Terasmedia.co Jakarta – Nama Nadiem Makarim kini menjadi sorotan tajam sekaligus menjadi simbol catatan kelam bagi sejarah pendidikan Indonesia. Hal ini menyusul terungkapnya dugaan kasus korupsi terbesar di sektor pendidikan yang terjadi pada era pemerintahan Presiden Joko Widodo. Menurut Jerry Massie, kasus yang berpusat pada pengadaan laptop Chromebook ini telah menimbulkan kerugian negara yang luar biasa besar, mencapai angka Rp5,2 triliun.
Jerry Massie, yang mengulas kasus ini secara mendalam, menilai apa yang dilakukan Nadiem bukan sekadar kesalahan kebijakan, melainkan tindakan penyalahgunaan wewenang atau abuse of power. Ia menuduh mantan Mendikbud Ristek tersebut telah memperkaya diri sendiri serta melakukan praktik korupsi secara berjamaah bersama jajarannya.
“Korupsi ini adalah yang terbesar di bidang pendidikan di era Presiden Jokowi. Modusnya diduga berupa rekayasa dan penandaan anggaran pada pengadaan barang berupa laptop Chromebook. Saya tegaskan, Nadiem telah melakukan penyalahgunaan kekuasaan demi kepentingan pribadi dan korupsi masif,” tegas Jerry Massie.
Kerahkan Ribuan Buzzer demi Tutupi Fakta
Fakta yang semakin memprihatinkan, menurut hasil riset yang dilakukan Jerry Massie, upaya menutupi kejahatan ini dilakukan secara terorganisir dan masif. Ia mendapati fakta bahwa ratusan hingga ribuan akun di media sosial, khususnya Instagram dan X (dahulu Twitter), telah dikerahkan dan diduga mendapatkan dukungan untuk membela nama baik Nadiem Makarim.
“Mereka ini dibayar atau di-endorse untuk membuat Nadiem tampak tak bersalah di mata publik. Padahal mereka buta dan tidak paham betapa rusaknya sistem pendidikan yang dia bangun. Kaum pembela ini seolah sengaja dibuat tidak mengerti fakta yang ada di lapangan,” ungkapnya.
Jerry pun memuji ketegasan aparat hukum yang dinilainya bekerja berdasarkan hati nurani dan kejujuran. Ia menyebut Hakim serta Jaksa Penuntut Umum bukanlah orang yang bisa dibodohi. Hal ini terlihat dari putusan berat yang dijatuhkan. Awalnya dijatuhi hukuman 27 tahun penjara, kemudian disesuaikan menjadi 18 tahun, namun kini ancaman hukuman kembali diperberat.
“Putusan berat ini dijatuhkan karena fakta kekayaan Nadiem yang bertambah drastis hingga mencapai Rp3,6 triliun, angka yang sama sekali tidak masuk akal dan tidak sebanding dengan riwayat karirnya. Hakim dan Jaksa adalah orang jujur yang melihat kebenaran ini,” ujarnya.
Kebijakan Merusak, Kualitas Pendidikan Ambruk
Selain kasus korupsi uang negara, Jerry Massie menyoroti kehancuran sistem pendidikan Indonesia yang dinilainya terjadi akibat kebijakan-kebijakan yang dibuat Nadiem Makarim. Berbagai kebijakan yang dilahirkan justru dianggap membodohi generasi muda dan menjauhkan dari kualitas ilmu pengetahuan.
Kebijakan Kurikulum Merdeka Belajar misalnya, dinilai gagal mencerdaskan bangsa. Faktanya, banyak siswa mulai dari SD hingga SMP ditemukan tidak mampu membaca. Berbagai hal positif dihapus begitu saja; Pramuka ditiadakan, mata pelajaran PMP dimusnahkan, jurusan IPA dan IPS disatukan secara aneh tanpa landasan ilmiah, hingga hampir melegalkan ijazah palsu dengan narasi “ijazah tak penting dan belajar di sekolah tak wajib”.
“Pendidikan dia jadikan ladang bisnis. Dia bikin biaya pendidikan makin mahal lewat UPT-nya. Dia juga menunjuk staf ahli yang notabene masih sangat muda, dianggap belum berpengalaman, atau sekadar anak-anak ingusan yang tak paham dunia pendidikan. Ini menjadikan Nadiem sebagai Menteri Pendidikan dan Ristek paling buruk sepanjang sejarah Indonesia,” kritik Jerry.
Tak hanya itu, latar belakang Nadiem dinilai tidak memenuhi syarat untuk memimpin sektor strategis ini. Ia tidak pernah mengenyam pengalaman menjadi guru, kepala sekolah, dosen, maupun rektor, namun langsung duduk di kursi tertinggi pendidikan nasional. Padahal saat menjabat pun, Nadiem dinilai arogan dan tertutup; tidak pernah mau mendengar masukan para rektor, tidak mau berkunjung ke kampus, dan menutup diri dari saran akademisi.
Akibat kebijakan yang semrawut tersebut, dampaknya sangat fatal. Di era kepemimpinannya, tingkat Kecerdasan Intelektual (IQ) masyarakat Indonesia disebut turun hingga posisi terendah di dunia, bahkan diklaim berada di angka 78, yang mana angka tersebut dinilai sangat memprihatinkan.
Hukuman Diperberat
Menutup analisisnya, Jerry Massie menyatakan hukuman penjara yang kini makin berat merupakan konsekuensi logis. Hal ini disebabkan sikap Nadiem yang dinilai berkelit, tidak kooperatif saat persidangan, dan menghambat proses hukum.
“Hukumannya diperberat karena dia menghambat pemerataan pendidikan, memperkaya diri sendiri, dan menimbulkan kerugian negara yang sangat besar. Semua dosa besar ini kini mulai terungkap dan dibayar mahal di meja hijau,” pungkas Jerry Massie.











