Mencari Duta Budaya, Tapi Penilaian Tak Jelas: Kekecewaan di Balik Abang None Cilik 2026

Avatar photo

- Penulis

Jumat, 3 Juli 2026 - 22:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ikuti kami di Google News

Terasmedia.co Jakarta — Seharusnya menjadi wadah berharga menanamkan kecintaan terhadap budaya Betawi sejak usia dini, namun penyelenggaraan Abang None Cilik 2026 yang digelar Lembaga Kebudayaan Betawi justru menyisakan kekecewaan mendalam. Ajang yang berlangsung puncaknya pada 27–28 Juni 2026 ini kini menyisakan banyak pertanyaan dan keprihatinan dari para orang tua peserta.

Aturan Berubah Sepihak, Waktu Tampil Terpotong

Kekisruhan mulai terasa sejak sesi unjuk bakat, Sabtu 27 Juni. Satu minggu sebelum acara, panitia menyampaikan setiap peserta mendapat jatah tampil tujuh menit. Namun saat hari H, waktu itu dipangkas drastis: hanya tersisa lima menit, bahkan untuk sesi malam ada yang hanya diberi waktu tiga menit.

“Kami sangat sayangkan, penyelenggaraan ini sama sekali belum mencerminkan ajang yang ramah anak maupun profesional. Aturan berubah sepihak begitu saja tanpa penjelasan,” ungkap salah satu orang tua peserta, Jumat (3/7/2026)

Objektivitas Penilaian Dipertanyakan

Kecaman juga datang terkait tim juri yang tidak lengkap saat penilaian berlangsung. Bahkan ada orang tua yang merekam momen tersebut dan mempertanyakan secara langsung bagaimana penilaian bisa adil jika juri belum lengkap di tempat? Hingga kini belum ada klarifikasi apa pun dari pihak penyelenggara.

Belum lagi soal transparansi. Tidak ada indikator penilaian yang disampaikan, sehingga orang tua sulit memahami alur penentuan juara maupun bahan evaluasi bagi peserta yang belum beruntung.

“Puncak keanehan justru saat pimpinan penyelenggara membagikan nomor ponsel pribadinya dari atas panggung, alih-alih menjelaskan kriteria dan rincian nilai yang seharusnya transparan,” ujar orang tua lainnya dengan nada kecewa.

Pertanyaan besar juga muncul dari hasil pemenang kategori usia 5–8 tahun. Tujuannya mencari duta pelestarian budaya Jakarta, namun juara justru diraih dengan penampilan taekwondo—bakat umum yang dinilai tidak selaras dengan misi utama ajang ini.

Anak-anak Diperlakukan Tanpa Empati

Sisi lain yang menyayat hati adalah bagaimana peserta diperlakukan. Tidak ada tempat berteduh yang layak, membuat anak-anak terpaksa menonton di bawah terik matahari. Ada peserta yang urutannya diserobot sepihak dengan alasan mendadak, sementara yang lain rela bersabar menunggu berjam-jam hingga sore tanpa kejelasan.

Di hari kedua, Minggu 28 Juni, terjadi hal yang membingungkan saat sesi tanya jawab budaya. Seorang anak berusia lima tahun yang sudah memiliki pasangan, tiba-tiba harus maju sendirian tanpa penjelasan.

Yang paling menyentuh hati, seluruh peserta dipaksa berdiri berjam-jam di bawah panggung hingga prosesi penobatan selesai—mulai dari pemasangan selendang untuk semua kategori. Banyak anak kecil tampak kelelahan, ada yang hanya bisa berjongkok, bahkan ada yang menangis, namun respon panitia terasa dingin dan acuh tak acuh.

“Anak-anak itu sudah berjuang dan berlatih keras, tapi diperlakukan seolah tidak dihargai,” ungkap orang tua dengan suara bergetar.

Ironisnya, hingga hampir seminggu acara selesai, sertifikat tanda keikutsertaan sebagai finalis pun belum dibagikan kepada satu pun peserta.

“Di momen ulang tahun Jakarta ke-499 yang penuh makna, sungguh disayangkan jika upaya mengenalkan budaya pada anak-anak justru berakhir dengan luka dan ketidakpuasan seperti ini,” pungkasnya. Hingga berita ini disusun, belum ada tanggapan resmi dari pihak penyelenggara.

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Bermunajat Memohon Hujan, Kecamatan Sukadiri Gelar Sholat Istisqa Terkait Kondisi TPA Jatiwaringin
Dinkes Tangerang Terus Pantau Kondisi Warga Terdampak Kebakaran TPA Jatiwaringin
Kebakaran TPA Jatiwaringin Hingga Larut Malam, Asap Tebal Paksa Warga Dievakuasi 
Jejak Dana BOP Ditelusuri, Kejari Geledah PKBM di Kosambi Tangerang
KPK Acungi Jempol SPMB Banten, Praktik “Titip Bangku” Berhasil Ditekan
Tegas! Wabup Intan: Stunting Bukan Tugas Satu Instansi
Kejari Kabupaten Tangerang Musnahkan Barang Bukti 65 Perkara
Adi Kurniawan: Jangan Ada Pihak yang Adu Domba Rakyat demi Program MBG
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 3 Juli 2026 - 22:12 WIB

Mencari Duta Budaya, Tapi Penilaian Tak Jelas: Kekecewaan di Balik Abang None Cilik 2026

Rabu, 1 Juli 2026 - 22:56 WIB

Dinkes Tangerang Terus Pantau Kondisi Warga Terdampak Kebakaran TPA Jatiwaringin

Selasa, 30 Juni 2026 - 23:22 WIB

Kebakaran TPA Jatiwaringin Hingga Larut Malam, Asap Tebal Paksa Warga Dievakuasi 

Senin, 29 Juni 2026 - 23:16 WIB

Jejak Dana BOP Ditelusuri, Kejari Geledah PKBM di Kosambi Tangerang

Sabtu, 27 Juni 2026 - 00:31 WIB

KPK Acungi Jempol SPMB Banten, Praktik “Titip Bangku” Berhasil Ditekan

Berita Terbaru

Keterangan foto : Ucok Sky Kadafi, Kamis (10/10/2024)

Hukum dan Kriminal

Hanya Usut Satu Tahun, CBA Desak KPK Bongkar Sejarah 25 Tahun Blueray Cargo

Jumat, 3 Jul 2026 - 22:24 WIB

Anggota Komisi XIII DPR dari Fraksi PAN, Pangeran Khairul Saleh

Hukum dan Kriminal

Komisi XIII DPR Desak Audit Pengadaan Gembok Rp92,5 Miliar di Ditjenpas

Jumat, 3 Jul 2026 - 21:31 WIB