Ketika Pertamax Naik, Buruh dan Ojol yang Pertama Kali Merasakan Sakitnya

Avatar photo

- Penulis

Rabu, 10 Juni 2026 - 15:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ikuti kami di Google News

Terasmedia.co Jakarta – Bagi sebagian orang, kenaikan harga Pertamax mungkin hanya dianggap sebagai angka. Dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Selisihnya memang terlihat hanya beberapa ribu rupiah. Namun bagi buruh dan pengemudi ojek online (ojol), kenaikan itu bukan sekadar angka. Kenaikan tersebut dapat menjadi tambahan beban hidup yang harus mereka tanggung setiap hari.

Buruh dan ojol adalah kelompok pekerja yang kehidupannya sangat bergantung pada mobilitas. Setiap hari mereka harus keluar rumah, menempuh perjalanan puluhan kilometer untuk bekerja, mencari penumpang, mengantar barang, atau memenuhi target yang ditentukan perusahaan maupun aplikasi. Ketika harga bahan bakar naik, biaya yang harus mereka keluarkan juga ikut meningkat, sementara penghasilan belum tentu bertambah.

Bagi seorang buruh, kenaikan harga BBM berarti bertambahnya biaya untuk berangkat dan pulang kerja. Mungkin terlihat kecil jika dihitung per hari, tetapi jika diakumulasikan selama satu bulan, jumlahnya bisa mencapai ratusan ribu rupiah. Uang yang sebelumnya dapat digunakan untuk membeli kebutuhan dapur, biaya sekolah anak, atau menabung untuk keperluan mendesak, akhirnya harus dialihkan untuk membeli bahan bakar.

Situasi yang dihadapi pengemudi ojol bahkan lebih berat. Bahan bakar merupakan salah satu komponen biaya operasional terbesar dalam pekerjaan mereka. Semakin lama mereka berada di jalan, semakin banyak bahan bakar yang harus dibeli. Masalahnya, kenaikan harga BBM tidak otomatis diikuti dengan kenaikan tarif perjalanan. Akibatnya, pendapatan bersih yang dibawa pulang menjadi semakin kecil.

Banyak pengemudi ojol saat ini sudah mengeluhkan pendapatan yang menurun. Persaingan semakin ketat karena jumlah pengemudi terus bertambah. Insentif yang dulu menjadi andalan semakin sulit diperoleh. Potongan aplikasi juga dianggap masih cukup besar. Dalam kondisi seperti itu, kenaikan harga BBM menjadi pukulan tambahan yang semakin mempersempit ruang hidup mereka.

Dampak kenaikan BBM tidak berhenti pada biaya transportasi. Efek domino berikutnya adalah kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok. Biaya distribusi barang meningkat, ongkos pengiriman bertambah, dan pada akhirnya harga yang dibayar konsumen juga naik. Buruh dan ojol akhirnya menghadapi situasi yang sulit. Penghasilan mereka tetap, tetapi harga kebutuhan sehari-hari terus bergerak naik.

Ketika biaya hidup meningkat sementara pendapatan tidak ikut bertambah, daya beli masyarakat akan menurun. Banyak keluarga pekerja terpaksa mengurangi pengeluaran yang dianggap tidak mendesak. Ada yang menunda membeli pakaian baru, mengurangi rekreasi keluarga, bahkan mengurangi kualitas makanan yang dikonsumsi demi menyesuaikan kondisi keuangan.

Yang paling mengkhawatirkan adalah ketika kenaikan harga BBM terjadi di tengah situasi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil. Gelombang PHK masih terjadi di berbagai sektor. Kesempatan kerja baru tidak selalu mudah diperoleh. Banyak pekerja yang hidup dengan pendapatan pas-pasan dan tidak memiliki tabungan yang cukup untuk menghadapi kenaikan biaya hidup yang terus berulang.

Karena itu, bagi buruh dan pengemudi ojol, kenaikan harga Pertamax bukan sekadar persoalan energi. Ini adalah persoalan dapur keluarga. Persoalan biaya sekolah anak. Persoalan cicilan rumah dan kendaraan. Persoalan bagaimana mempertahankan kehidupan yang layak di tengah tekanan ekonomi yang semakin berat.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah kebijakan bukan hanya dilihat dari keseimbangan anggaran atau pergerakan harga minyak dunia. Yang jauh lebih penting adalah apakah masyarakat pekerja masih mampu memenuhi kebutuhan hidupnya dengan penghasilan yang mereka terima. Sebab ketika harga kebutuhan terus naik sementara pendapatan tidak bergerak, maka kelompok yang paling dahulu merasakan dampaknya adalah buruh dan pengemudi ojol, mereka yang setiap hari bekerja keras di jalan dan di tempat kerja untuk menghidupi keluarganya.

 

 

Oleh: Musrianto, Sekretaris Jenderal Konfederasi Barisan Buruh Indonesia

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Di Balik Gejolak Ekonomi: Kenyataan atau Perang Persepsi
Krisis Berulang, Buruh Terus Menanggung Beban
Menata Ulang Mediasi Perselisihan Hubungan Industrial
Buruh Tidak Memakai Dolar, Tetapi Menanggung Seluruh Dampaknya
Jadi Pemilik Sekaligus Regulator, Achmad Ismail Soroti Dilema Negara di GoTo
Kritik atas Postingan Kemnaker tentang Geser Hari Libur dan Upah Lembur
Di Balik Klaim PHK Rendah Kemnaker: Ilusi Data di Tengah Krisis Ketenagakerjaan
Penguatan Mediasi Perselisihan Hubungan Industrial
Berita ini 11 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 10 Juni 2026 - 15:27 WIB

Ketika Pertamax Naik, Buruh dan Ojol yang Pertama Kali Merasakan Sakitnya

Selasa, 9 Juni 2026 - 15:00 WIB

Di Balik Gejolak Ekonomi: Kenyataan atau Perang Persepsi

Minggu, 31 Mei 2026 - 10:35 WIB

Krisis Berulang, Buruh Terus Menanggung Beban

Sabtu, 23 Mei 2026 - 14:32 WIB

Menata Ulang Mediasi Perselisihan Hubungan Industrial

Minggu, 17 Mei 2026 - 09:40 WIB

Buruh Tidak Memakai Dolar, Tetapi Menanggung Seluruh Dampaknya

Berita Terbaru

Daerah

Bank Banten Kembali Dipercaya Salurkan Bansos

Rabu, 10 Jun 2026 - 17:45 WIB