Pandeglang — Kondisi Jalan Ciinjuk, Desa Ciinjuk, Kecamatan Cadasari, Kabupaten Pandeglang, kembali menjadi sorotan. Saat hujan turun, sejumlah titik jalan disebut dikepung genangan air, sementara lubang-lubang di badan jalan menjadi sulit terlihat dan membahayakan pengguna jalan.
Pantauan di lokasi pada Sabtu sore, 19 September 2026, menunjukkan kondisi jalan yang berlubang dan licin ketika diguyur hujan. Kondisi tersebut membuat warga harus ekstra berhati-hati saat melintas. Bahkan, warga mengaku tidak jarang pengguna jalan terjatuh akibat lubang yang tertutup genangan air.
Salah seorang warga yang baru pulang berbelanja dari Pasar Cadasari, yang enggan disebutkan namanya, mengatakan kondisi jalan rusak tersebut sudah berlangsung cukup lama dan menjadi bagian dari keseharian warga.

«“Sudah biasa kami menghadapi jalan seperti ini. Kita doakan saja para pejabatnya cepat tobat, jangan sampai ada korupsi, supaya jalan kami bisa diperbaiki,” ujarnya.»
Menurutnya, kerusakan juga terlihat di sepanjang akses Jalan Ciinjuk menuju Kampung Nyoreang. Perbaikan yang dilakukan selama ini dinilai hanya bersifat tambal sulam dan belum menyelesaikan persoalan secara menyeluruh.
«“Hampir setiap hari saya lewat Jalan Ciinjuk, Kampung Nyoreang. Ditambal-tambal saja. Ditambalnya pakai bata, kemudian pakai pasir. Kalau hujan, pasirnya terbawa lagi,” katanya.

Ia juga mempertanyakan perhatian pemerintah terhadap kondisi jalan tersebut. Pasalnya, menurut dia, jalur tersebut kerap dilalui pejabat, baik dari Pemerintah Kabupaten Pandeglang, DPRD, maupun Pemerintah Provinsi Banten.
“Tidak tahu juga, padahal jalan ini sering dilewati pejabat, baik pejabat Pandeglang, DPRD, bahkan pejabat Pemprov Banten. Tapi kondisinya masih seperti ini,” ucapnya.
Kondisi tersebut juga menjadi sorotan karena persoalan infrastruktur jalan merupakan salah satu isu yang kerap masuk dalam agenda pembangunan pemerintah daerah.
Warga mengingatkan bahwa saat kampanye Pilkada Pandeglang 2024, pasangan Raden Dewi Setiani dan Iing Andri Supriadi membawa sejumlah program pembangunan, termasuk perhatian terhadap infrastruktur jalan. Demikian pula Pemerintah Provinsi Banten di bawah Gubernur Andra Soni dan Wakil Gubernur Dimyati Natakusumah yang memiliki agenda pembangunan infrastruktur di wilayah Banten.
“Kalau programnya memang membangun jalan dan memperbaiki infrastruktur, kami berharap jangan hanya menjadi janji. Kami ingin melihat realisasinya di lapangan,” katanya.
Warga juga menyoroti hubungan kekerabatan antara Wakil Gubernur Banten Dimyati Natakusumah dengan Bupati Pandeglang Raden Dewi Setiani. Menurutnya, kondisi tersebut semestinya dapat menjadi momentum untuk memperkuat koordinasi pembangunan infrastruktur di wilayah Pandeglang.
“Apalagi Wakil Gubernur Banten masih keluarga Bupati Pandeglang. Kenapa jalan kami masih rusak seperti ini? Kami hanya ingin jalan yang layak dan aman dilalui,” ujarnya.
Warga berharap Pemerintah Kabupaten Pandeglang dan Pemerintah Provinsi Banten tidak menunggu sampai terjadi kecelakaan lebih serius. Mereka meminta adanya pemeriksaan kondisi jalan, penanganan titik berlubang, serta perbaikan yang dilakukan secara permanen, bukan sekadar tambal sulam yang kembali rusak ketika hujan turun.
Keluhan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa keberhasilan program pembangunan tidak hanya diukur dari pernyataan atau rencana anggaran, tetapi juga dari kondisi infrastruktur yang benar-benar dirasakan masyarakat di tingkat desa.











