Jejak Nata Sutisna: Dari Purwakarta, Tunisia hingga Amerika untuk Belajar Membangun Perdamaian

Avatar photo

- Penulis

Minggu, 30 Agustus 2026 - 11:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ikuti kami di Google News

Terasmedia.co PURWAKARTA — Nata Sutisna, pemuda asal Selaawi, Kabupaten Purwakarta, melanjutkan kiprah akademiknya ke Amerika Serikat. Ia kini menempuh pendidikan Master of Arts in International Peacebuilding di Hartford International University for Religion and Peace (HIU), Connecticut, untuk tahun akademik 2026–2027.

Nata mendapatkan beasiswa penuh dari HIU untuk mengikuti program magister tersebut. Program beasiswa itu menyediakan sekitar 10 kursi setiap tahun bagi kandidat dari berbagai negara.

Dalam proses seleksi tersebut, Nata menjadi penerima dari Indonesia dan berkesempatan melanjutkan studi di bidang international peacebuilding, bidang yang berfokus pada upaya membangun perdamaian, mencegah konflik, serta memperkuat dialog di tengah masyarakat yang memiliki latar belakang beragam.

Perjalanan akademik Nata menuju Amerika Serikat terbilang panjang. Ia mengawali pendidikan di SDN 1 Selaawi, kemudian melanjutkan ke MTsN Purwakarta dan MAN 1 Tasikmalaya.

Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, Nata melanjutkan studi sarjana di Tunisia melalui beasiswa dari Kementerian Pendidikan Tinggi Tunisia.

Hampir lima tahun tinggal di Tunisia menjadi pengalaman penting bagi Nata. Selain menjalani pendidikan, ia berinteraksi langsung dengan masyarakat yang memiliki bahasa, budaya, tradisi, serta latar belakang yang berbeda dari Indonesia.

Pengalaman tersebut turut membentuk ketertarikannya pada isu pendidikan, kemanusiaan, keberagaman, dialog, dan perdamaian.

Aktif di Bidang Pendidikan dan Sosial

Sepulang dari Tunisia, Nata melanjutkan aktivitasnya di bidang pendidikan dan sosial. Ia dipercaya menjadi Ketua The Institute of Democracy and Education of Indonesia (IDE Indonesia), organisasi yang bergerak dalam bidang pendidikan, kepemudaan, pemberdayaan masyarakat, dialog, dan kegiatan sosial.

Melalui organisasi tersebut, Nata terlibat dalam berbagai kegiatan pendidikan dan pemberdayaan masyarakat di sejumlah daerah.

Baginya, pendidikan tidak berhenti pada proses pembelajaran di ruang kelas. Pendidikan juga berkaitan dengan bagaimana seseorang memahami dirinya, menghargai orang lain, serta menghadapi perbedaan dalam kehidupan bermasyarakat.

Selain aktif dalam kegiatan sosial dan pendidikan, Nata juga menyampaikan gagasannya melalui tulisan di sejumlah media, termasuk detikNews. Isu yang diangkat antara lain pendidikan, kemanusiaan, keberagaman, kehidupan beragama, dan kebangsaan.

Kini, pengalaman tersebut menjadi bekal Nata dalam menjalani studi di Amerika Serikat.

Di HIU, ia belajar bersama mahasiswa dari berbagai negara dan latar belakang agama. Interaksi tersebut memberinya kesempatan untuk memahami beragam perspektif mengenai konflik, keberagaman, agama, serta upaya membangun perdamaian.

Menurut Nata, perdamaian tidak semata-mata berkaitan dengan penghentian perang atau konflik bersenjata. Perdamaian juga dimulai dari cara manusia berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari.

Cara berpikir, kemampuan mendengarkan, kesediaan memahami perspektif orang lain, serta kemampuan menyelesaikan perbedaan melalui dialog merupakan bagian dari proses membangun perdamaian.

Membawa Nilai Kearifan Lokal

Di tengah pengalaman akademiknya di luar negeri, Nata tetap menjadikan nilai-nilai Indonesia sebagai bagian dari cara pandangnya.

Nilai gotong royong, musyawarah, kebersamaan, dan kemampuan hidup berdampingan dalam keberagaman menjadi nilai yang menurutnya relevan untuk dikembangkan dalam upaya membangun perdamaian.

Sebagai masyarakat yang tumbuh dalam budaya Sunda, ia juga membawa falsafah “silih asah, silih asih, silih asuh” yang berarti saling mencerdaskan, saling mengasihi, dan saling membimbing.

Menurut Nata, nilai tersebut memiliki relevansi dengan upaya membangun masyarakat yang damai.

Silih asah mendorong manusia untuk terus belajar dan memahami perspektif orang lain. Silih asih menumbuhkan kepedulian dan kasih sayang, sementara silih asuh mengajarkan pentingnya saling menjaga dalam kehidupan bersama.

Nilai-nilai tersebut ingin ia terjemahkan dalam gagasan membangun peaceful mindset, yakni pola pikir yang mendorong masyarakat menyelesaikan perbedaan melalui dialog dan menolak kekerasan.

Ingin Kembali dan Berkontribusi di Indonesia

Studi di Amerika Serikat bagi Nata bukanlah tujuan akhir. Ia ingin menjadikan pengalaman tersebut sebagai bekal untuk kembali berkontribusi di Indonesia.

Ia berharap pengetahuan yang diperoleh selama belajar international peacebuilding dapat diterapkan dalam pengembangan pendidikan, kepemudaan, dialog, serta pemberdayaan masyarakat.

Selama berada di Amerika Serikat, Nata juga mulai menggagas pembentukan wadah di Indonesia yang bergerak di bidang nonviolence dan dialog. Gagasan tersebut masih berada pada tahap awal.

“Saya ingin belajar perdamaian bukan untuk mendapatkan gelar, tetapi untuk memahami bagaimana kita membangun masyarakat yang mampu hidup bersama dalam perbedaan,” ujar Nata.

Perjalanan Nata bermula dari Selaawi, Purwakarta, kemudian membawanya ke Tunisia dan kini Amerika Serikat. Lintasan pendidikan tersebut mempertemukannya dengan berbagai budaya dan perspektif kehidupan.

Namun, perjalanan itu tidak membuatnya melupakan daerah asal. Sebaliknya, pengalaman lintas negara tersebut ingin ia jadikan modal untuk kembali membawa pengetahuan dan gagasan bagi Indonesia.

Bagi Nata, perdamaian bukan sesuatu yang hanya dibicarakan dalam ruang akademik. Perdamaian perlu dibangun dalam kehidupan sehari-hari melalui kemampuan untuk berbeda tanpa bermusuhan, berdialog tanpa saling merendahkan, dan menyelesaikan persoalan tanpa kekerasan.

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Anggota Komisi II DPRD Lebak H. Karim Tinjau Pustu Keboncau, Desak Dinkes Segera Fungsikan
Terduga Pelaku Pencurian Lima Motor Diamankan Tim Elang Polsek Sorong Barat
Peresmian Hidroponik dan Budidaya Ikan Air Tawar Lapas Kelas I Medan
 Kajari Mahfuddin Cakra: Media Terpercaya Sahabat Penting Tegakkan Hukum dsn Kedamaian Bersama Rakyat
Dini Hari yang Mencekam di Kalijati: Siswi di Subang Terbangun, Pria Misterius Diduga Sudah Berada di Sisi Tempat Tidurnya
Tanah Bertuan Tanah Adat Desa Nifasi Bukan Milik Negara
Polda Papua Barat Daya Masih Dalami Insiden di Kampung Ainot, Kabupaten Maybrat
Camel Petir Ikut Jumat Berkah Wartawan di Depan Kantor BPN Tangerang
Berita ini 10 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Minggu, 30 Agustus 2026 - 11:33 WIB

Jejak Nata Sutisna: Dari Purwakarta, Tunisia hingga Amerika untuk Belajar Membangun Perdamaian

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 22:28 WIB

Anggota Komisi II DPRD Lebak H. Karim Tinjau Pustu Keboncau, Desak Dinkes Segera Fungsikan

Jumat, 28 Agustus 2026 - 17:38 WIB

Terduga Pelaku Pencurian Lima Motor Diamankan Tim Elang Polsek Sorong Barat

Selasa, 25 Agustus 2026 - 12:05 WIB

Peresmian Hidroponik dan Budidaya Ikan Air Tawar Lapas Kelas I Medan

Senin, 24 Agustus 2026 - 23:29 WIB

 Kajari Mahfuddin Cakra: Media Terpercaya Sahabat Penting Tegakkan Hukum dsn Kedamaian Bersama Rakyat

Berita Terbaru

Nasional

Gus Rozin Ajak Muktamirin Memilih Berdasarkan Hati Nurani

Sabtu, 29 Agu 2026 - 13:56 WIB