Jakarta – Mantan Wakil Presiden RI, HM Jusuf Kalla, adalah figur yang sangat dihormati di Indonesia. Rekam jejaknya dalam mendamaikan berbagai konflik nasional menjadi bukti kapasitasnya sebagai negarawan.
Namun, tuduhan penistaan agama terhadap beliau justru memicu ketersinggungan di tengah masyarakat. Banyak pihak menilai tuduhan tersebut berlebihan dan tidak berdasar.
Mohamad Rohim, anak muda asal Banten, menegaskan bahwa pernyataan Jusuf Kalla bukanlah bentuk penistaan agama. Hal itu disampaikannya dalam rilis pada 19 April 2026.
“Jangan melebih-lebihkan. Pernyataan Pak JK tidak mengandung unsur penistaan,” tegas Rohim.
Ia juga menyoroti kejanggalan situasi saat ini. Menurutnya, ketika Jusuf Kalla menyampaikan pandangan, termasuk soal isu ijazah Presiden Jokowi, justru beliau yang dilaporkan.
“Ini jadi aneh. Yang membuat gaduh siapa, yang dituduh membuat gaduh siapa,” lanjutnya.
Rohim menilai Jusuf Kalla adalah tokoh bangsa yang dihormati, tidak hanya di dalam negeri tetapi juga di tingkat internasional.
Kunjungan dari Kedutaan Besar Iran menjadi salah satu bukti bahwa beliau diperhitungkan.
Kami Masyarakat Banten, kata Rohim, menyatakan dukungan penuh kepada Jusuf Kalla dan menegaskan pentingnya menjaga demokrasi serta kebebasan berpendapat.
“Indonesia sudah dewasa. Tidak boleh lagi rakyat bersuara malah dilaporkan atau diintimidasi. Jurnalis ditekan, akun media sosial hilang, itu bukan ciri demokrasi sehat,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa Indonesia harus terus maju, bukan mundur.
“Kita harus jelas melihat siapa yang membuat kegaduhan. Jangan sampai terjadi maling teriak maling,” pungkasnya.












