Terasmedia.co Lebak – Ketua Jaringan Aktivis Nusantara (JAN), Muhamad Yusuf, melontarkan kritik keras terhadap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disajikan oleh Badan Gizi Nasional (BGN) melalui SPPG Cibuah, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak, Banten. Sorotan itu mencuat setelah beredarnya foto menu makanan yang dinilai sangat minim, baik dari sisi kualitas, kelayakan, maupun nilai gizinya.
Dalam foto yang beredar, nampak satu porsi makanan terdiri dari nasi putih, kuah berwarna kecokelatan dengan isi yang nyaris tidak terlihat, dua potong kecil lauk, seiris mentimun, serta potongan buah. Penyajian tersebut memicu reaksi publik karena dianggap tidak mencerminkan semangat besar program MBG yang selama ini digadang-gadang sebagai solusi pemenuhan gizi masyarakat.
Muhamad Yusuf menilai, program nasional sebesar MBG seharusnya hadir dengan standar yang jelas dan bermartabat. Menurutnya, masyarakat tidak sedang meminta makanan mewah, namun setidaknya menu yang disajikan harus memenuhi unsur kepantasan, kebersihan, kecukupan protein, dan nilai gizi yang masuk akal.
“Kalau menu seperti ini benar disajikan kepada penerima manfaat, publik tentu bertanya: di mana letak ‘bergizi’-nya? Jangan sampai program besar ini justru berubah menjadi simbol ketidaksiapan dan lemahnya pengawasan,” ujar Yusuf dalam keterangannya, Selasa (11/5/2026).
Ia menegaskan, BGN tidak boleh hanya fokus pada serapan anggaran dan distribusi program semata, tetapi juga wajib memastikan kualitas makanan yang diterima masyarakat benar-benar layak konsumsi dan sesuai standar kesehatan. Sebab, program MBG bukan sekadar membagikan makanan, melainkan menyangkut masa depan kualitas generasi.
Menurut JAN, persoalan ini tidak bisa dianggap sepele karena menyangkut kepercayaan publik terhadap program pemerintah. Ketika masyarakat melihat menu yang dinilai minim dan tidak representatif, maka yang dipertaruhkan bukan hanya kualitas layanan, tetapi juga kredibilitas institusi pelaksana di lapangan.
Muhamad Yusuf juga meminta adanya audit terbuka terhadap pengelolaan MBG di SPPG Cibuah, termasuk terkait standar bahan baku, mekanisme pengadaan, hingga pola pengawasan distribusi makanan. Ia menilai evaluasi penting dilakukan agar tidak muncul dugaan adanya pemborosan anggaran ataupun penurunan kualitas dalam pelaksanaan program.
“Program ini menggunakan uang negara, sehingga masyarakat berhak tahu bagaimana kualitas makanan yang diberikan. Jangan sampai nama besar program nasional tercoreng hanya karena lemahnya kontrol dan pengawasan di tingkat pelaksana,” katanya.
Lebih jauh, JAN menilai kualitas makanan yang rendah dapat berdampak langsung pada psikologis penerima manfaat. Alih-alih menghadirkan semangat dan perhatian negara terhadap kebutuhan gizi masyarakat, sajian yang dinilai tidak layak justru berpotensi memunculkan rasa kecewa dan sindiran di tengah publik.
Karena itu, JAN mendesak Badan Gizi Nasional segera turun tangan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan MBG di SPPG Cibuah, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak, Banten. Yusuf menegaskan, program yang membawa nama “bergizi” harus benar-benar menghadirkan kualitas, bukan sekadar formalitas pembagian makanan.
Penulis : Farid
Editor : Redaksi












