Menjelang Dua Tahun Pemerintahan, Pengamat: Wajar Prabowo Evaluasi dan Pertimbangkan Reshuffle Kabinet

Avatar photo

- Penulis

Selasa, 1 September 2026 - 07:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Keterangan foto : Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia, Arifki Chaniago, Senin (20/4/2026)

i

Keterangan foto : Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia, Arifki Chaniago, Senin (20/4/2026)

Ikuti kami di Google News

Terasmedia.co Jakarta — Pengamat politik Arifki Chaniago menilai menjelang dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran merupakan momentum yang wajar bagi Presiden Prabowo Subianto untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja kabinet, termasuk membuka opsi reshuffle. Menurutnya, evaluasi diperlukan untuk memastikan pemerintahan berjalan semakin efektif dan program-program prioritas Presiden dapat dieksekusi dengan baik.

“Evaluasi bukan tanda pemerintahan gagal, tetapi bagian dari upaya memastikan pemerintahan semakin efektif. Dua tahun sudah cukup untuk melihat siapa yang bekerja, siapa yang berlari, dan siapa yang masih sibuk beradaptasi,” kata Arifki, Selasa (1/9/2026).

Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia ini mengatakan berbagai hasil survei dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan Presiden dalam mengevaluasi kinerja kabinet dan tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan. Menurutnya, survei memang bukan satu-satunya ukuran, tetapi persepsi publik penting karena pada akhirnya kinerja pemerintah akan dinilai langsung oleh masyarakat.

“Rapor menteri bukan hanya angka survei. Tetapi survei memberi gambaran bagaimana masyarakat melihat kerja pemerintah,” ujarnya.

Menurut Arifki, dinamika politik dan tuntutan publik bergerak sangat cepat sehingga Presiden membutuhkan menteri yang tidak sekadar menjadi representasi atau bargaining partai koalisi, tetapi juga memiliki kompetensi, kemampuan komunikasi, dan kapasitas eksekusi.

“Menteri hari ini tidak cukup hanya pintar di belakang meja. Menteri harus mampu menjelaskan kepada rakyat apa yang dikerjakan pemerintah dan apa manfaatnya,” katanya.

Ia menegaskan, kinerja menteri memiliki konsekuensi politik langsung terhadap Presiden. Ketika seorang menteri berhasil menjalankan program, keberhasilan tersebut akan memperkuat citra pemerintahan Prabowo. Sebaliknya, kegagalan menteri juga dapat menjadi beban politik bagi Presiden.

“Poin menteri masuk ke Prabowo, tetapi beban menteri juga kembali ke Prabowo. Karena itu, Presiden membutuhkan figur yang memahami visi, prioritas, dan ritme pemerintahannya,” ujar Arifki.

Arifki menilai program-program Prabowo sudah memiliki arah yang cukup jelas. Tantangannya adalah memastikan seluruh jajaran kabinet mampu menerjemahkan arah tersebut secara konsisten menjadi kebijakan dan hasil yang dirasakan masyarakat.

“Programnya bisa bagus, tetapi kalau eksekutornya tidak mampu menerjemahkan, program itu akan kehilangan tenaga,” katanya.

Menurutnya, reshuffle dapat menjadi momentum untuk memperkuat kabinet sekaligus memastikan seluruh menteri memiliki kecepatan dan pemahaman yang sama terhadap agenda pemerintahan.

“Kalau setelah dua tahun masih ada yang belum memahami arah Presiden, pertanyaannya sederhana: kita terus memberi waktu untuk belajar atau mencari pemain yang sejak awal sudah siap bermain?” ujar Arifki.

Arifki menambahkan, reshuffle sebaiknya tidak semata-mata dipandang sebagai bongkar-pasang jabatan atau manuver politik. Presiden perlu memilih menteri berdasarkan kombinasi kinerja, kompetensi, integritas, kemampuan komunikasi, serta penerimaan publik. “Reshuffle jangan hanya bongkar-pasang kursi. Reshuffle harus menjadi upgrade kabinet,” tegasnya.

Memasuki tahun ketiga pemerintahan, Arifki menilai Presiden membutuhkan kabinet yang semakin cepat bekerja, solid, dan mampu mendapatkan kepercayaan publik.

“Tahun pertama membangun tim, tahun kedua melihat siapa yang benar-benar bekerja, dan tahun ketiga harus menghasilkan. Presiden tidak sekadar membutuhkan orang untuk mengisi kursi, tetapi pemain yang mampu membantu memenangkan pertandingan,” pungkas Arifki.

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Tiang Telepon di Batur Jaya Dipertanyakan, Rohim Desak APH Investigasi Program dan Perizinannya
Didampingi Camel Petir, Anggota DPR RI Tommy Kurniawan Ikut Berbagi Bersama Tim PJBW di Raden Saleh Jakarta Pusat
DPD GMPK DKI Bagikan 10.000 Masker dan 700 Nasi Kotak
Jerry Massie: Hukum Tak Boleh Tunduk pada Siapapun, Jokowi Wajib Hadir di Persidangan
KOSMAK Lapor Dugaan Korupsi Porang Sidrap Rp26 Miliar ke Kortas Tipidkor Polri
Cegah Rekening Ganda, Marwan Jafar Minta Program 200 Juta Rekening Gratis Prioritaskan Warga Unbanked
Hadapi Kemarau, Arif Rahman Bantu Warga Baduy dengan Sembako dan 14 RTLH
Sekjen Projo Tegaskan: Tak Pernah Deklarasi Poros Solo dan Koalisi Pilpres 2029
Berita ini 23 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Sabtu, 12 September 2026 - 15:19 WIB

Tiang Telepon di Batur Jaya Dipertanyakan, Rohim Desak APH Investigasi Program dan Perizinannya

Sabtu, 12 September 2026 - 08:37 WIB

Didampingi Camel Petir, Anggota DPR RI Tommy Kurniawan Ikut Berbagi Bersama Tim PJBW di Raden Saleh Jakarta Pusat

Jumat, 11 September 2026 - 21:35 WIB

DPD GMPK DKI Bagikan 10.000 Masker dan 700 Nasi Kotak

Jumat, 11 September 2026 - 21:24 WIB

Jerry Massie: Hukum Tak Boleh Tunduk pada Siapapun, Jokowi Wajib Hadir di Persidangan

Jumat, 11 September 2026 - 13:46 WIB

KOSMAK Lapor Dugaan Korupsi Porang Sidrap Rp26 Miliar ke Kortas Tipidkor Polri

Berita Terbaru

GMPK DKI memilih turun langsung membagikan 10.000 masker dan 700 nasi kotak kepada masyarakat, Jumat (11/9/2026).

Nasional

DPD GMPK DKI Bagikan 10.000 Masker dan 700 Nasi Kotak

Jumat, 11 Sep 2026 - 21:35 WIB