam dan menyeluruh terhadap seluruh aspek operasional AirNav Indonesia serta manajemen Bandara Soekarno-Hatta. Baginya, masalah ini tidak bisa lagi dianggap sekadar gangguan teknis biasa, karena menyangkut nyawa ribuan penumpang yang terbang setiap harinya.

“Harus ada investigasi secara mendalam dan transparan. Gangguan sinyal navigasi ini sangat berbahaya dan mengancam keselamatan. Kami minta penelusuran dilakukan ke AirNav maupun pihak pengelola bandara, sampai ditemukan akar penyebabnya,” tegas Saadiah saat diwawancarai, Rabu (13/5/2026).

Kronologi gangguan ini bermula saat AirNav Indonesia pertama kali mengeluarkan peringatan resmi kepada seluruh komunitas penerbangan terkait gangguan masif yang terjadi pada rentang tanggal 8 hingga 13 April 2026. Peringatan itu kemudian ditindaklanjuti Ikatan Pilot Indonesia melalui imbauan tertulis di media sosial resminya pada 17 April 2026, yang meminta seluruh pilot meningkatkan kewaspadaan, selalu melakukan pengecekan silang sistem navigasi, dan tidak hanya bergantung pada satu sumber data GPS saja.

Namun, kekhawatiran semakin menjadi kenyataan ketika gangguan serupa kembali muncul hanya berselang sebentar, tepatnya pada tanggal 5 dan 6 Mei 2026. Berdasarkan data yang dihimpun, sedikitnya 52 penerbangan komersial dilaporkan mengalami dampak langsung dari ketidakstabilan sinyal ini dalam dua periode kejadian tersebut.

Saadiah menegaskan, kejadian berulang dalam waktu yang sangat berdekatan harus menjadi alarm keras bagi semua otoritas penerbangan, mulai dari AirNav, pengelola bandara, hingga Direktorat Jenderal Perhubungan Udara.

“Karena sudah terulang lagi di bulan Mei, ini bukan kebetulan. Ini tanda bahaya. Pesawat-pesawat modern saat ini sangat bergantung pada sistem GPS. Kalau sinyalnya kacau, posisi pesawat bisa salah baca, navigasi terganggu, sistem kendali otomatis bermasalah, hingga sistem deteksi bahaya ketinggian pun bisa terdampak,” jelas politikus dari Fraksi PKS ini.

Dampak paling kritis, lanjut Saadiah, adalah saat pesawat akan melakukan pendaratan, terlebih jika kondisi cuaca sedang buruk atau jarak pandang rendah. Gangguan sinyal dapat membuat akurasi posisi pesawat hilang, berisiko menyebabkan penyimpangan jalur, miskomunikasi antara pilot dan pengendali lalu lintas udara, hingga potensi terjadinya tabrakan atau kecelakaan saat mendarat.

Ia juga mengingatkan, meskipun pilot telah dilatih menghadapi situasi darurat navigasi, kemampuan manusia tetap memiliki batas. Jika gangguan teknologi terus berulang tanpa ada langkah penanggulangan serius, risiko kesalahan manusia pun akan meningkat drastis.

“Pilot memang punya kemampuan manual, tapi teknologi harusnya menolong, bukan menjadi sumber bahaya. Kami minta otoritas segera selidiki sumber gangguannya, pola kejadiannya, wilayah mana saja yang rawan, hingga kemungkinan ada unsur kesengajaan yang mengancam keamanan negara. Semua harus dibuka ke publik agar masyarakat tenang dan penerbangan kembali aman,” pungkas Saadiah.

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Politik Dua Kaki PDIP Bikin PKB Gelisah, Pengamat: Gerus Posisi Tawar Koalisi
DPW PKB Banten Susun Kepengurusan DPC 2026-2031, Tekankan Keterwakilan Daerah
Dua DPC PPP Tuntaskan Muscab, DPW Papua Barat Daya Siap Perkuat Struktur Partai
Dari Pengabdian Menuju Kemenangan, PKB Lebak Siap Bergerak Lebih Solid dan Dekat dengan Rakyat
Adde Rosi Sebut Keterwakilan Perempuan di DPR Tak Cukup Angka, Perlu Posisi Strategis
Golkar: E-Voting Perlu Kajian Mendalam, Infrastruktur dan Regulasi Matang
SOKSI Hidupkan Kembali Program P2KB untuk Perkuat Kaderisasi Jelang Pemilu 2029
Izin Dicabut tapi Tetap Beroperasi, Kejagung Bongkar Rekayasa Dokumen Ekspor PT AKT
Berita ini 22 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 21 Juni 2026 - 23:15 WIB

Politik Dua Kaki PDIP Bikin PKB Gelisah, Pengamat: Gerus Posisi Tawar Koalisi

Kamis, 18 Juni 2026 - 12:57 WIB

DPW PKB Banten Susun Kepengurusan DPC 2026-2031, Tekankan Keterwakilan Daerah

Jumat, 12 Juni 2026 - 21:12 WIB

Dua DPC PPP Tuntaskan Muscab, DPW Papua Barat Daya Siap Perkuat Struktur Partai

Kamis, 11 Juni 2026 - 15:26 WIB

Dari Pengabdian Menuju Kemenangan, PKB Lebak Siap Bergerak Lebih Solid dan Dekat dengan Rakyat

Rabu, 10 Juni 2026 - 15:33 WIB

Adde Rosi Sebut Keterwakilan Perempuan di DPR Tak Cukup Angka, Perlu Posisi Strategis

Berita Terbaru

Ilustrasi Gambar

Daerah

Penemuan Jasad Bayi Gegerkan Warga Sindang Jaya

Minggu, 28 Jun 2026 - 00:23 WIB

Entertainment

SID dan Slank Jadi Andalan Jakarta Fair Music Concert Akhir Pekan Ini

Sabtu, 27 Jun 2026 - 22:11 WIB

Hukum dan Kriminal

BNN Petakan Enam Kampung Rawan Narkoba di Bangka Belitung

Sabtu, 27 Jun 2026 - 22:02 WIB