Aktivis Milenial: Kompetisi Politik dalam Pemilu Jangan Menjadi Konflik Sosial

Avatar photo

- Penulis

Rabu, 20 Maret 2024 - 20:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Keterangan foto : Koordinator Nasional Himpunan Aktivis Milenial Indonesia (HAMI), Asip Irama, di seminar politik bertajuk Masa Depan Indonesia Pasca Pemilu, Rabu (20/3/2024)

i

Keterangan foto : Koordinator Nasional Himpunan Aktivis Milenial Indonesia (HAMI), Asip Irama, di seminar politik bertajuk Masa Depan Indonesia Pasca Pemilu, Rabu (20/3/2024)

Ikuti kami di Google News

Terasmedia.co Jakarta – KOMPETISI politik, khususnya pilpres, begitu terasa memunculkan konflik horizontal yang berdampak pada kerekatan persatuan bangsa. Pun ketegangan politik Pemilu 2024 sangat mungkin berdampak pada menguatnya polarisasi pada masyarakat.

Hal itu dikatakan Koordinator Nasional Himpunan Aktivis Milenial Indonesia (HAMI), Asip Irama, di seminar politik bertajuk Masa Depan Indonesia Pasca Pemilu: Upaya Wujudkan Rekonsiliasi Bangsa Demi Demokrasi Bermartabat, di Jakarta Timur, Rabu (20/3).

Seminar tersebut dihadiri sejumlah narasumber, antara lain anggota Bawaslu Jakarta Timur Ahmad Syarifudin Fajar dan Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) PB PMII Muhammad Qusyairi.

Asip mengharapkan kompetisi politik dalam Pemilu 2024 tak perlu berlanjut menjadi konflik sosial. Dalam rangka menghindari benih-benih perpecahan dan disintegrasi, ia mendorong semua kalangan untuk berbesar hati membangun upaya rekonsiliasi dan reintegrasi.

“Semua eksponen politik di Indonesia mesti memiliki sikap besar hati untuk kembali membangun keakraban dan harmoni pascapemilu. Agenda rekonsiliasi menjadi upaya untuk merakit kembali biduk keakraban warganegara yang retak akibat persaingan dan perbedaan pilihan politik,” katanya.

Rekonsiliasi, lanjut Asip, memang harus diupayakan terutama oleh kalangan elite untuk membentuk kondusifitas di kalangan akar rumput. Elite politik mesti legawa menempatkan kepentingan keutuhan bangsa di atas kepentingan praksis politik kolegial.

“Bagaimanapun proses politik bernama pemilu tidak akan mampu memuaskan semua pihak. Bahkan bila ada sengketa, prosedur konstitusional memang telah menyediakan ruang sesuai koridor hukum yang berlaku, melaporkan kepada bawaslu tentang sengketa kecurangan atau gugatan ke Mahkamah Konstitusi bila terkait dengan hasil,” tandasnya.

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Deteksi Dini Penyakit, Lapas Bekasi Pastikan Hak Kesehatan Warga Binaan Terpenuhi Layak
6 mahasiswa sudah DO, KJMU Digantung, SIGAP Desak Gubernur Bertindak
 Desil Setan Ancam Putus Kuliah: Ratusan Anak Buruh Jakarta Kehilangan Beasiswa KJMU
Usai Evakuasi 8 Pendaki Wanita, KOPAJA Soroti Persiapan Pendakian
Pentingnya Teknologi bagi Para Kader Bela Negara
Pemkot Tangerang Masuk Daftar Khusus KPK, Ada Apa?
Data adalah Kompas Pembangunan, Adde Rosi: Akurasi adalah Harga Mati
Respon Cepat Kajati: Herlangga Wisnu Gantikan Kajari Karo yang Disorot DPR
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 1 September 2026 - 06:37 WIB

Deteksi Dini Penyakit, Lapas Bekasi Pastikan Hak Kesehatan Warga Binaan Terpenuhi Layak

Senin, 31 Agustus 2026 - 00:40 WIB

6 mahasiswa sudah DO, KJMU Digantung, SIGAP Desak Gubernur Bertindak

Senin, 24 Agustus 2026 - 19:16 WIB

 Desil Setan Ancam Putus Kuliah: Ratusan Anak Buruh Jakarta Kehilangan Beasiswa KJMU

Selasa, 21 Juli 2026 - 21:54 WIB

Usai Evakuasi 8 Pendaki Wanita, KOPAJA Soroti Persiapan Pendakian

Minggu, 5 Juli 2026 - 15:09 WIB

Pentingnya Teknologi bagi Para Kader Bela Negara

Berita Terbaru