Terasmedia.co Jakarta – Di era bisnis modern yang serba cepat ini, kita sering kali terjebak pada pandangan bahwa karyawan hanyalah sekadar mesin pencetak profit atau angka di dalam lembar kerja. Padahal, jantung dari setiap perusahaan yang hidup dan berkembang adalah manusia-manusia di baliknya. Mengelola manusia atau Human Relationship Management di tempat kerja sebetulnya bukan cuma urusan target dan efisiensi, tapi juga soal memanusiakan manusia itu sendiri. Dan kalau kita mencari rujukan terbaik tentang bagaimana memperlakukan manusia dalam urusan pekerjaan, sejarah Islam telah mencatat praktik yang sangat luar biasa.
Membicarakan relasi antarmanusia dalam bisnis rasanya kurang pas jika tidak melihat bagaimana agama mengatur hal ini. Jika kita menelusuri berbagai literatur di internet, khususnya yang membahas tentang “Etika Sosial dalam Islam: Tinjauan atas Relasi Sosial”, kita akan menemukan satu benang merah yang sangat kuat. Etika sosial dalam Islam didefinisikan bukan sekadar sebagai aturan formalitas yang kaku, melainkan sebuah fondasi kokoh untuk membentuk lingkungan yang penuh kasih sayang, keadilan, dan menjunjung tinggi hak asasi sesama manusia.
Islam tidak pernah memisahkan urusan duniawi, termasuk urusan bisnis dan manajerial, dari norma agama. Semuanya menyatu dan saling melengkapi. Islam memberi contoh nyata relasi sosial yang adil, toleran, dan tidak diskriminatif melalui teladan Nabi Muhammad SAW. Beliau bukan hanya seorang utusan Allah, tetapi juga seorang pedagang, negosiator, dan pemimpin yang ulung. Dalam catatan sejarah, beliau membangun kerja sama bisnis dan memperlakukan semua orang dengan sangat baik tanpa pandang bulu, entah itu dengan sesama Muslim, maupun dengan kaum Yahudi dan Nasrani di Madinah. Relasi yang beliau bangun murni didasarkan pada perlakuan yang setara. Beliau menunjukkan bahwa di mata keadilan, setiap individu memiliki hak yang sama dan tidak boleh ada perlakuan diskriminatif hanya karena perbedaan latar belakang.
Lalu, bagaimana teladan ini diterjemahkan ke dalam prinsip manajemen sumber daya manusia sehari-hari?
Pertama, soal menunaikan hak pekerja. Terkadang di dunia bisnis modern, ada kebiasaan menunda-nunda pembayaran gaji atau bonus demi menjaga arus kas perusahaan. Padahal, jauh sebelum konsep manajemen SDM modern muncul, Nabi Muhammad SAW sudah memberikan garis yang sangat tegas. Dalam sebuah riwayat dari Ibnu Majah, beliau berpesan, “Berikanlah upah kepada pekerja sebelum keringatnya kering.” Pesan ini sangat sederhana namun memiliki makna yang dalam. Menunda hak pekerja yang sudah menunaikan kewajibannya adalah bentuk kezaliman sosial. Ketepatan waktu dalam memberikan apresiasi finansial adalah bentuk penghargaan paling dasar yang bisa diberikan perusahaan kepada karyawannya.
Kedua, mengukur beban kerja dengan kacamata empati. Di dunia kerja saat ini, fenomena kelelahan ekstrem atau burnout akibat beban kerja yang tidak masuk akal semakin sering terjadi. Prinsip Islam mengajarkan seorang pemimpin atau manajer untuk peka terhadap kapasitas timnya. Tuntunan agama berpesan agar kita tidak membebani pekerja di luar batas kemampuannya, dan jika situasi memaksa mereka memikul beban yang berat, maka kita sebagai pemimpin harus turun tangan membantu mereka. Ini adalah esensi sejati dari kepemimpinan yang melayani.
Ketiga, mengedepankan adab dalam komunikasi kerja. Ada pedoman penting dalam tradisi keilmuan Islam yang menyebutkan bahwa adab itu letaknya lebih tinggi daripada ilmu. Sepintar atau setinggi apa pun jabatan seseorang di sebuah perusahaan, etika sosial menuntutnya untuk berbicara dengan bahasa yang baik, menghindari kata-kata kasar, dan mau mendengarkan masukan dari bawahannya.
Pendekatan yang saling menghargai inilah yang membuat karyawan merasa diayomi, bukan sekadar dijadikan alat produksi.
Pada akhirnya, menghubungkan semua data dan nilai ini menyadarkan kita bahwa pentingnya prinsip-prinsip dalam mengelola sumber daya manusia tidak luput dari norma agama Islam. Membawa nilai-nilai keadilan, toleransi, dan kasih sayang ke dalam lingkungan kerja justru akan menciptakan ekosistem bisnis yang jauh lebih sehat dan berkelanjutan.
Karyawan yang merasa dihargai, dipenuhi hak-haknya tepat waktu, dan tidak didiskriminasi pasti akan membalasnya dengan loyalitas dan kinerja yang tulus. Menerapkan manajemen relasi berbasis nilai Islam membuktikan bahwa bisnis sejati bukan melulu soal kurva pendapatan, melainkan tentang bagaimana kita memperlakukan manusia lain di sekitar kita dengan sebaik-baiknya
Oleh; Abdurrahman Fathi Mubarok
Mahasiswa Sistem Informasi STMIK Tazkia












