LMND dan Petani Lampung Desak Istana Stop Impor Tapioka

Avatar photo

- Penulis

Kamis, 25 September 2025 - 09:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Memperingati Hari Tani Nasional, LMND bersama ratusan petani singkong asal Lampung menggelar aksi di depan Istana Negara

i

Memperingati Hari Tani Nasional, LMND bersama ratusan petani singkong asal Lampung menggelar aksi di depan Istana Negara

Ikuti kami di Google News

Terasmedia.co Jakarta – Memperingati Hari Tani Nasional, LMND bersama ratusan petani singkong asal Lampung menggelar aksi di depan Istana Negara. Aksi ini menyoroti jatuhnya harga singkong, praktik oligopoli dalam industri tapioka, serta kebijakan impor yang semakin memiskinkan petani.

“Situasi petani Lampung hari ini adalah potret nyata keterpurukan petani di Indonesia. Mereka bukan hanya berhadapan dengan harga singkong yang anjlok, tetapi juga tata niaga yang dikuasai segelintir pengusaha besar, pungli di pabrik, hingga impor yang menghancurkan pasar dalam negeri,” tegas Redho Balau, Wakil Ketua LMND Bidang Dalam Negeri, Rabu (24/9/2025)

Petani Lampung membawa sembilan tuntutan, di antaranya: regulasi tata niaga singkong, penghentian impor tapioka, penetapan HET singkong, penghapusan pungli di pabrik, menjadikan ubi kayu sebagai komoditas strategis nasional, hingga mendorong hilirisasi berbasis BUMN.

LMND menilai, problem yang dihadapi petani tidak bisa dilihat sebatas soal pupuk subsidi atau fluktuasi harga. Akar persoalan ada pada ketimpangan struktur agraria. Selama tanah-tanah produktif dikuasai korporasi besar, petani kecil akan tetap berada dalam posisi yang lemah.

“Jalan keluar dari krisis ini adalah Land Reform sejati sebagaimana diamanatkan UUPA No. 5 Tahun 1960. Pemerintah harus segera melakukan pemerataan kepemilikan tanah, membatasi monopoli korporasi, serta membangun industrialisasi pertanian berbasis produksi rakyat. Tanpa itu, kedaulatan pangan hanya jadi jargon kosong,” lanjut Redho.

LMND menegaskan, memperingati Hari Tani Nasional bukan hanya soal mengenang sejarah, tetapi juga momentum menuntut negara memenuhi mandat konstitusi: menyejahterakan petani sebagai tulang punggung bangsa. Hilirisasi dan industrialisasi pertanian tidak akan berarti apa-apa bila land reform tidak dijalankan secara konsisten.

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Marwan Jafar PKB: Perluasan QRIS Harus Diiringi Penguatan Keamanan dan Perlindungan Konsumen
Bank Banten Raih Penghargaan sebagai Popular Brand Kategori Jasa Keuangan Perbankan Daerah
Tanam Mangrove Tak Lagi Sekadar Aksi Hijau, Bali Dorong Blue Carbon Jadi Aset Ekonomi
Komisi XI Tagih Komitmen BI Dorong Lapangan Kerja dan Ekonomi Daerah
Surat dari Ternate: Lily Masita Tomasoa Memohon Keadilan kepada Jaksa Agung
Ketua PW Fatayat NU Ajak Kader Fatayat Aktif Kampanyekan Pariwisata Anyer dan Majukan Ekonomi Kreatif
Menjaga Samudra Tanpa Sekat: Redesign Kewenangan Bakamla dan Urgensi Single Agency Coast Guard
Mayjen TNI Pujo Widodo Apresiasi Keberpihakan Pemerintah kepada Petani
Berita ini 12 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 13:10 WIB

Marwan Jafar PKB: Perluasan QRIS Harus Diiringi Penguatan Keamanan dan Perlindungan Konsumen

Rabu, 30 September 2026 - 21:07 WIB

Bank Banten Raih Penghargaan sebagai Popular Brand Kategori Jasa Keuangan Perbankan Daerah

Selasa, 29 September 2026 - 22:04 WIB

Tanam Mangrove Tak Lagi Sekadar Aksi Hijau, Bali Dorong Blue Carbon Jadi Aset Ekonomi

Selasa, 29 September 2026 - 19:57 WIB

Komisi XI Tagih Komitmen BI Dorong Lapangan Kerja dan Ekonomi Daerah

Selasa, 29 September 2026 - 11:40 WIB

Surat dari Ternate: Lily Masita Tomasoa Memohon Keadilan kepada Jaksa Agung

Berita Terbaru