Munaslub Golkar: Gerakan Senyap Gulingkan Bahlil?

Munaslub Golkar: Gerakan Senyap Gulingkan Bahlil?
Foto (Red).
Ikuti kami di Google News

Terasmedia.co Jakarta — Arah angin politik di tubuh Partai Golkar mulai bergeser. Di balik rapat-rapat resmi yang tampak tenang, aroma kudeta perlahan menguar. Isu Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) menguat. Narasinya belum diumumkan terang-terangan, tetapi dinamika internal mulai menunjukkan arah yang mengarah pada pergantian kepemimpinan.

Nama Nusron Wahid muncul sebagai tokoh yang digadang-gadang menggantikan posisi Bahlil Lahadalia, Ketua Umum Golkar saat ini sekaligus Menteri Investasi. Bahlil yang dikenal sebagai loyalis Presiden Jokowi, mulai dinilai tak lagi cocok di era transisi menuju pemerintahan Prabowo-Gibran. Seorang elite DPP Golkar menyebut, “Dia terlalu Jokowi untuk zaman Prabowo.”

Pernyataan itu tidak hanya menyiratkan kritik, tapi juga penegasan bahwa lanskap kekuasaan telah berubah. Loyalitas lama kini bisa menjadi beban politik. Dan di tubuh Golkar, relevansi selalu lebih penting daripada ideologi.

Bacaan Lainnya

Di saat Bahlil mulai kehilangan dukungan, Nusron Wahid hadir dalam gerakan yang sunyi. Ia tidak tampil frontal, tidak menggugat secara terbuka, tetapi aktif menjalin komunikasi dengan tokoh-tokoh kunci di internal partai. Dalam politik Golkar, strategi diam-diam seperti ini seringkali lebih mematikan daripada seruan terbuka. Nusron tidak sedang membangun pencitraan, tetapi kepercayaan. Dan itu, dalam logika politik partai beringin, adalah senjata utama.

Beberapa sumber menyebut bahwa pembicaraan informal terkait Munaslub sudah dimulai. Bahkan nama-nama alternatif Ketua Umum mulai dibicarakan secara terbatas. Pemicu gerakan ini tidak hanya berasal dari dinamika eksternal, tetapi juga evaluasi internal atas kinerja Bahlil: dari persoalan gas melon 3kg, polemik perizinan, hingga lemahnya soliditas struktur daerah.

Golkar bukan partai ideologis. Ia partai kekuasaan. Dan dalam sejarahnya, partai ini selalu piawai menyesuaikan diri. Ketika seorang pemimpin dinilai tak lagi relevan, maka restu elite akan beralih—tanpa perlu keributan.

Jika Munaslub benar-benar digelar, publik akan menyaksikan babak baru politik senyap: bagaimana pergantian pucuk pimpinan bisa terjadi tanpa suara tinggi, hanya lewat kalkulasi dingin dan konsensus tersembunyi.

Kini, Golkar berada di persimpangan. Antara mempertahankan Bahlil—simbol loyalitas masa lalu, atau menyambut Nusron—representasi kompromi terhadap masa depan. Siapa yang akan menang, belum pasti. Tapi satu hal jelas: di Golkar, perubahan jarang terjadi dengan gaduh. Ia datang diam-diam—dan mematikan.

Pos terkait