Sandiwara di Panggung, Damai di Meja Makan

Avatar photo

- Penulis

Sabtu, 18 Juli 2026 - 10:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ikuti kami di Google News

Oleh: Surya Perana Pk

Di negeri konoha, ketika para elite duduk satu meja membahas pembagian, semua berlangsung jauh dari jangkauan nalar rakyat. Pertemuan-pertemuan itu terjadi di ruang-ruang sunyi yang kedap suara, seolah berada di lorong bawah tanah yang tak dapat ditembus siapa pun. Bahkan seekor nyamuk sekali pun tak akan mampu membawa kabar tentang apa yang sebenarnya sedang dirancang.

Sementara itu, yang disuguhkan kepada publik hanyalah tontonan. Drama demi drama dipertontonkan layaknya serial Korea yang tak pernah selesai. Setiap episode menghadirkan konflik baru, tokoh baru, dan kegaduhan baru Rakyat dibuat larut mengikuti alur cerita, sementara skenario sesungguhnya telah ditulis jauh dari sorotan.

Di meja para elite, hidangan utama bukan sekadar sepiring nasi goreng? Semua dinikmati bersama dalam keheningan.

Sisa-sisa “nasi goreng” kemudian dibagikan kepada para kapten lapangan. Mereka berebut, saling menunjukkan loyalitas, bahkan saling bertabrakan demi memperoleh bagian yang tersisa.

Perebutan itu terlihat gaduh di permukaan, padahal yang diperebutkan hanyalah remah-remah dari meja para elite.

Di balik riuhnya drama politik yang setiap hari memenuhi ruang publik, ada satu hal yang perlahan terlupakan perhatian rakyat sengaja dipecah.

Energi publik dihabiskan untuk mengikuti konflik yang dipertontonkan, sementara persoalan mendasar mengenai pengelolaan kekayaan negara, keadilan, dan kesejahteraan justru tenggelam.

Pada akhirnya, panggung boleh dipenuhi pertengkaran, perbedaan, dan saling serang. Namun ketika tirai ditutup, para pemain utama kembali duduk di meja yang sama. Sementara rakyat tetap menjadi penonton yang terus membeli tiket untuk menyaksikan sandiwara yang tak pernah usai.

Semua tertipu oleh kegaduhan yang diciptakan para elite. Di balik riuhnya konflik yang dipertontonkan ke publik, mereka justru duduk di satu meja, makan bersama, dan tersenyum karena berhasil membuat cerita yang di sukai rakyat dan mereka jadi pahlawan, seluruh rakyat Konoha hanya menjadi penonton yang terjebak dalam panggung sandiwara.(MR)

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Harmonisasi Implementasi KDKMP Guna Membangun Kepercayaan Antara Negara, Pengelola, dan Masyarakat
Harmonisasi Implementasi KDKMP Guna Membangun Kepercayaan Antara Negara, Pengelola, dan Masyarakat
 Kemerdekaan di Tengah Duka, Hajar Wisnu Hardiansyah: Kemerdekaan Bukan Sekadar Seremoni
Moment HUT Kemerdekaan RI ke 81, Para Pendaki Harus Berjuang Memerdekakan Gunung Dari Sampah
Jantung Bisnis Adalah Manusia: Mengapa Manajemen SDM Modern Membutuhkan Sentuhan Norma Agama
Ketika Perlindungan Hukum Berubah Menjadi Alasan Menghilangkan Hak Buruh
Mengapa Menteri Ketenagakerjaan Membatasi Penetapan Ulang Upah Minimum?
Saat Sengkuni Menjadi Tangan Asing, Menjadi Mata di Atas Mata
Berita ini 54 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 2 September 2026 - 20:14 WIB

Harmonisasi Implementasi KDKMP Guna Membangun Kepercayaan Antara Negara, Pengelola, dan Masyarakat

Rabu, 2 September 2026 - 19:20 WIB

Harmonisasi Implementasi KDKMP Guna Membangun Kepercayaan Antara Negara, Pengelola, dan Masyarakat

Minggu, 23 Agustus 2026 - 21:45 WIB

 Kemerdekaan di Tengah Duka, Hajar Wisnu Hardiansyah: Kemerdekaan Bukan Sekadar Seremoni

Selasa, 18 Agustus 2026 - 22:23 WIB

Moment HUT Kemerdekaan RI ke 81, Para Pendaki Harus Berjuang Memerdekakan Gunung Dari Sampah

Kamis, 6 Agustus 2026 - 08:42 WIB

Jantung Bisnis Adalah Manusia: Mengapa Manajemen SDM Modern Membutuhkan Sentuhan Norma Agama

Berita Terbaru