Berkas Empat Kali Bolak-Balik, Kuasa Hukum: Kejati Sulteng Justru Lawan Putusan Praperadilan

Avatar photo

- Penulis

Minggu, 9 Agustus 2026 - 21:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kuasa hukum korban, Moh. Galang Rama Putra, S.H.,CTL.,

i

Kuasa hukum korban, Moh. Galang Rama Putra, S.H.,CTL.,

Ikuti kami di Google News

Terasmedia.co Palu  – Penanganan dugaan mafia tanah di Sulawesi Tengah kembali memicu sorotan tajam. Kuasa hukum korban, Moh. Galang Rama Putra, S.H.,CTL., menyesalkan ketidakhadiran Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tengah dalam Gelar Perkara Khusus yang digelar Polda Sulteng, 5 Agustus 2026. Padahal undangan sudah dikirim lewat surat nomor B/58/VII/RES.7.5/2026/Ditreskrimum tanggal 3 Agustus 2026 dengan jadwal pukul 10.00 pagi.

“Kami berterima kasih pihak kepolisian sudah memproses permohonan gelar bersama. Namun kami sangat menyayangkan JPU tidak hadir. Padahal sebelumnya dikabarkan berkas dikembalikan dan mereka akan ikut gelar. Ini mempertanyakan komitmen penegakan hukum,” tegas Galang.

Ia menyoroti berkas perkara sudah empat kali bolak-balik. Fakta di lokasi mengungkapkan tersangka menyurat langsung ke Kejati Sulteng, yang mengindikasikan adanya komunikasi khusus.

“Klien kami sebagai korban justru tak mendapat perlindungan. Kami sudah menyurat dan datang, namun dikatakan berkas belum dipelajari. Sudut pandang yang diambil justru menguntungkan tersangka, bukan memihak hukum dan korban,” paparnya.

Secara materi perkara, tersangka utama berinisial D beserta Kepala BPN Sigi berinisial J dan dua stafnya (A dan F) telah ditetapkan tersangka. Diduga terjadi pemalsuan surat dan memasukkan keterangan palsu ke dalam akta otentik.

“Anehnya, penasihat hukum tersangka utama dan Kepala BPN Sigi ternyata sama. Ini jelas akal-akalan,” kritik Galang.

Ia juga mempertanyakan sikap Kejati yang justru menganggap perkara ini ranah perdata, padahal putusan praperadilan sudah memutuskan alat bukti penetapan tersangka cukup dan sah.

“Sejak kapan kejaksaan berperan jadi pengadilan? Jika tak bersalah, biarkan hakim yang memutus. Jangan justru melindungi dan melawan putusan hukum,” ujarnya.

Padahal Jaksa Agung dan Surat Edaran Nomor 16 Tahun 2021 menegaskan mafia tanah tak boleh disederhanakan jadi sengketa perdata. Jika ada pemalsuan dokumen, harus dituntut secara pidana. “Di kasus lain bukti lebih sedikit saja sudah dilimpahkan ke pengadilan. Di sini empat alat bukti lengkap malah dihindari,” tandasnya.

Galang menegaskan tidak akan diam. Ia sudah melapor ke Jaksa Agung Muda Pengawasan (Jamwas) dan akan mendorong Komisi III DPR RI mengevaluasi kinerja JPU. “Kami tantang jika ingin mengeluarkan SP3, ayo buka semua bukti ke publik. Biar rakyat lihat siapa yang dilindungi,” ancamnya.

Ia juga menyoroti anehnya tersangka yang masih menjabat dan bebas bergerak bahkan melobi di tingkat pusat, sementara korban justru semakin menderita.

“Satu pesan kami untuk Kajati Sulteng: klien kami adalah korban. Jangan biarkan mereka yang berjuang keadilan tersiksa, sementara pelaku justru dilindungi. Negara tidak boleh kalah, apalagi jadi bagian dari mafia tanah,” tutup Galang.

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Pengamat Politik Agus Angkat Bicara soal Dugaan Penyadapan Prabowo, Minta Dugaan Keterlibatan Ketum Parpol Diusut
Seruan “Selamatkan Golkar dari Geng Solo” Beredar, Wacana Munaslub Kembali Mencuat
Dukung Langkah Kapolri, Tim 8: Penyadapan Hanya untuk Hukum, Bukan Kepentingan Politik
Camellia Panduwinata Lubis: Apresiasi Langkah Pembenahan Polri, Semakin Dekat dan Berkeadilan
Dugaan Penyadapan Terhadap Presiden dan Pejabat Dinilai Ancaman Serius bagi HAM dan Demokrasi
Politisi PKB Mulyadi Tampung Aspirasi Pengusaha Nahdiyin, Dorong Kemudahan Perizinan dan Masuknya Investor ke Pandeglang
Revitriyoso Husodo: Jangan Biarkan Prabowo Sendirian, Suara Rakyat Harus Didengar dan Proses Hukum Dihormati
Camellia Panduwinata Lubis: Hukum Harus Tegas, Bukan Sewenang-wenang
Berita ini 52 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 7 November 2026 - 14:58 WIB

Pengamat Politik Agus Angkat Bicara soal Dugaan Penyadapan Prabowo, Minta Dugaan Keterlibatan Ketum Parpol Diusut

Jumat, 6 November 2026 - 19:50 WIB

Seruan “Selamatkan Golkar dari Geng Solo” Beredar, Wacana Munaslub Kembali Mencuat

Jumat, 6 November 2026 - 11:04 WIB

Dukung Langkah Kapolri, Tim 8: Penyadapan Hanya untuk Hukum, Bukan Kepentingan Politik

Kamis, 5 November 2026 - 15:37 WIB

Camellia Panduwinata Lubis: Apresiasi Langkah Pembenahan Polri, Semakin Dekat dan Berkeadilan

Kamis, 5 November 2026 - 15:11 WIB

Dugaan Penyadapan Terhadap Presiden dan Pejabat Dinilai Ancaman Serius bagi HAM dan Demokrasi

Berita Terbaru

ARIANI DJALAL
Komisaris Independen PT ASDP Indonesia Ferry

Opini

Geopolitik Regional bagi Macan Asia

Sabtu, 7 Nov 2026 - 18:42 WIB