15 Tahun Kebanjiran di Jantung Kota, Warga Kaum Lebak: Pemkab Ke Mana

Avatar photo

- Penulis

Minggu, 11 Januari 2026 - 16:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Keterangan foto: Warga Kampung Kaum Lebak, RT 02 RW 08, Kelurahan Muara Ciujung Barat, Kecamatan Rangkasbitung, Minggu (11/1).

i

Keterangan foto: Warga Kampung Kaum Lebak, RT 02 RW 08, Kelurahan Muara Ciujung Barat, Kecamatan Rangkasbitung, Minggu (11/1).

Ikuti kami di Google News

Terasmedia.co Lebak – Warga Kampung Kaum Lebak, RT 02 RW 08, Kelurahan Muara Ciujung Barat, Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, kembali menjerit. Hampir 15 tahun lamanya, setiap hujan turun, air bercampur lumpur dan kotoran masuk ke rumah-rumah warga. Ironisnya, lokasi permukiman tersebut berada di jantung Kota Rangkasbitung, tidak jauh dari pusat pemerintahan Kabupaten Lebak.

Kondisi ini membuat warga hidup dalam kecemasan berkepanjangan. Selain merusak perabotan rumah tangga, banjir yang terus berulang dinilai mengancam kesehatan dan keselamatan warga.

Ketua RT 02 Kampung Kaum Lebak, Eprijal, menegaskan bahwa persoalan banjir tersebut sudah lama dilaporkan kepada pemerintah daerah. Namun hingga kini, keluhan warga belum juga ditindaklanjuti secara nyata.

“Ini bukan baru satu atau dua tahun, tapi sudah hampir 15 tahun setiap hujan turun rumah warga pasti kebanjiran. Air masuk ke rumah, barang-barang rusak, dan kondisi ini terus dibiarkan,” ujar Eprijal, Minggu (11/1/2026).

Ia mengatakan, pihaknya telah menempuh jalur resmi dengan mengajukan proposal permohonan perbaikan drainase kepada Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Kabupaten Lebak.

“Proposal sudah kami kirim ke Dinas Perkim, dan ditembuskan ke Bupati Lebak, Ketua DPRD Lebak, pihak kecamatan, serta kelurahan. Tapi sampai sekarang belum ada realisasi atau tindakan apa pun,” tegasnya.

Menurut Eprijal, lemahnya fungsi saluran air di wilayah tersebut diduga akibat pembangunan yang tidak optimal, termasuk program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) yang pernah dilaksanakan di kawasan tersebut.

“Program Kotaku pernah masuk, tapi saluran airnya tidak berfungsi. Air justru tersumbat dan banjir semakin parah. Kami mempertanyakan ke mana arah pembangunan dan anggarannya,” katanya.

Ia menilai, pembiaran yang terjadi mencerminkan kurangnya kepedulian pemerintah terhadap warga, terlebih mengingat lokasi Kampung Kaum Lebak berada di kawasan perkotaan.

“Kami ini di tengah kota, dekat dengan pusat pemerintahan. Tapi kondisi kami seperti tidak terlihat dan tidak dianggap,” ujarnya.

Selain kerugian materi, banjir yang terus terjadi juga dikhawatirkan menimbulkan dampak kesehatan akibat air yang bercampur sampah dan kotoran.

“Air kotor masuk ke rumah warga. Risiko penyakit jelas ada. Apakah harus menunggu ada korban dulu baru pemerintah turun tangan?” tandas Eprijal.

Ia pun mendesak pemerintah daerah Kabupaten Lebak agar segera turun langsung ke lokasi dan melakukan perbaikan drainase secara menyeluruh.

“Kami meminta pemerintah tidak hanya menerima laporan dan data, tapi datang melihat langsung kondisi warga dan segera melakukan perbaikan,” katanya.

Keluhan serupa disampaikan Heru, salah satu warga Kampung Kaum Lebak yang terdampak langsung banjir. Ia mengaku sudah lelah dan kecewa dengan kondisi yang tak kunjung berubah.

“Sebelum ada program Kotaku, banjir sudah terjadi. Setelah program itu berjalan, banjir malah makin parah. Kami benar-benar kecewa,” ungkap Heru.

Menurutnya, jika kondisi ini terus dibiarkan, kerusakan bangunan rumah warga tidak dapat dihindari.

“Setiap hujan, air kotor masuk ke rumah. Kalau dibiarkan, rumah saya dan rumah warga lainnya bisa rusak bahkan hancur,” ujarnya.

Heru berharap, pemberitaan yang muncul dapat mendorong pemerintah untuk segera bertindak.

“Kami sudah bosan dengan janji dan pendataan tanpa tindakan. Kami berterima kasih kepada media yang mau mengangkat kondisi kami, dan berharap pemerintah segera memperbaiki saluran air di wilayah kami,” pungkasnya

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Tak Bernyali Berantas Judi Gelper, Kapolda Riau Diminta Evaluasi Jajaran Polres Pelalawan
Anak 16 Tahun di Lebak Diduga Jadi Korban Tindak Pidana Seksual, Polisi Turun Tangan
Bulog Lebak-Pandeglang: Bantuan Pangan Juli dan September Tuntas 100 Presen, Dua Hari Lebih Cepat
Cekcok Berujung Saling Jambak dan Cakar, MS Dilaporkan ke Polsek Kalideres
Konsisten Lakukan Inovasi dan Bangun Sinergi, Bank Banten Raih Radar Banten Award 2026
Anggota DPR Papua Tengah Pertanyakan Transparansi Penertiban Kawasan Hutan di Nabire
Ketua DPRD Kota Serang Turun Tangan Bantu Warga Kasemen yang Butuh Rehabilitasi
Wamena, Papua Muda Progresif Dorong Dialog dan Perlindungan Warga di Tengah Konflik
Berita ini 14 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 20:42 WIB

Tak Bernyali Berantas Judi Gelper, Kapolda Riau Diminta Evaluasi Jajaran Polres Pelalawan

Kamis, 1 Oktober 2026 - 18:59 WIB

Anak 16 Tahun di Lebak Diduga Jadi Korban Tindak Pidana Seksual, Polisi Turun Tangan

Rabu, 30 September 2026 - 11:57 WIB

Cekcok Berujung Saling Jambak dan Cakar, MS Dilaporkan ke Polsek Kalideres

Rabu, 30 September 2026 - 11:22 WIB

Konsisten Lakukan Inovasi dan Bangun Sinergi, Bank Banten Raih Radar Banten Award 2026

Senin, 28 September 2026 - 15:21 WIB

Anggota DPR Papua Tengah Pertanyakan Transparansi Penertiban Kawasan Hutan di Nabire

Berita Terbaru