Puisi ‘Meditasi Batu’ Karya Pulo Lasman Simanjuntak Cocok Untuk Lirik Lagu, Tipografinya Sederhana dan Rapi

Teras Media

- Penulis

Sabtu, 1 Maret 2025 - 09:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Puisi 'Meditasi Batu' Karya Pulo Lasman Simanjuntak Cocok Untuk Lirik Lagu, Tipografinya Sederhana dan Rapi

i

Puisi 'Meditasi Batu' Karya Pulo Lasman Simanjuntak Cocok Untuk Lirik Lagu, Tipografinya Sederhana dan Rapi

Ikuti kami di Google News

Terasmedia.co JAKARTA – Puisi berjudul “Meditasi Batu” karya Pulo Lasman Simanjutak itu cocok untuk lirik lagu, karena tipografinya sederhana dan rapi.

“Dalam puisi ‘Meditasi Batu’ jumlah baris tiap baitnya terdiri dari empat bait, tentu mudah untuk memusikalisasikannya. Seperti puisi-puisi karya Taufiq Ismail yang dinyanyikan oleh Bimbo,” kata Penyair dan Sastrawan Ahmadun Yosi Herfanda kepada wartawan di Jakarta, Jumat (28/2/2025).

Ketika diminta pendapatnya tentang tembang puitik (oleh Komponis Ananda Sukarlan-red) untuk puisi berjudul “Meditasi Batu” karya Penyair Pulo Lasman Simanjuntak yang akan dibawakan dalam sebuah konser (resital) oleh Zoe Hong Yee Huay-seorang mezzo soprano-dari Malaysia di Ledger Recital Room Royal Conservatoire of Scodland Glasgow di Skotlandia, Inggris, Kamis sore tanggal 20 Maret 2025.Konser Zoe Hong Yee Huay tersebut untuk menyelesaikan kuliah S2-nya (ujian akhir) atau Master of Music di RCS Glasgow.

Dikatakan lagi oleh Ahmadun Yosi Herfanda-dikenal sebagai salah satu deklator dan konseptor Hari Puisi Indonesia ini- misalnya “Sajadah Panjang” yang populer itu.

“Jika ingin dilirik oleh musisi untuk dinyanyikan ya buatlah puisi-puisi yang tipografinya sederhana seperti itu. Meskipun sederhana tidak berarti puisi ‘Meditasi Batu’ itu jelek. Puisi yang ditulis Pulo Lasman Simanjuntak tahun 2023 itu bagus dan religius. Juga simbolik. Pesannya mencerahkan,” kata mantan Redaktur Sastra Harian Umum REPUBLIKA ini.

Mungkin karena itu juga yang membuat Komponis & Pianis Ananda Sukarlan memilih puisi berjudul ” Meditasi Batu” karya Pulo Lasman Simanjuntak itu untuk dimusikalisasikan menjadi sebuah tembang puitik.

Patut Diapresiasi

Sementara Prof.Dr.Wahyu Wibowo, Dosen Mata Kuliah Filsafat Bahasa pada Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Nasional (UNAS) Jakarta mengatakan puisi dinyanyikan, dengan topik keagamaan-seperti yang suka kita dengarkan di mana-mana- memang sudah lama kita jumpai, sebagai bagian dari upacara keagamaan.

Bahkan, kemudian para musisi klasik juga kerap kita dengarkan banyak menggubah puisi ke dalam bentuk musik, menjadi suatu tembang puitik yang diharapkan bisa menambah estetik suatu pergelaran.

Lalu, muncul “aksi” musikalisasi puisi (memusikkan puisi), seperti yang pernah disuguhkan oleh Bimbo terhadap puisi karya Taufiq Ismail. Juga, musikalisasi puisi yang disajikan oleh Reda terhadap puisi karya Sapardi Djoko Damono.

Perpaduan yang selaras antara nada (musik) dan estetika bahasa pada sebuah puisi agaknya menyebabkan mengapa puisi kerap dimusikkan oleh komponis.

“Kemanjaan kita pada bunyi musik, dan kesetiaan kita pada pembongkaran “rahasia” puisi, setidaknya menyebabkan mengapa puisi suka dimusikkan. Lagi pula, dari sisi imaji dan teknik pengucapannya, sering kali puisi menjadi lirik yang sudah siap untuk dimusikkan. Bukan lirik yang mendayu-dayu, yang sekadar menggambarkan kisah cinta, misalnya,” ucap Prof.Dr.Wahyu Wibowo, Penyair dan Sastrawan yang telah menulis 50 judul buku sastra, budaya, karya ilmiah, jurnalistik, dan masih banyak lagi.

Menurutnya pantun atau gurindam- dalam lagu-lagu Jawa, yang dimusikkan oleh para komponis melalui gamelan-contohnya, juga pada dasarnya melahirkan estetika bunyi yang mampu menghanyutkan pendengarnya.

Suasana ini, yang juga bisa disebut ekstasi, memang kemudian berpotensi manusia menjadi reflektif (karena dirinya bisa sejenak retret atau berjarak dengan kehidupannya, lalu melakukan perenungan).

“Itu pula yang patut diapresiasi ketika puisi karya Pulo Lasman Simanjuntak, berjudul “Meditasi Batu”, diangkat oleh komponis Indonesia, Ananda Sukarlan, menjadi sebuah tembang puitik, dan lalu dibawakan di luar negeri,” ujarnya.

Di tengah kesedihan tentang betapa kebudayaan asing telah menggerogoti sendi-sendi budaya Indonesia, dan di tengah keprihatinan tentang “nasib” puisi Indonesia di kancah global, puisi berjudul “Meditasi Batu” karya Pulo Lasman Simanjuntak-yang dimusikkan oleh komponis Ananda Sukarlan itu-setidaknya menerbitkan suatu horison baru tentang musikalisasi puisi Indonesia di kancah global. Horison baru yang juga mampu membuat manusia Indonesia melakukan retret.

Kebebasan Penyair

Puisi

Pulo Lasman Simanjuntak

MEDITASI BATU

pada akhirnya
kutikam pertarungan
berulangkali
tanpa belati tajam

amarah manusia lama
meledak
dari lautan
paling dalam

maka harus kuakhiri
dengan meditasi batu
untuk menabur suara ilahi
di tanah berbuah

tanpa harus melirik
tabiat orang lain
karena aku wajib
jadi manusia baru

Jakarta, Selasa 21 Februari 2023

“Puisi ‘Meditasi Batu’ di atas tadi melahirkan pertanyaan menikam pertarungan? Kalau imaji penyair Pulo Lasman Simanjuntak dipahami secara gamblang, agaknya kita akan kesulitan menggambarkan apa yang dikesankan dalam puisi tersebut,” ucap Prof.Dr.Wahyu Wibowo yang dikenal sebagai Penyair dan Sastrawan Angkatan 2000.

Apalagi, kalau kita menjejak pada prinsip ‘kebebasan penyair’, yang oleh karena itu justru menjauhkan kita dengan ‘maunya’ Lasman Simanjuntak.

Juga apalagi jika kita melihat kolokasi lanjutan dari karya puisi Pulo Lasman Simanjuntak “manusia lama”, ” tanah berbuah”, atau “meditasi batu”. Teori apa pun untuk menguak
imaji tersebut pasti gagal, dan karena gagal, maka sajak Lasman Simanjuntak menjadi gagal.

Beruntung, ada prinsip yang mengiringi istilah ‘kebebasan penyair’ itu tadi, yakni prinsip berbahasa yang disebut “verdiktif”, yaitu dampak atau respons estetik yang muncul dari pembacanya terhadap suatu puisi.

” Dalam prinsip ini, dimungkinkan seorang penyair akan tersingkir dari imaji pada sajaknya, karena imajinya diambil-alih oleh pembacanya,” jelasnya.

Dengan kata lain, sajak Pulo Lasman Simanjuntak tersebut akan dikonstruksikan oleh para pembacanya dengan hasil yang berbeda-beda, atau tiap pembaca akan memiliki respons estetis yang berbeda-beda.

Dan, itu amat sah, mengingat awal penciptaan puisi pada umumnya dilandasi oleh imaji (gambaran/bayang-bayang) penyairnya terhadap apa pun yang ada di kepalanya.

Verdiktivitas itulah yang menegaskan bahwa puisi “Meditasi Batu” adalah meditasi yang amat tekun, sangat terfokus, amat serius, sehingga ibarat membatu, yang jika dibandingkan dengan sebuah pertarungan, si aku liris berhasil menguasai meditasinya (teknik relaksasi dalam memusatkan pikiran) dengan menikam/membungkamnya tanpa menggunakan belati.

“Hening. Terpusat. Tidak seperti umumnya orang biasanya bermeditasi yang tanpa hasil.
Pulo Lasman Simanjuntak secara verdiktif, berhasil mencapai puncak ekstasinya. Mungkin, ini juga dipengaruhi oleh pengalaman ekstra literernya sebagai pelayan gereja,” pungkasnya.

Eksistensi Diri

“Puisi ‘Meditasi Batu’ karya Penyair Pulo Lasman Simanjuntak menggambarkan eksistensi diri yang tertutup, sedangkan eksistensi manusia itu selalu terbuka dalam hal hubungan sosial,” ujar Penyair Giyanto Subagio yang sering baca puisi di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB.Jassin, TIM, Jakarta ini.

Sehingga bisa dikatakan puisi tersebut mewakili jiwa sang penyairnya yang sedang dalam proses pendakian jalan spiritual.

Meditasi adalah sebuah proses refleksi diri atau merenung dalam membaca nilai-nilai keilahian atau Tuhan.

Kehidupan adalah sebuah pertarungan, akan tetapi bukan kalah atau menang. Kemenangan sejati adalah ketika manusia sanggup melawan yang ada dalam diri.

Bayangan hitam bisa ditafsirkan sebagai simbol nafsu pada diri manusia. Hal ini tergambarkan dalam pertunjukan wayang. Esensi wayang adalah bayang-bayang. Kayon atau layar hanya media dalam adegan wayang oleh sang dalang.

” Menjadi manusia baru itu artinya harus bebas dan lepas serta merdeka dari penjajahan nafsu. Atau bisa juga disebut menjadi manusia sejati itu harus lepas dari bayangan hitam diri sendiri,” pungkasnya.(Dyt)

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Syahla Ayu Siap Debut Lewat Single Perdana Kurang Ngena
SMAN 1 PANDEGLANG IKUT SERTA DALAM KEGIATAN AOPGI(Asosiasi Olahraga Pendakian Gunung Indonesia)
Kawah Putih Ciwidey, Destinasi Wisata yang Wajib Diabadikan Melalui Media Sosial
Sembilan Wisata Religi Banyak Dikunjungi Penziarah di Banten
Warga Majene Desak Ketua Pengadilan Tinggi TUN Makassar Awasi Perkara Bungadia
Ketum BBP Geram : Minta APH Tanggap Jika Ada Dugaan Pungutan PTSL di Kabupaten Lebak di Luar SK Menteri
Waduh : Baru Pengajuan Pra Pembuatan Sertifikat PTSL Desa Binong di Duga Panitia Sudah Pungut Biaya 250 Ribu
Jadi Polemik di Teluk Naga, Kejari Kabupaten Tangerang Diminta Usut Dugaan Pungli PTSL
Berita ini 9 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 29 Mei 2026 - 10:46 WIB

Syahla Ayu Siap Debut Lewat Single Perdana Kurang Ngena

Minggu, 19 April 2026 - 19:52 WIB

SMAN 1 PANDEGLANG IKUT SERTA DALAM KEGIATAN AOPGI(Asosiasi Olahraga Pendakian Gunung Indonesia)

Jumat, 22 Agustus 2025 - 21:43 WIB

Kawah Putih Ciwidey, Destinasi Wisata yang Wajib Diabadikan Melalui Media Sosial

Jumat, 11 April 2025 - 21:19 WIB

Sembilan Wisata Religi Banyak Dikunjungi Penziarah di Banten

Sabtu, 1 Maret 2025 - 09:00 WIB

Puisi ‘Meditasi Batu’ Karya Pulo Lasman Simanjuntak Cocok Untuk Lirik Lagu, Tipografinya Sederhana dan Rapi

Berita Terbaru

Wisata dan Budaya

Syahla Ayu Siap Debut Lewat Single Perdana Kurang Ngena

Jumat, 29 Mei 2026 - 10:46 WIB