Reshuffle Bukan Hal Baru, Arifki: Jawab Tekanan Global dan Dinamika Oposisi

Avatar photo

- Penulis

Rabu, 8 April 2026 - 10:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Keterangan foto: Arifki Chaniago.

i

Keterangan foto: Arifki Chaniago.

Ikuti kami di Google News

Terasmedia.co Jakarta — Isu reshuffle Kabinet Merah Putih kembali menguat di tengah tekanan energi global dan meningkatnya dinamika oposisi di ruang publik. Momentum ini bukan muncul tiba-tiba, melainkan bagian dari rencana sebelumnya yang kini menemukan konteksnya.

Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia, Arifki Chaniago, menyebutkan wacana reshuffle sejatinya bukan hal baru. Namun, dalam situasi saat ini, rencana tersebut bertemu dengan tekanan eksternal dan dinamika internal yang kian menguat.

“Reshuffle ini bukan muncul mendadak. Momentumnya saja yang sekarang terasa lebih kuat karena bertemu dengan tekanan energi global dan mulai menguatnya narasi oposisi di ruang publik,” ujar Arifki.

Menurutnya, kondisi global yang berdampak pada sektor energi dan ekonomi membuat pemerintah perlu memastikan kesiapan tim di dalam kabinet untuk merespons situasi secara cepat dan tepat.

“Dalam situasi seperti ini, Presiden Prabowo Subianto tentu akan lebih berhati-hati. Yang dibutuhkan bukan sekadar figur politik, tetapi menteri yang benar-benar ahli dan mampu membantu memperkuat kinerja pemerintah,” jelasnya.

Di sisi lain, ia melihat dinamika oposisi mulai membentuk ruang persepsi publik yang tidak bisa diabaikan. Meski belum seluruhnya terinstitusionalisasi dalam sikap partai politik, narasi kritik dinilai mulai berkembang dan menguji respons pemerintah.

“Tekanan dari luar dan dalam ini bertemu dalam satu momentum. Karena itu, setiap langkah pemerintah, termasuk reshuffle, akan dibaca lebih luas oleh publik,” katanya.

Arifki menilai, reshuffle pada akhirnya bukan hanya soal pergantian posisi, tetapi bagian dari upaya memastikan kinerja pemerintahan tetap terjaga dan dapat dirasakan masyarakat.

“Tujuan akhirnya tetap sama, bagaimana pemerintah bisa bekerja lebih efektif dan masyarakat merasakan dampaknya. Di situ kepuasan publik menjadi ukuran,” ujarnya.

Ia menambahkan, dalam konteks tersebut, reshuffle menjadi instrumen strategis yang harus dihitung secara matang agar tidak hanya menjawab kebutuhan internal saja, tetapi juga ekspektasi publik.

“Kalau momentum ini dikelola dengan tepat, reshuffle bisa menjadi penguatan. Tapi kalau tidak, justru bisa membuka ruang tafsir yang lebih luas dan tidak memberikan efek positif ke pemerintah,” pungkasnya.

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Gus Rozin Apresiasi Muktamirin, Hormati Mekanisme Pemilihan Ketum PBNU melalui AHWA
Ironi Muktamar NU ke-35: Wartawan Menunggu Seharian, Akses Peliputan Dibatasi
Gus Rozin Ajak Muktamirin Memilih Berdasarkan Hati Nurani
Peristiwa Cipasung Cukup Sekali, Jamaah Perlu Jaga Jam’iyah
Pandangan Kritis terhadap Isu Dinamika Internal Partai Golkar
Wakil Sekretaris PWNU Jateng: Muktamar Berwenang Membahas dan Mengubah AD/ART
Camelia Petir Guncang Muktamar NU ke-35, Jutaan Santri Bersholawat Bersama Seribu Rebana
Aspirasi Masyarakat Makimi: Minta DPR dan DPD RI Awasi Penertiban Kawasan Hutan
Berita ini 22 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 30 Agustus 2026 - 10:41 WIB

Gus Rozin Apresiasi Muktamirin, Hormati Mekanisme Pemilihan Ketum PBNU melalui AHWA

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 23:04 WIB

Ironi Muktamar NU ke-35: Wartawan Menunggu Seharian, Akses Peliputan Dibatasi

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 12:48 WIB

Peristiwa Cipasung Cukup Sekali, Jamaah Perlu Jaga Jam’iyah

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 08:09 WIB

Pandangan Kritis terhadap Isu Dinamika Internal Partai Golkar

Jumat, 28 Agustus 2026 - 23:06 WIB

Wakil Sekretaris PWNU Jateng: Muktamar Berwenang Membahas dan Mengubah AD/ART

Berita Terbaru