Jakarta – Dinamika internal Partai Golkar kembali menjadi sorotan. Beredar pesan berantai melalui sejumlah grup WhatsApp dan media sosial yang secara terbuka menyerukan pelaksanaan Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Partai Golkar.
Pesan tersebut tidak sekadar berisi ajakan Munaslub, tetapi juga membawa narasi politik yang cukup keras: “Sukseskan Munaslub Partai Golkar, Selamatkan Partai Golkar dari Geng Solo.”
Dalam pesan yang beredar itu, nama Ahmad Doli Kurnia Tanjung dicantumkan sebagai calon Ketua Umum (Caketum) sekaligus disebut sebagai tokoh sentral Partai Golkar.
Bahkan, informasi tersebut mencantumkan Hotel Mercure Convention Center Ancol sebagai lokasi kegiatan pada Minggu, 29 November 2026.
Beredarnya seruan tersebut memunculkan spekulasi mengenai adanya ketidakpuasan terhadap kepemimpinan Partai Golkar saat ini. Isu Munaslub yang sebelumnya mungkin hanya menjadi pembicaraan terbatas kini mulai mencuat ke ruang publik dan menjadi bahan perbincangan politik.
Sorotan tajam juga diarahkan kepada Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia. Dalam narasi yang beredar, muncul tudingan bahwa kepemimpinan Bahlil dinilai terlalu dekat dengan kelompok yang dijuluki Geng Solo, bahkan dianggap menjadi kepanjangan tangan kelompok tersebut.
Tudingan ini merupakan klaim yang perlu mendapatkan klarifikasi dari pihak terkait. Namun, munculnya narasi tersebut menjadi sinyal bahwa persoalan kepemimpinan, independensi partai, dan arah politik Golkar sedang menjadi bahan perdebatan.
Golkar bukan partai kecil yang dapat diperlakukan sebagai kendaraan kepentingan kelompok tertentu. Partai berlambang pohon beringin ini memiliki sejarah panjang, jaringan kader hingga daerah, serta tradisi organisasi yang seharusnya menjunjung tinggi mekanisme dan kedaulatan partai.
Karena itu, jika benar terdapat gerakan Munaslub, DPP Partai Golkar perlu memberikan penjelasan terbuka. Jangan sampai dinamika internal dibiarkan berkembang menjadi konflik yang semakin sulit dikendalikan.
Sebaliknya, pihak-pihak yang menyerukan Munaslub juga perlu menjelaskan secara terbuka siapa penggagasnya, bagaimana dukungan kader dibangun, serta apa dasar organisatoris yang digunakan.
Pertanyaan besarnya kini adalah apakah seruan Munaslub tersebut benar-benar merupakan gerakan politik kader di internal Golkar atau sekadar manuver yang memanfaatkan momentum untuk membangun tekanan terhadap kepemimpinan Bahlil?
Publik menunggu penjelasan. Sebab, masa depan Partai Golkar semestinya ditentukan melalui mekanisme organisasi dan suara kader, bukan oleh tekanan kelompok maupun kepentingan politik di luar partai.











