Pramono Sentuh Komunitas ARMY, Prabowo Ingin Perbanyak Konser K-Pop: Jangkauan Pemilih Muda Semakin Kuat

Avatar photo

- Penulis

Kamis, 23 April 2026 - 12:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Keterangan foto: Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung saat menyapa Presiden Prabowo Subianto, Kamis (23/4/2026)

i

Keterangan foto: Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung saat menyapa Presiden Prabowo Subianto, Kamis (23/4/2026)

Ikuti kami di Google News

Terasmedia.co Jakarta – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung baru-baru ini menyampaikan tanggapan terkait usulan penggunaan venue Jakarta International Stadium (JIS) maupun Gelora Bung Karno (GBK) untuk penyelenggaraan konser grup musik BTS, menyusul desakan yang disampaikan oleh komunitas penggemar atau yang akrab disapa ARMY.

Di sisi lain, langkah serupa juga diambil oleh Presiden Prabowo Subianto. Melalui Menteri Luar Negeri Sugiono, pemerintah menyampaikan dorongan agar penyelenggaraan acara-acara konser musik K-Pop di Indonesia dapat terus ditingkatkan jumlahnya.

Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia sekaligus pengamat politik, Arifki Chaniago, menilai bahwa kedua langkah tersebut menunjukkan adanya pergeseran pendekatan politik, di mana isu-isu budaya populer kini mulai menjadi perhatian utama untuk menjangkau kalangan anak muda.

“Hal ini membuktikan bahwa K-Pop tidak lagi sekadar dianggap sebagai hiburan belaka, melainkan telah menjadi pintu masuk yang efektif untuk mendekati dan berkomunikasi dengan pemilih muda. Budaya ini telah melekat kuat dalam ruang sosial dan keseharian mereka,” ujar Arifki pada Kamis, 23 April 2026.

Menurutnya, generasi muda yang terdiri dari kelompok Gen Z dan milenial memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan pemilih dari generasi sebelumnya. Mereka sangat aktif berinteraksi di dunia digital, memiliki ikatan yang kuat dalam komunitas, serta memiliki kedekatan emosional yang tinggi terhadap tren budaya global, termasuk musik dan hiburan asal Korea Selatan.

Dalam konteks tersebut, pernyataan Pramono yang menyentuh soal lokasi konser BTS dinilai sebagai bentuk pendekatan yang berbasis pada nilai-nilai budaya dan emosional. Langkah ini bertujuan untuk membangun kedekatan dengan komunitas penggemar yang dikenal memiliki tingkat loyalitas yang tinggi serta sangat aktif menyebarkan informasi dan pendapat di berbagai media sosial.

“Pendekatan yang dilakukan Gubernur Pramono ini bersifat emosional, berusaha masuk ke dalam dunia dan identitas komunitas yang ada. Tindakan semacam ini tentu akan memicu perbincangan yang luas di kalangan para penggemar,” jelasnya.

Sementara itu, pandangan yang disampaikan oleh Presiden Prabowo memiliki sudut pandang yang berbeda namun tetap sejalan dengan tujuan yang sama. Jika Pramono merespons kebutuhan terkait tempat penyelenggaraan, maka pemerintah justru ingin memastikan kesempatan untuk mengadakan pertunjukan tersebut semakin banyak. Langkah ini juga dinilai bisa menjadi solusi atas berbagai keluhan yang sering muncul di masyarakat, seperti sulitnya mendapatkan tiket atau proses pembelian yang kerap bermasalah.

Lebih jauh, Arifki menilai pernyataan tersebut juga memiliki latar belakang strategis yang lebih luas. Hal ini terjadi bersamaan dengan komitmen kerja sama investasi yang disepakati antara Indonesia dan Korea Selatan, yang nilainya mencapai Rp173 triliun. Dorongan untuk memperbanyak konser ini bisa menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan bilateral kedua negara sekaligus mengembangkan potensi sektor ekonomi kreatif yang memberikan dampak signifikan bagi perekonomian nasional.

“Kalau kita lihat lebih dalam, Gubernur Pramono bertindak sesuai dengan perannya, yakni merespons kebutuhan akan tempat penyelenggaraan acara di wilayah DKI Jakarta. Sementara itu, Presiden Prabowo lebih menekankan pada upaya memperbanyak kesempatan penyelenggaraannya. Namun jika dilihat dari kacamata politik, keduanya memiliki tujuan yang sama: menyadari bahwa komunitas penggemar K-Pop memiliki posisi yang sangat strategis menjelang kontestasi Pemilihan Presiden 2029,” papar Arifki.

Ia menambahkan bahwa pendekatan yang dilakukan ini bukanlah bentuk persaingan yang terbuka, melainkan sebuah upaya untuk menunjukkan bahwa kebijakan dan perhatian yang diambil oleh para pemimpin tetap relevan dengan apa yang menjadi kebutuhan dan kegemaran anak muda. Siapa yang mampu membangun kedekatan tersebut, maka akan lebih mudah mendapatkan perhatian dan dukungan publik.

“Ini juga menandakan adanya perubahan dalam cara berkomunikasi politik. Budaya populer kini menjadi sarana yang semakin sering dimanfaatkan untuk membangun kedekatan dengan masyarakat, terutama di tengah perkembangan era digital yang sangat pesat seperti sekarang ini,” tambahnya.

Meski demikian, Arifki mengingatkan bahwa keberhasilan pendekatan ini tidak hanya ditentukan oleh seberapa sering membahas isu tersebut, tetapi juga tergantung pada konsistensi penyampaian pesan serta kemampuan menghubungkannya dengan kebutuhan nyata yang dirasakan oleh masyarakat luas.

“Bisa saja antusiasme masyarakat hanya muncul saat ada acara atau konser berlangsung. Oleh karena itu, baik Presiden Prabowo maupun Gubernur Pramono harus memastikan bahwa kebijakan yang diambil juga berdampak pada perkembangan industri kreatif secara menyeluruh serta memberikan manfaat yang nyata bagi banyak pihak,” tegasnya.

Dengan semakin besarnya peran pemilih muda dalam menentukan arah politik ke depan, kemampuan memahami dan merespons perkembangan budaya populer diprediksi akan menjadi salah satu faktor kunci yang menentukan keberhasilan dalam mendapatkan dukungan masyarakat.

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Dituduh Olok-olok Kebijakan Prabowo, BGN Beri Penjelasan: Pengadaan Printer Masih Dalam Proses Pemeriksaan
Kritik Parkir Kemenaker: Gedung Pemerintah, Tapi Tarif Rasa Mall
Sidang Kasus Chromebook Ditunda, JPU Sesalkan Sikap Tidak Profesional Penasihat Hukum Nadiem
BGN Beli Printer Rp12 Juta, Padahal Harga Wajar Cuma Rp7–8 Juta
Peringatan 385 Tahun Kabupaten Bandung, Dede Yusuf: Terus Berkembang dan Dijaga dengan Baik
RUU Pemilu: Golkar Tekankan Suara Rakyat Tetap Bermakna, Usulkan Ambang Batas Berjenjang
Aset Lahan Tak Terinventarisasi, Kelalaian Pemprov Banten Penyebab Sengketa Berbiaya Triliunan
Komisi I DPR RI Tekankan Politik Bebas Aktif di Tengah Ketegangan Dunia
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 23 April 2026 - 20:46 WIB

Dituduh Olok-olok Kebijakan Prabowo, BGN Beri Penjelasan: Pengadaan Printer Masih Dalam Proses Pemeriksaan

Kamis, 23 April 2026 - 12:36 WIB

Kritik Parkir Kemenaker: Gedung Pemerintah, Tapi Tarif Rasa Mall

Kamis, 23 April 2026 - 11:21 WIB

Sidang Kasus Chromebook Ditunda, JPU Sesalkan Sikap Tidak Profesional Penasihat Hukum Nadiem

Kamis, 23 April 2026 - 10:56 WIB

BGN Beli Printer Rp12 Juta, Padahal Harga Wajar Cuma Rp7–8 Juta

Kamis, 23 April 2026 - 07:00 WIB

Peringatan 385 Tahun Kabupaten Bandung, Dede Yusuf: Terus Berkembang dan Dijaga dengan Baik

Berita Terbaru

Hukum dan Kriminal

Dituduh Gelapkan Dana Miliaran, Mesak Mambraku Tempuh Jalur Hukum

Kamis, 23 Apr 2026 - 19:14 WIB

Hukum dan Kriminal

Komitmen Bersih dari Halinar, Lapas Ciamis Gandeng APH Perkuat Integritas

Kamis, 23 Apr 2026 - 18:47 WIB