Calon Jaksa Tewas, Matahukum: Alarm Keras Evaluasi Jambin dan Kabandiklat

Avatar photo

- Penulis

Sabtu, 14 Maret 2026 - 23:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ikuti kami di Google News

Terasmedia.co Jakarta – Kabar duka datang dari lingkungan pendidikan calon jaksa di Badan Pendidikan dan Pelatihan (Badiklat) Kejaksaan RI di Ragunan, Jakarta Selatan. Seorang peserta Pelatihan Pembentukan Jaksa (PPPJ) dilaporkan meninggal dunia setelah sempat menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Adhyaksa, Jakarta.

Korban diketahui berinisial TA, peserta PPPJ angkatan LXXXIII (83) tahun 2026 yang berasal dari Kejaksaan Negeri Muna, Sulawesi Tenggara. Perempuan kelahiran 12 Juni 1999 itu menghembuskan napas terakhir pada Jumat (13/3/2026) pukul 21.59 WIB, setelah menjalani perawatan sekitar dua pekan dengan dugaan gangguan kesehatan terkait kadar gula darah.

Menanggapi peristiwa tersebut, Sekretaris Jenderal Matahukum, Mukhsin Nasir, menyebut kematian peserta pendidikan calon jaksa ini sebagai alarm keras bagi Kejaksaan untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pendidikan dan pelatihan di Badiklat.

Menurut Mukhsin, pendidikan jaksa sejatinya berfokus pada pembentukan cara berpikir, integritas, dan etika penegak hukum. Sementara pembinaan fisik seharusnya hanya sebatas olahraga untuk menjaga kesehatan serta latihan baris-berbaris guna membangun disiplin.

“Pendidikan jaksa itu yang dididik adalah cara berpikirnya. Fisik hanya sekadar untuk olahraga agar sehat dan latihan baris-berbaris supaya melahirkan jiwa-jiwa jaksa sebagai penegak hukum yang humanis, bukan pendekatan militeristik,” ujarnya kepada wartawan, Sabtu (14/3/2026).

Ia menilai kurikulum pendidikan perlu ditinjau ulang, terutama jika masih mengandalkan pendekatan fisik yang berlebihan atau pola pembinaan yang berpotensi memunculkan perundungan terselubung. Kurikulum, kata dia, harus difokuskan pada penguatan karakter, etika, dan keselamatan peserta didik.

Selain itu, Matahukum juga mendorong evaluasi terhadap pimpinan Badan Diklat. Menurutnya, pimpinan lembaga pendidikan harus bertanggung jawab dalam melakukan pengawasan serta memastikan lingkungan pendidikan yang aman bagi seluruh peserta.

“Jika terjadi kekerasan atau pembiaran terhadap praktik-praktik yang tidak sehat dalam pendidikan, maka pimpinan lembaga juga harus dievaluasi,” tutur Mukhsin.

Di sisi lain, Mukhsin juga menyoroti proses seleksi kesehatan sebelum peserta mengikuti pendidikan PPPJ. Ia mempertanyakan hasil pemeriksaan kesehatan yang menyatakan peserta layak mengikuti pendidikan.

Menurutnya, apabila benar terdapat penyakit kronis seperti gangguan gula darah, kondisi tersebut semestinya sudah terdeteksi sejak tahap pemeriksaan kesehatan.

“Kalau penyakit kronis seperti itu, biasanya tidak datang tiba-tiba. Pasti sudah ada sebelumnya. Mengapa tidak terdeteksi dalam pemeriksaan kesehatan,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa proses pemeriksaan kesehatan dilakukan oleh rumah sakit yang berada di bawah koordinasi Jaksa Agung Muda Pembinaan (Jambin). Sementara Badiklat hanya menerima peserta yang telah dinyatakan lulus verifikasi kesehatan.

“Rumah sakit berada di bawah Jambin, sedangkan Badiklat hanya menerima peserta yang sudah dinyatakan sehat. Karena itu evaluasi juga perlu menyasar Jambin,” tutup Mukhsin.

Matahukum juga mendesak agar investigasi atas meninggalnya peserta PPPJ ini dilakukan secara transparan dan terbuka. Jika ditemukan unsur kekerasan atau kelalaian dalam proses pendidikan, ia meminta penegakan hukum dilakukan secara tegas terhadap pihak yang bertanggung jawab.

Penulis : Dv

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Residivis Curanmor Tangerang Ditangkap di Lebak, Polisi Buru Penadah
Matahukum: KPK Harus Periksa Total Pengadaan Batubara Di PLN EPI
Tiga Tersangka Ditangkap, BNN Kepri Sita Ratusan Vape Diduga Berisi Narkoba Jenis Etomidate
Matahukum: Tak Ada Kompromi, Copot dan Periksa Dirjen Planologi
BNN Amankan 10 WNI Positif Narkoba Usai Pulang dari Thailand
Kejagung Tetapkan Tersangka Pihak Swasta Terkait Suap Program MBG
Korban Penganiayaan Soroti Ketidakhadiran Terlapor dalam Agenda Mediasi di Manokwari
Meski Telah Menerima Hasil Audit BPK, Kejari Sorong Akan Periksa Ahli Kemendagri
Berita ini 227 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 16 Juni 2026 - 22:38 WIB

Residivis Curanmor Tangerang Ditangkap di Lebak, Polisi Buru Penadah

Selasa, 16 Juni 2026 - 14:21 WIB

Tiga Tersangka Ditangkap, BNN Kepri Sita Ratusan Vape Diduga Berisi Narkoba Jenis Etomidate

Senin, 15 Juni 2026 - 21:25 WIB

Matahukum: Tak Ada Kompromi, Copot dan Periksa Dirjen Planologi

Minggu, 14 Juni 2026 - 20:10 WIB

BNN Amankan 10 WNI Positif Narkoba Usai Pulang dari Thailand

Kamis, 11 Juni 2026 - 22:25 WIB

Kejagung Tetapkan Tersangka Pihak Swasta Terkait Suap Program MBG

Berita Terbaru

Daerah

Hijrah Fest 1448 H Legok: Rawat Tradisi, Cetak Generasi Emas

Selasa, 16 Jun 2026 - 23:56 WIB

Hukum dan Kriminal

Residivis Curanmor Tangerang Ditangkap di Lebak, Polisi Buru Penadah

Selasa, 16 Jun 2026 - 22:38 WIB